
Didalam mansion Jaselyn terduduk dengan lemas melihat acara televisi yang dia lihat. Dia tidak menyangka jika orang yang selalu dia hormati dan cintai akan membuangnya begitu saja.
4 tahun yang lalu Jaselyn memang sudah tahu dari Monica jika dia hanyalah anak adopsi, tapi walaupun begitu dia selalu melakukan apa yang Robert perintahkan, karena Jaselyn benar-benar menganggap Robert sebagai orang tuanya sendiri.
Tapi hari ini hatinya merasa sangat sakit, keluarga yang selalu dia cintai, orang tua yang selalu dia hormati ternyata bisa dengan mudah menyingkirkannya, hanya karena dia tidak melakukan apa yang Robert inginkan beberapa minggu yang lalu.
"Kenapa... Kenapa kalian memperlakukan aku dengan kejam?Bertahun-tahun aku melakukan apapun untuk kalian,tapi..."
Jaselyn menangis sejadi-jadinya, dia sungguh merasa sesak akan takdir yang dia alami. Hari ini dia merasakan kehilangan sebuah keluarga yang selama ini bersamanya.
Di dunia ini sekarang dia sendiri, dan dia tidak tahu harus melakukan apa.
Jaselyn berdiri lalu berlari menuju kamarnya, dia tidak peduli dengan tatapan penuh tanya para pelayan yang ada didalam mansion.
"Papa, kenapa Papa begitu tega padaku?"
Didalam kamar Jaselyn menangis, dia mengunci pintu kamar dan menutup semua tubuhnya dengan selimut. Dia tidak ingin orang lain mendengar tangisannya.
Dua jam kemudian Alex kembali ke mansion, dia yakin jika Jaselyn sudah melihat apa yang Robert katakan di televisi.
"Dimana Jaselyn?" Tanya Alex pada beberapa pelayan yang ada di mansion.
"Di kamarnya tuan." Jawab salah seorang pelayan.
Dengan cepat Alex berjalan menuju kamar Jaselyn, dia lalu mencoba membuka pintu kamar tapi terkunci.
"Jaselyn buka pintunya, ini aku. Jaselyn." Ucap Alex.
Beberapa kali Alex mengetuk pintu dan memanggil Jaselyn, namun tetap tidak ada tanda-tanda pintu akan di buka.
Karena Alex merasa cemas, akhirnya dia mendobrak pintu kamar itu dan berhasil terbuka dengan dua kali tendangan.
"Jaselyn!" Seru Alex saat dia telah berhasil mendobrak pintu dan masuk kedalam kamar Jaselyn.
Kamar itu terlihat sangat sepi, Alex melihat kesana kemari mencari sosok yang dia khawatirkan. Namun dia tidak menemukannya, saat dia akan berjalan ke kamar mandi, dia melihat sebuah gundukan diatas ranjang.
Dengan cepat Alex berjalan mendekati ranjang, perlahan dia membuka selimut yang ada diatas ranjang itu.
"Jaselyn." Ucap Alex pelan.
Alex melihat Jaselyn meringkuk didalam selimut dengan mata yang sembab, dan bahkan air mata yang ada di pipinya masih tersisa.
"Sepertinya dia menangis sampai tertidur." Gumam Alex.
Dengan lembut Alex menyeka sisa air mata itu lalu mengecup kening Jaselyn.
"Maaf, aku hanya ingin kau tahu seperti apa dirimu didepan keluarga itu. Seberharga apa kamu di mata mereka. Maaf jika ini membuatmu terluka dan kecewa." Ucap Alex.
Alex naik keatas ranjang lalu memeluk tubuh Jaselyn dengan erat, beberapa kali Alex mendaratkan ciuman pada pipi dan kening Jaselyn sebelum akhirnya dia ikut tertidur sambil memeluk tubuh kecil Jaselyn.
****
Sore harinya Jaselyn bangun dan merasakan sebuah tangan tengah melingkar sempurna di pinggangnya. Dengan perlahan Jaselyn menatap pemilik tangan kekar itu.
Ketika tahu siapa orang yang memeluknya, tiba-tiba Jaselyn menangis dan memeluk erat Alex yang masih tidur.
