Cinta CEO Yang Terlambat

Cinta CEO Yang Terlambat
Part 41


__ADS_3

Setelah saham dua perusahaan itu di beli oleh Alex, sedikit demi sedikit Brian mencoba menggunakan kesempatan itu untuk membuat sistem keamanan di perusahaan itu rusak.


Sementara itu, perusahaan palsu yang di buat Alex telah berhasil membuat perusahaan Abraham cukup kesulitan. Sehingga mereka tidak bisa membantu perusahaan keluarga William yang tengah goyah untuk beberapa saat.


Brian yang terus berusaha masuk kedalam sistem keamanan perusahaan milik keluarga William, telah menuai hasil yang memuaskan. Dia berhasil menerobos sistem keamanan itu.


Dengan teliti Brian mencari bukti penyimpangan perusahaan itu, seperti pengiriman barang terlarang, penggelapan pajak,dan yang lainnya.


"Tuan muda kedua, kami menemukannya." Ucap salah seorang hack3r yang membantu Brian.


Brian melihat apa yang di dapat oleh bawahannya. Senyum tipis terukir di bibir Brian.


"Laura, nikmati hari-hari bahagiamu dulu." Ucap Brian dengan dingin.


Brian melihat lagi semua bukti yang sudah terkumpul.


"Simpan semuanya dengan baik, buat copy an berkas ini. Kita akan membawa ini ke kantor polisi, dan aku akan memberitahu kepada semua orang di hari kebahagiaan dua keluarga itu nanti."


"Baik, tuan muda kedua."


Beberapa orang yang membantu Brian melakukan perintah Brian.


Saat ini Brian seolah menjadi Alex kedua, sifat pendendam yang dulu tidak pernah di perlihatkan, kini terlihat sangat jelas.


Mungkin karena dia sudah merasa sangat di hina dan sakit hati terhadap keluarga William, jadi sifat yang dulu terpendam sekarang sudah bangkit.


...----------------...


Di mansion, Jaselyn duduk sambil menatap berkas yang telah dia baca. Berkas mengenai saham perusahaan Stuart yang sudah Alex beli.


Jaselyn benar-benar tidak tahu harus bagaimana, Alex memberikan kepercayaan untuk mengurus saham itu. Tetapi yang membuat Jaselyn sulit menerimanya adalah, dengan saham itu dia harus membuat perusahaan Stuart hancur.


"Jaselyn."


Jaselyn menoleh, di lihatnya Alex yang sudah mengenakan piyama dan berjalan mendekat.


"Bagaimana?" Tanya Alex sambil duduk disamping Jaselyn.


"Alex ini...."


"Aku berjanji padamu tidak akan melenyapkan keluarga itu. Tapi aku akan membuat mereka merasakan kehidupan yang dulu aku rasakan, dan kau. Kau yang akan melakukannya."


"Ta...Tapi.."


"Anggap kau membalas apa yang sudah mereka lakukan padamu selama ini." Ucap Alex memotong perkataan Jaselyn.


Jaselyn melihat kembali berkas itu, apa yang Alex katakan mungkin benar. Sudah sejak lama Jaselyn ingin membalas mereka, tetapi hatinya menolak karena waktu itu mereka masih keluarganya.


"Ingat, mereka bukan lagi keluargamu. Mereka sudah membuangmu demi uang 500 juta." Ucap Alex lagi.


Mendengar itu tiba-tiba kedua mata Jaselyn berkaca-kaca, dia masih tidak menyangka jika yang selama ini dia hormati dan dia banggakan sebagai kepala keluarga, ternyata telah tega membuangnya demi uang.


Melihat Jaselyn yang berubah sedih, Alex menarik tubuh wanita yang di cintanya itu dan memeluknya erat.


"Ada aku disini, kau tidak akan pernah sendiri. Buang semua ingatan tentang mereka." Ucap Alex dengan lembut.


