
Seperti yang sudah di rencanakan, Stuart dan sekertarisnya datang ke cabang perusahaan D. Group dimana Jaselyn dan Brian sudah menunggu kedatangan mereka.
Jaselyn sudah memperlajari berkas-berkas yang di berikan oleh Brian mengenai kontrak kerjasama, dan juga kontrak pemindahan sejumlah saham yang akan mereka bicarakan.
Sudah 15 menit Brian melihat Jaselyn yang sangat serius membaca semua berkas, lalu melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 10 pagi.
"Jaselyn, apa sudah kau membaca semua?" Ucap Brian.
Jaselyn manatap Brian, lalu mengangguk dengan yakin menjawab Brian.
"Bagus. Ingat, kau tidak boleh takut sama sekali dengan mereka, aku akan membantumu." Ucap Brian lagi.
"Iya, terima kasih."
Brian mengangguk.
tok tok tok
Setelah beberapa kali ketukan, pintu ruangan terbuka.
"Tuan muda kedua, nyonya Jaselyn. Tuan Stuart dan sekertarisnya sudah datang dan menunggu diruang rapat." Ucap sekertaris Brian.
"Terima kasih paman." Ucap Brian.
Brian menatap Jaselyn, "Ayo kita bersenang-senang."
Brian berdiri dan berjalan keluar ruangan, di susul oleh Jaselyn dan sekertarisnya di belakang.
Sementara itu didalam ruang rapat, Robert Stuart sedang berbicara sesuatu dengan sekertarisnya.
Ceklek
Pintu ruang rapat yang berukuran cukup besar terbuka, Robert dan sekertarisnya manatap kearah pintu itu dan segera berdiri.
Saat ini mereka belum tahu siapa pemilik perusahaan yang saat ini mereka injak, jadi mereka bersikap sangat sopan.
__ADS_1
Brian, Jaselyn dan sekertarisnya yang bernama paman Ken berjalan masuk kedalam ruang rapat.
Kedua mata Robert Stuart terbuka lebar saat melihat dua orang yang berjalan mendekatinya.
"Ka.... Kalian? Sedang apa kalian disini? Kau Jaselyn! Anak tidak tahu terima kasih, kenapa kau disini?" Seru Robert pada Brian dan Jaselyn.
Robert sangat ingat dengan Brian, karena ketika di pesta pertunangan puyri keluarga William, Robert menatapnya dengan tajam, di tanbah lagi Brian adalah adik dari Dominic Alexander.
"Silahkan duduk tuan Stuart." Ucap Ken, sekertaris Brian.
"Maaf tuan Ken, apa yang sudah CEO anda pikirkan? Kenapa dua orang yang tidak penting ini ada disini?" Ucap Robert Stuart dengan nada yang menghina pada Brian dan Jaselyn.
"Orang yang tidak penting? Maksud anda tuan muda kedua Dominic dan nyonya Jaselyn?"
"Benar benar, tuan muda ke... Apa? Anda tadi berkata dia siapa?"
"Ehem. Baiklah tuan Stuart, saya akan memperkenalkan dua orang ini kepada anda. Ini adalah tuan muda kedua Dominica ini adalah nyonya Jaselyn, dan nyonya Jaselyn adalah CEO dari cabang perusahaan ini."
"Maksud... Maksud anda, pe..perusahaan ini milik..."
"Benar tuan, ini adalah salah satu cabang perusahaan D. Group milik keluarga Dominic yang berada di negara ini."
"Kalian menipuku! Kalian sengaja melakukan ini padaku!" Seru Robert Stuart.
"Maaf tuan Stuart, di kontrak ini anda sendiri yang sudah menandatanganinya. Dan anda juga pasti sudah membaca semua isi berkasnya bukan? Atau.... Jangan-jangan anda sama sekali tidak melihatnya dengan cermat karena hanya melihat nominal yang tertulis di berkas ini." Ucap Brian dengan nada begitu santai.
Benar, apa yang Brian katakan memang benar. Stuart memang tidak membaca semua poin-poin yang ada di setiap lembar kontrak kerjasama itu. Bahkan tulisan "Cabang perusahaan D. Group akan mengambil alih saham dari perusahaan Stuart Entertainment sebesar 30%. Dan akan memberikan uang sebesar 5M kepada perusahaan Stuart Entertainment sebagai gantinya." Tidak Stuart baca sama sekali.
