
Di kediaman keluarga Stuart, Monica sedang menikmati perawatan tubuhnya.
Tuan muda Johnson mengirimkan beberapa orang dari salon kecantikan untuk memanjakan kekasih Monica.
Dari arah luar terlihat wanita paruh baya berjalan kedalam dengan balutan gaun yang begitu anggun.
"Mama." Ucap Monica pada wanita paruh baya itu.
"Wah sayang, apa Louis yang mengirimkan beberapa orang ini untukmu?"
"Tentu saja Ma, besok dia mengajak ku kencan di tempat yang special."
"Wah, kamu memang hebat dan cantik, pantas Louis sangat menyayangimu."
"Hahaha...Oh iya Mama dari mana?"
"Oh Mama habis dari rumah teman."
"Hmm begitu."
"Iya.. Apa Papa mu belum pulang?
"Belum, Papa bilang tidak pulang untuk makan siang."
"Oh begitu. Yasudah Mama akan masuk ke kamar dulu."
"Ma tunggu!"
"Kenapa sayang?"
"Monica ingin bicara dengan Mama."
"Baiklah katakan." Luci duduk disamping kursi Monica.
"Kemarin aku bertemu dengan Jaselyn di restoran, waktu aku dan Louis makan malam."
"Maksudmu, Jaselyn makan malam di restoran itu juga?"
Monica mengangguk "Iya Ma."
"Jadi dia sudah berani muncul. Bagus, Mama dan Papa mu akan memberi dia pelajaran."
"Tapi Ma, disamping Jaselyn ada orang yang membantunya."
"Oh, jadi dia punya su9ar daddy?"
"Ck, Ma. Apa yang mama katakan?"
"Jika bukan su9ar daddy, lalu bagaimana bisa Jaselyn bisa masuk dan makan di restoran besar itu sayang."
"Haahh, Ma yang membantu Jaselyn adalah tuan Dominic. Dominic Alexander."
"Apa!! Ba...Bagaimana bisa?"
"Aku juga sangat terkejut Ma. Dia bahkan berani mengancam Loius dengan perusahaannya, ketika Louis meminta tuan Dominic itu untuk tidak ikut campur."
"Kurang ajar anak si j*lang itu. Harusnya dia ikut mati dengan kedua orang tuanya."
"Lalu apa rencana Mama?"
"Mama akan bicarakan ini dengan Papa mu dulu."
"Iya Ma."
"Sudah, kamu nikmati saja semua ini. Mama akan ke kamar."
__ADS_1
"Iya Ma."
Monica melihat Luci berjalan ke kamarnya.
"Ini sudah ketiga kalinya Mama tidur diluar dan pulang pagi. Sebenarnya apa yang sedang Mama lakukan di luar sana?"
Monica memang sedikit mencurigai Luci, tapi dia juga tidak ingin ikut campur urusan kedua orang tuanya, selagi mereka berdua masih bisa memberikan apa yang dia mau.
Setelah Luci masuk kedalam kamarnya, Monica kembali menikmati pijatan dari karyawan salon.
...----------------...
Di perusahaan milik keluarga William, Sean William sedang melihat siaran ulang berita dimana Robert Stuart telah memutuskan hubungan keluarga dengan Jaselyn.
"Robert Stuart, dia benar-benar orang yang tidak mau berfikir panjang dulu sebelum membuat keputusan." Ucap Sean pelan.
Pintu ruangan di buka, Sean melihat sekertarisnya masuk membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Tuan William, ini adalah dokumen yang perlu anda lihat dan anda tanda tangani. Dan juga ini ada undangan dari perusahaan P Group." Ucap sekertaris William.
Sean William mengambil surat undangan dari sekertarisnya, dengan cermat William membaca surat undangan itu.
"Pesta perayaan perusahaan?" Ucap Sean William.
"Benar tuan, saya dengar perusahaan P. Group berhasil mendapatkan tender yang bagus, dan itu akan berlangsung untuk beberapa tahun kedepan."
William menganggukan kepalanya mengerti.
"Aku akan memeriksa semua dokumen ini dulu, kau bisa keluar sekarang."
"Baik tuan, saya permisi."
Sekertaris Sean William keluar dari ruangan, sekarang didepan Sean William sudah berjejer rapi dokumen yang harus dia lihat.
Tetapi pikirannya tidak pada pekerjaannya, melainkan pada Robert Stuart, yang sudah membuang Jaselyn, orang yang cukup pintar dan cekatan. Namun mungkin Robert tidak pernah mengetahui hal itu.
Sean William lalu mengambil salah satu dokumen yang di berikan sekertarisnya, dan memeriksanya satu persatu.