Seketika Alex terbangun karena tubuhnya di peluk begitu erat. Dan Alex mendengar isakan, sebelum dia menyadari jika Jaselyn tengah menangis dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini." Ucap Alex sambil mengusap punggung Jaselyn.
"Ke...kenapa? Kenapa mereka..me..lakukan itu? Apa salah saya?"
Jaselyn terus menangis di pelukan Alex sambil bertanya apa alasan keluarga Stuart membuangnya pada Alex.
Alex tidak bisa menjawab, karena ini memang keinginannya dan demi kebahagiaan Jaselyn juga.
Alex hanya bisa menenangkan Jaselyn agar dia tidak lagi menangis dan tertekan dengan hal itu.
"Mereka tidak mengingikan mu, tapi aku mau sayang. Jadi kamu tenanglah." Ucao Alex dengan lembut.
Jaselyn melepaskan pelukannya lalu menatap lekat kedua mata Alex.
__ADS_1
"Lihatlah mata besar ini? Benar-benar jelek." Ucap Alex.
Jaselyn diam tidak memanggapi candaan dari Alex, dia tengah mencari sebuah kejujuran dalam diri Alex atas apa yang dia katakan tadi.
"Kau...Sungguh..."
Cup
Satu kecupan mendarat mulus pada bibir Jaselyn yang sedikit bengkak karena menangis.
"Kau ingin menanyakan apakah aku serius atau hanya berjanda denganmu, sayang?"
Jaselyn mengangguk pelan dengan ragu-ragu.
Alex tersenyum melihat hal itu, lalu mengecup kening Jaselyn.
"Kau akan tahu jawabannya malam nanti. Sekarang pergilah mandi, lihat pakaian mu sudah siap." Alex menunjuk kearah sofa dimana sebuah dress berwarna biru muda sudah ada disana.
"Kita...mau kemana?"
"Kau akan tahu nanti, sekarang mandilah."
"Bisa..Bisakah saya ti..tidak ikut?"
"Tidak, kau harus ikut."
"Ta...tapi.."
"Tidak ada tapi."
Alex mengecup kening Jaselyn sebelum turun dari ranjang, lalu berjalan meninggalkan Jaselyn didalam kamar.
"Aku benar-benar tidak ingin kemanapun, kepala ku sangat pusing." Gumam Jaselyn sambil memegangi kepalanya.
Dia tahu jika apa yang Alex katakan harus di lakukan, karena dia tidak menerima kata-kata "tidak" jika dia sudah memberi perintah.
Dengan lemas Jaselyn berjalan ke kamar mandi, di bawah guyuran air hangat Jaselyn kembali menangis. Hatinya benar-benar hancur dan sangat kecewa pada keluarga Stuart.
"Kenapa kalian sangat tega terhadap ku, apa salahku pada kakian?" Gumam Jaselyn di tengah isakannya.
Sore itu Alex mengajak Jaselyn kesebuah mall yang cukup besar, mall itu adalah salah satu mall milik Alex yang telah di belinya beberapa bulan yang lalu sebelum orang-orang tahu dia CEO D. Group.
Berbeda dengan Alex yang berjalan dengan santai, namun tetap memiliki aura yang begitu dingin namun mempesona. Jaselyn yang berjalan disampingnya merasa takut dan tidak berani menegakkan kepalanya.
Alex membawa Jaselyn ke sebuah toko pakaian ternama didalam mall itu.
Beberapa pelayan toko datang menyambut mereka, tidak terkecuali manager toko itu yang turut menyambut orang yang sudah terkenal itu.
"Selamat sore dan selamat datang di toko kami tuan Dominic." Siapa manager toko dengan ramah.
"Carikan baju untuknya, tidak terlalu terbuka." Ucap Alex.
Manager melihat kearah Jaselyn dan dia sempat terkejut, namun sedetik kemudian berubah kembali seperti semula.
"Baik tuan saya akan memberikan yang terbaik untuk nona muda Stuart."
Mata Alex menatap tajam kearah manager toko.
"Kau bilang siapa? Nona muda Stuart? Dia bukan lagi anak Stuart tua itu."
"A...Sa..saya minta maaf tuan muda, sa..saya lupa."
