
Setelah memilih gaun pengantin kemarin, hari ini Jaselyn di buat bingung oleh Alex. Karena Alex memintanya untuk memilih salah satu contoh undangan untuk pernikahan mereka.
Selain itu, Alex juga meminta Jaselyn untuk memilih lokasi, dan model dekorasi ruangan pernikahan mereka nanti.
"Apakah dia ingin membunuh ku dengan cara seperti ini?" Ucap Jaselyn sambil memegangi kepalanya yang pusing, setelah melihat lebih dari 100 contoh undangan di layar laptopnya.
Jaselyn tidak tahu mana yang bagus menurutnya, karena dia sendiri tidak pernah mendapatkan undangan dari siapapun.
"Lebih baik aku bertanya pada Brian saja, dia cukup mengerti hal ini." Ucap Jaselyn lagi.
Jaselyn pun berjalan keluar kamar dan menuju ruang keluarga sambil membawa laptopnya.
"Brian." Ucap Jaselyn yang melihat Brian akan keluar.
Brian menoleh, "Ada apa?"
"Apa kau akan keluar?"
"Iya."
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Brian mengerutkan keningnya, lalu berjalan mendekati Jaselyn.
Jaselyn yang melihat Brian mendekat, meletakan laptop yang dia bawa ke atas meja.
"Ada apa?" Tanya Brian.
"Aku ingin bertanya padamu tentang undangan ini, aku tidak tahu mana yang bagus."
Jaselyn menunjukan contoh undangan yang ada pada layar laptopnya.
Brian menatap laptop milik Jaselyn.
"Itu adalah undangan pernikahan mu dan kak Alex. Dia ingin kau yang memilih, artinya dia ingin kau membuat pilihan dari hatimu."
Jaselyn terdiam, "Aku belum pernah mendapatkan sebuah undangan, karena dulu jika aku mendapatkan undangan Monica dan ibunya akan membakar atau merobeknya. Jadi.... Aku sama sekali tidak tahu mana yang bagus dan tidak."
Brian menatap Jaselyn, "Kalau begitu, kau bisa mencarinya bersama dengan kak Alex saat dia kembali. Dia pasti akan mengerti."
"Tapi...."
"Dengar, jika aku membantu mu memilih undangan itu dan kakak mengetahuinya, bukan hanya kau yang di marahi oleh kakak, tetapi aku juga."
Jaselyn menundukan kepalanya. Semua yang di katakan oleh Brian benar, mengingat sifat Alex, Jaselyn yakin bukan hanya marah saja. Tetapi Alex pasti akan menghukumnya.
(Kalian pasti tahu hukuman apa itu ðŸ¤)
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada Alex nanti." Ucap Jaselyn.
Brian mengangguk, "Iya."
Tanpa memperdulikan wajah murung Jaselyn, Brian keluar meninggalkan rumah itu.
"Kenapa kakak beradik di keluarga Dominic ini memiliki sifat yang mirip, benar-benar membuat ku ingin mengikat mereka bersamaan di bawah pohon." Gumam Jaselyn yang melihat Brian keluar dari rumah dan menghilang di balik pintu.
Jaselyn duduk dan kembali menatap layar laptopnya untuk melihat lagi contoh undangan itu.
...----------------...
"Bagaimana, apa semuanya berjalan dengan lancar?" Ucap Alex pada Leon.
"Benar tuan, saat ini kita telah berhasil menjalin hubungan kerja sama dengan dua perusahaan dari luar negri. Dan itu membuat harga saham perusahaan kita naik 3 poin, beberapa investor juga banyak yang tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan kita."
"Bagus, aku ingin lihat mereka yang dulu meremahkan kita dan tidak mau bekerjasama dengan perusahaan ini merasa sangat menyesal."
"Iya tuan. Dengan hubungan baik perusahaan kita dan kedua perusahaan luar negri itu, perusahaan yang telah menolak bekerjasama dengan kita pasti akan menyesal."
Alex mengangguk, "Apa kau sudah mendapatkan daftar orang yang akan aku undang untuk datang ke pernikahan ku dan Jaselyn nanti?"
"Sudah tuan, saya akan memberikan salinan orang-orang itu kepada anda segera."
"Bagus."