...----------------...
Gedung itu berada di tengah-tengah kota. Didalam salah satu ruangan tengah duduk empat orang laki-laki mengenakan pakaian yang begitu rapi dan elegan.
Wajah mereka seperti artis yang begitu tampan dan juga sempurna.
"Leon, berikan surat kesepakatannya." Ucap David, salah seorang laki-laki tampan itu.
Leon mengangguk lalu mengeluarkan sebuah map dan meletakkannya diatas meja.
Kedua orang yang ada didepan David dan Leon melihat map itu. Salah satu diantara mereka mengambil map tersebut lalu membacanya dengan teliti.
"Bagaimana?" Tanya David.
"Ini sangat bagus, saya hanya membuat dia mengikuti apa yang kalian inginkan bukan?" Ucap salah seorang laki-laki yang ada di deoan David.
"Benar, untuk uang yang akan diberikan pada orang itu, kami yang akan menyiapkannya. Kau hanya cukup membuat dia melakukan apa yang harus dia lakukan."
"Tentu, ini mudah. Ditambah dia sedang sangat membutuhkan suntikan dana."
"Ya itu benar, terlebih dia rela melakukan apapun demi kekayaan yang dia inginkan.Termausk membuang anaknya." Ucap laki-laki lain.
"Baiklah, jika kalian sudah setuju kalian bisa menandatangani surat perjanjian ini. Sore nanti kalian akan langsung menerima dana yang kalian butuhkan, dan selama satu tahun ini perusahaan kalian akan bekerja sama dengan perusahaan D. Group."
"Baik, kami akan tanda tangan."
Kedua orang itu langsung menandatangani surat perjanjian yang David dan Leon berikan pada mereka tanpa ragu.
__ADS_1
"Baik, karena semuanya sudah di sepakati. Maka kalian tidak boleh gagal. Jika tidak, kalian tahu sendiri bukan akibatnya."
"Tentu, kami akan melakukannya dengan baik, dan membuat kalian senang."
"Iya. Kalau begitu kami akan kembali. Semoga hasilnya memuaskan."
"Pasti, pasti tuan."
Leon dan David keluar dari ruangan itu, mereka melewati para karyawan yang bekerja disana.
"Semua beres, kita akan menunggu hasilnya besok." Ucap Leon.
"Iya. Lalu kita akan kemana sekarang?"
"Tentu saja kembali ke perusahaan. Aku masih mempunyai banyak pekerjaan."
"Leon kenapa kau semakin lama semakin mirip dengan Alex?"
"Setidaknya aku tidak mirip denganmu."
"Apa kau bilang?"
Leon tersenyum berlalu meninggalkan David yang mulai kesal dengan Leon. Leon yang meninggalkan David tahu, jika dia tetap disana,maka David akan terus ribut.
"Kau mau kembali tidak? Jika kau ingin kembali denganku, maka diamlah. Kau benar-benar berisik!" Seru Leon yang sudah berada didalam mobil.
David yang mendengar itu berjalan dan masuk kedalam mobil dengan cepat.
"Ck, menyebalkan."
"Lihat saja suatu saat aku akan memberimu obat per4ngsan9, agar kau sesekali merasakan yang meminta duluan padaku. Dan aku bisa menyiksa mu!"
"berfikirlah baik-baik, badanmu begitu kecil ingin melawanku?Kau berani?" Ucap Leon seraya menatap David tajam.
"Kau kira kau siapa? Kenapa juga aku tidak berani?"
"Iya,iya. Aku malas berdebat denganmu.
Keon menyalakan mesin mobilnya.
" Em Leon." Ucap David.
" Ada apa?"
"Malam ini...."
"Bukankah kemarin kau sudah menikmatinya beberapa kali?"
"Tapi...."
"Malam ini aku akan sibuk."
David diam dna menatap keluar jendela.
Leon melajukan mobilnya dengan cepat menuju D. Group.
Selama perjalanan David maupun Leon tidak saling berbicara, hingga akhirnya mereka samoai di deoan gedung perusahaan.
"Leon." Ucap David.
"Ada apa lagi, kau tidak mau turun?"
"Haahh sudahlah, punya kekasih seperti mu yang mirip seperti Alex, benar-benar membuat ku frustasi."
David membuka pintu mobil dan turun dengan cepat, tak luoa dia menutup kembali pintu mobil dengan cukup keras. Sehingga membuat Leon terkejut.
__ADS_1
"Dia ini. Lihat saja aku akan memberimu hukuman. Karena sudah membuat ku terkejut seperti tadi." Ucap Leon yang masih menatap David berjalan masuk ke dalam perusahaan.