Jaselyn mengangguk pelan dan membalas pelukan Alex.


"Maaf."Ucap Jaselyn.


"Kau tidak salah apapun."


"Tidak, walaupun aku tidak bersalah aku tetap harus minta maaf, karena tidak bisa mengambil jalan dengan tegas untuk membalas mereka."


Alex tidak menjawab, dia lebih memilih menenangkan Jaselyn dengan memeluknya lebih erat dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


Setelah Jaselyn merasa lebih tenang, Alex melepaskan pelukannya lalu menatap Jaselyn.

__ADS_1


"Jadi apa keputusanmu, hm?" Tanya Alex.


"Aku... Aku akan melakukannya."


"Kau bersungguh-sungguh?"


"Iya. Kau sudah melakukan banyak hal untukku, dan mereka sudah sering membuatku putus asa."


"Baiklah, Brian akan membantumu."


"Brian... Adikmu?"


"Iya."


"Tidak... tidak bisakah Leon atau David yang membantuku?"


"Tidak, mereka punya tugas sendiri."


"Tapi...."


"Tidak ada tapi. Sudah, sekarang kamu mandi dulu."


Jaselyn menununduk, dia berjalan menuju kamar mandi dengan lemas. Itu karena Brian akan membantu dirinya, dan yang membuat Jaselyn tidak ingin di bantu oleh Brian adalah karena mereka pernah mempunyai kesalah pahaman.


Alex sengaja membuat Jaselyn dan Brian bekerja sama, karena kelak mereka akan sering bertemu. Jadi Alex ingin mereka lebih terbuka dan menghilangkan rasa ketidak sukaan mereka.


"Dasar anak kecil." Gumam Alex.


Alex mengambil dan melihat berkas yang tadi di baca oleh Jaselyn.


"Robert, kita lihat berapa lama lagi kau akan bertahan, dan aku ingin lihat seberapa kecewanya dirimu melihat anak yang telah kau adopsi dulu, menghancurkan kehidupanmu dan juga keluarga mu."


Tak berapa lama Alex melihat Jaselyn keluar dari kamar mandi dengan mengenakan set piyama dengan celana pendek.


Seperti biasa, kedua mata Alex melihat tubuh putih Jaselyn itu dengan int3ns. Seolah sedang m*nelanj4ngi tubuh kecil itu.


"Kemarilah." Ucap Alex sambil menepuk sofa yang ada disampingnya.


Setelah Jaselyn duduk, Alex langsung memeluk pingg4ng rampingnya, dan m*nciumi aroma tubuh* Jaselyn yang baru selesai mandi.


"Kau sangat harum, sayang." Ucap Alex dengan suara seraknya.


Hembusan nafas Alex pada leh3r Jaselyn saat Alex berbicara, membuat darah Jaselyn berdesir dan jantungnya berdetak sangat cepat.


Dengan lembut Alex membel4i pipi Jaselyn dan tanpa ragu Alex mulai m*nciumi* leh3r Jaselyn.


Mendapatkan perlakuan itu, Jaselyn hanya bisa mengeluarkan suara indahnya.


Mendengar l3guhan* kecil yang keluar dari bibir Jaselyn, membuat Alex tersenyum lalu menyudahi ciumannya pada l3her Jaselyn.


"Kita makan malam dulu sayang, kau akan membutuhkan banyak tenaga untuk bermain nanti. Dan aku tidak mau kau pingsan di tengh permainan." Ucap Alex.


Wajah Jaselyn langsung memerah mendengar perkataan Alex yang menurut Jaselyn sangat m'sum itu.


"Kau sangat manis saat merona seperti itu. Ayo kita turun." Ucap Alex lagi.


Jaselyn mengangguk pelan, sementara saat ini tangannya masih di genggam erat oleh Alex, mereka pun keluar dari kamar bersama.


Di lantai bawah ternyata sudah ada Brian, yang tanpa Alex ketahui jika dia akan datang ke mansion.