"Tidak perlu, aku sudah meminta dia untuk memilihnya sendiri. Karena aku ingin mewujudkan pernikahan yang dia inginkan."
Leon hanya mengangguk mendengar ucapan tuannya.
"Jika begitu saya akan kembali ke meja saya."
"Iya."
Leon berjalan keluar dari ruang kerja Alex, untuk mengurus pekerjaannya yang lain.
Alex berjalan laku berdiri di depan kaca besar di ruang kerjanya.
"Perlahan namun pasti, semua kebahagian yang telah di rebut oleh mereka, telah aku dapatkan. Bahkan aku akan menikahi wanita yang tidak ku duga sebelumnya." Ucap Alex sambil menatap beberapa gedung perusahaan lain yang ada di depannya.
Alex berjalan keluar dari ruang kerjanya, "Aku akan kembali, jika ada sesuatu hubungi aku." Ucap Alex pada Leon.
"Baik tuan. Ah benar, ini adalah daftar nama yang perlu anda undang, tuan."
Leon memberikan dua lembar kertas berisi daftar nama orang-orang yang harus di undang pada pesta pernikahan nanti, pada Alex.
"Iya, aku akan melihatnya nanti."
__ADS_1
"Baik."
Alex berjalan menuju lift dan keluar dari perusahaannya dengan membawa dua kertas dari Leon itu.
Dengan kecepatan sedang Alex melajukan mobilnya menuju rumahnya, dia ingin melihat apakah Jaselyn telah memilih undangan dan lokasi pernikahan mereka atau belum.
15 menit kemudian, dia sampai di depan rumahnya.
Alex turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah yang tak cukup besar itu.
Ceklek
Pintu rumah terbuka, dan saat Alex masuk ke dalam ruanh keluarga dia di sambut oleh Jaselyn yang tertidur di atas sofa dengan laptop di depannya.
Alex menggelengkan kepalanya, "Dia pasti sudah berusaha memilih undangan dan lokasi yang bagus untuk pernikahan kita nanti." Ucap Alex dengan pelan.
Dengan pelan Alex berjalan lalu mengambil laptop milik Jaselyn dan melihat pilihan yang telah Jaselyn pilih.
Alex melihat 3 contoh kartu undangan yang telah Jaselyn tandai, yang sepertinya telah membuatnya bingung karena harus memilih yang mana dari ketiga contoh kartu undangan itu.
"Dia pasti bingung, karena melihat banyaknya contoh kartu undangan yang di berikan oleh orang yang akan membuat kartu undangan itu." Ucap Alex menatap Jaselyn yang tidur dengan nyenyak.
Alex mengusap pelan kepala Jaselyn, dan usapan itu membuat Jaselyn tergerak dan perlahan mengerjapkam matanya.
"Alex, kau sudah pulang." Ucap Jaselyn dengan suara khas bangun tidurnya.
"Iya, apa kau sudah memilih undangan dan lokasi pernikahan kita, sayang?"
Jaselyn mengangguk, "Iya, tapi aku belum bisa memilih salah satu di antara mereka. Aku baru menandai beberapa contoh undangan, lokasi dan gaya ruangan untuk pestanya nanti."
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu memilihnya."
"Sungguh? Bagusalah kalau begitu, aku tidak tahu mana yang bagus dan tidak."
Alex tersenyum melihat wajah Jaselyn saat ini, dia sangat mirip seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk karena tidak di beri permen.
"Kemarilah, kita akan memilihnya bersama. Aku juga akan menjelaskan sedikit tentang lokasi dan gaya ruang pesta yang sudah kau tandai." Ucap Alex sambil menepuk sofa di sampingnya.
Jaselyn mengangguk lalu berjalan dan duduk di samping Alex.
Kedua calon pengantin itu lalu bersama-sama melihat dan memilih kartu undangan, lokasi pernikahan dan gaya ruangan yang akan menjadi pesta pernikahan mereka nanti.
Beberapa pelayan yang ada di dalam rumah itu tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Aku senang akhirnya kita akan mempunyai nyonya, dan jika di lihat nyonya kita sangat mencintai tuan." Ucap seorang pelayan.
__ADS_1
"Kau benar. Rumah ini akan menjadi meriah setelah sekian lama." Ucap pelayan lainnya.