"Lebih baik cepat carikan baju untuknya."
"Baik, baik tuan."
Manager dan beberapa pelayan berjalan cepat untuk mencari baju yang sesuai dan yang terbaik untuk Jaselyn.
"Tu..emm...Alex."
"Hmm?"
__ADS_1
"Saya rasa kita lebih baik pulang saja, saya tidak ingin menjadi tontonan banyak orang."
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Jaselyn yang sontak membuat Jaselyn dan orang-orang yang melihat itu terkejut.
"Jangan di pikirkan, kau adalah milikku. Aku tidak peduli apa yang mereka katakan, dan jika ada orang yang berani mengatakan hal yang tidak-tidak tentangmu mereka akan mendapatkan balasannya." Ucap Alex.
Jaselyn hanya diam, bagaimana pun sekarang dia bersama dengan Alex. Di tambah dia sudah setuju menikah dengannya, walaupun perkataan itu tidak terucap dari hati Jaselyn.
"Tuan muda, saya sudah membawa beberapa pakaian yang terbaik untuk nona Jaselyn." Ucap manager toko.
Alex melihat beberapa pakaian sudah tergantung rapi untuk Jaselyn coba.
"Kau pergilah untuk mencoba pakaiannya, aku akan menunggu disini."
Manager toko melihat dengan heran, suara Alex begitu lembut saat berbicara dengan Jaselyn, namun berbeda saat berkata dengan orang lain.
Jaselyn mengangguk pelan, lalu diapun berjalan menuju ruang ganti.
Beberapa menit kemudian Jaselyn keluar mengenakan baju santai, dia berdiri didepan Alex untuk mendapat penilaiannya.
Alex memperhatikan Jaselyn yang baru saja keluar dari ruang ganti, dia mengamati Jaselyn dengan serius lalu menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Ganti yang lainnya." ucap Alex.
Jaselyn dengan penuh tanda tanya berjalan kembali ke ruang ganti, setelah beberapa saat dia pun keluar dan mendapatkan perkataan yang sama dari Alex.
Beberapa baju telah dia coba, entah itu dress maupun gaun pesta. Tapi tidak satupun membuat Alex tersenyum.
"Tu..Tuan muda kami akan..."
"Kirim semua baju yang dia coba tadi ke rumah, juga bawa beberapa baju warna lainnya dengan ukuran yang dia pakai tadi." Ucap Alex memotong perkataan manager toko.
Mendengar itu semua orang yang ada disana tercengang, termasuk Jaselyn.
Semua baju itu masing-masing harganya setara gaji Jaselyn 2 bulan, tapi dengan mudahnya Alex berkata bahwa dia akan membeli semua baju-baju itu.
"Tu...emm... Alex, saya rasa tidak perlu membeli semua itu."
"Tidak apa-apa, bagi ku semua itu tidak masalah. Aku suka melihatmu memakai baju-baju itu."
"Ta...Tapi.."
"Hmm?"
Jaselyn menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan, dia tahu jika dia menolak maka Alex tidak akan suka, dan juga akan membuat Alex marah padanya. Jaselyn tidak mau jika harus mendapatkan hukuman yang menyeramkan dari Alex.
"Tidak apa-apa, kamu bisa biarkan baju-baju itu di lemari jika kamu tidak mau memakainya."
Alex memberikan kartu hitam Limited Edition kepada manager toko dan memberikan alamat rumahnya.
Setelah semua selesai Alex membawa Jaselyn ke toko lainnya, dan kali ini Alex masuk kedalam toko sepatu.
Didalam toko sepatu Alex kembali membuat Jaselyn dan semua orang yang ada disana tercengang, pasalnya dia membeli semua sepatu yang Jaselyn coba, sama seperti di toko pakaian sebelumnya.
"Al... Alex."
"Hmm, ada apa? Kau lapar?"
Jaselyn menggeleng.
"Lalu?"
"Sa...Saya ingin pulang."
"Kau yakin? Kita makan dulu ya."
Jaselyn memberanikan diri menatap Alex, lalu dia mengangguk pelan.
Alex tersenyum melihat sikap Jaselyn yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
__ADS_1