Di pikiran Stuart saat itu adalah setelah menandatangani surat perjanjian, dia akan mendapatkan uang yang di janjikan.
Tapi siapa yang menyangka jika dia yang pernah menolak Leon, sekertaris pribadi Alex, kini malah jatuh melalui cabang perusahaan lain yang Alex miliki.
Di tambah cabang itu di pegang oleh Jaselyn, yang tidak lain adalah anak yang telah dia buang.
"Tidak mungkin, kalian menipuku!" Kembali Robert Stuart berteriak.
__ADS_1
Brian menyenderkan tubuhnya sambil melihat Stuart dengan tatapan meremehkan. Sementara Jaselyn yang duduk disamping Brian hanya diam melihat reaksi dari orang yang dulu mengadopsi dan membuangnya.
"Jika anda tidak percaya, silahkan anda lihat sendiri. Bahkan anda memberikan stempel anda di surat itu." Ucap Brian
Stuart yang di buat tidak percaya membuka kembali surat perjanjian pemindahan saham, yang sudah dia tandatangani sebelumnya.
Lembar demi lembar dia baca, dan di lembar ketiga dia menemukan poin dimana cabang perusahaan D. Group akan mengambil 30% saham milik perusahaan Robert Stuart, yang akan di ganti oleh uang sebesar 5M itu.
Dengan tampang geram Stuart meremas berkas yang telah dia baca itu. Robert Stuart menatap tajam Jaselyn yang duduk disamping Brian.
"Jaselyn! Kau, kau juga ada di balik ini semua bukan?" Ucap Robert Stuart.
Jaselyn hanya diam, dia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Walaupun sekuat tenaga dia mencoba bertahan agar tidak takut didepan Robert, namun tidak bisa dia pungkiri jika saat ini tubuh Jaselyn sedikit gemetar akibat seruan keras Robert Stuart padanya tadi.
"Jaselyn Stuart! Aku sudah membesarkanmu selama lebih dari 20 tahun. Dan kau membuatku seperti ini! Tidak tahu di untung, harusnya aku membiarkanmu mati tenggelam dulu!"
Stuart berteriak menc4ci Jaselyn, dia mengira semua adalah rencana Alex dan juga Jaselyn.
Tangan Jaselyn mengepal kuat, keringat dingin keluar dengan sendirinya membasahi tangan dan juga pakaian yang Jaselyn kenakan.
Brian melihat ketakutan yang di alami oleh Jaselyn, lalu menatap tajam Stuart yang wajahnya kini telah berubah merah padam karena emosi.
"Tuan Stuart, semua tidak ada kaitannya dengan Jaselyn. Perusahaan ini di berikan padanya oleh kakak ku, setelah kita sama-sama telah menandatangani surat perjanjian itu."
"Omong kosong! Jika memang begitu, Jaselyn Stuart! Kau harus mengembalikan kembali semua kerugian perusahaanku. Apa kau dengar Jaselyn Stuar?"
Tangan Jaselyn semakin kuat mengepal setiap kali Robert Stuart memanggil namanya dengan nama keluarga Stuart itu, dia merasa jika dia hanyalah batu loncatan yang tidak akan pernah terlihat oleh Robert Stuart.
"Jaselyn Stuart! Kau...."
"CUKUP!" Ucap Jaselyn dengan keras.
Jaselyn yang sejak tadi diam berteriak sambil berdiri, dia lalu menatap Stuart dengan tajam seperti mata elang yang tengah mengintai mangsanya.
Brian sedikit terkejut melihat perubahan Jaselyn, dia mengira wanita itu akan diam dan membiarkan Robert Stuart terus berteriak padanya.
__ADS_1
"Kau..."
"Ya tuan Robert Stuart, saya Jaselyn! Seorang anak perempuan yang pernah anda ambil dari panti asuhan 20 tahun yang lalu. Saya yang selama lebih dari 10 tahun telah anda abaikan karena anda, dan istri anda lebih memilih memanjakan putri kandung anda sendiri."