"Brian." Ucap Alex.


Mendengar suara Alex, Brian berdiri dan melihat kakaknya dan juga Jaselyn.


Mata Brian sedikit menajam saat melihat Jaselyn, dan tentu itu membuat Jaselyn merasa tidak nyaman juga sedikit takut, sehingga dia melangkah mundur dan bersembunyi di belakang tubuh Alex yang kekar.


Merasa jika Jaselyn takut pada Brian, dia mencoba menenangkan Jaselyn dengan mengusap punggung tangan Jaselyn dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa kau kesini Brian?" Tanya Alex.


"Aku ingin memberitahu kakak sesuatu."


"Makan malamlah dulu disini, setelah itu baru kita bicarakan."


"Baiklah."


Mereka bertiga berjalan ke ruang makan, disana Brian melihat Jaselyn duduk diam seperti seorang anak yang telah dimarahi oleh orang tuanya.


"Kau, Jaselyn." Ucap Brian.


"Ah..I..Iya."


"Haahh. Apa aku semenakutkan itu? Kau membuatku seperti aku sedang membully mu didepan kakakku."


"Kau kan memang begitu." Ucap Jaselyn pelan.


"Apa?"


"....."


Alex yang melihat itu hanya membiarkan mereka saling bicara, walaupun terdengar seperti dua anak kecil sedang bertengkar tetapi Alex hanya diam.


"Katakan kau tadi bilang apa?" Ucap Brian lagi.


"Kau...Kau..."


"Apa?"


Jaselyn menghela nafas panjang dan mencoba menatap Brian.


"Kau memang seperti itu padaku. Kau adalah senior yang suka membully ku di kampus." Ucap Jaselyn dengan suara sedikit keras dan berani pada Brian.


"Membully? Dimana aku mebully mu dan kapan?"


"Ketika aku pertama kali masuk kuliah, saat ada perkenalan lingkungan universitas. Kau.... Kau dan teman-temanmu membully ku."


Brian dan Alex diam seketika. Mereka berpikir jika Brian sudah benar-benar melakukan hal yang lain.


"Astaga jadi itu?" Ucap Brian.


"Lalu apa? Kau seenaknya menyuruh aku berjalan jongkok, menari dengan yang lainnya. Sementara kalian malah tertawa."


Jaselyn merasa sangat kesal saat mengingat kejadian itu, dan merasa jika Brian adalah orang yang suka marah-marah tidak jelas. Dan saking kesalnya, Jaselyn sampai mengerucutkan bibirnya.


Melihat itu ingin sekali Alex ******* bibir tipis Jaselyn yang benar-benar menggemaskan.


"Baik-baik aku minta maaf, kau mungkin salah paham padaku. Saat itu aku menjadi ketua ospek. Dan aku tentu harus memberikan kesan pada mahasiswa baru." Ucap Brian.


"Kesan yang menyeramkan?"


"Hahaha, apa aku begitu seram?"


"Tentu saja."


"Jika hanya begitu saja di bilang seram, lalu bagaimana dengan kak Alex?"


Jaselyn terdiam. Yang di katakan Brian benar, isini yang paling menyeramkan adalah Alex, bahkan Jaselyn sendiri hampir mati karenanya.


"Ehem. Sudah cukup kalian ribut. Kita makan sekarang." Ucap Alex mencoba mencairkan suasana.


Alex lalu mengambilkan beberapa makanan untuk Jaselyn.


Melihat itu mata Brian terbuka lebar, selama ini selain pada ibu dan dirinya, Brian tidak pernah melihat Alex memperlakukan orang lain dengan lembut seperti saat ini pada Jaselyn.


"Kenapa, kau tidak mau makan?" Tanya Alex pada Brian.

__ADS_1


"Tidak, tidak, aku akan makan kak."


Mereka bertiga pun menikmati makan malam dengan tenang.


__ADS_2