Cinta CEO Yang Terlambat

Cinta CEO Yang Terlambat
Part 45


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, Brian mengerahkan kemampuan untuk bisa membuat perusahaan Stuart dan juga perusahaan milik keluarga William hancur bersamaan.


Dua hari lagi adalah hari pernikahan Laura, mantan Brian. Dia berniat membuat acara pernikahan itu menjadi pesta yang tidak akan pernah di lupakan oleh orang-orang yang ada di negara N.


Didalam ruang kerja yang khusus di buat di apartment miliknya, Brian begitu serius menjadikan semua bukti yang dia dapatkan menjadi satu dalam sebuah video berdurasi cukup pendek.


Sehingga orang-orang yang datang ke acara pesta pernikahan Laura, bisa melihat semua yang sudah kedua keluarga itu lakukan, bahkan keamanan disana tidak akan bisa mematikan video itu sebelum video itu selesai nantinya.


"Robert Stuart, Sean William. Hari bahagia kalian akan berakhir. Dan semoga kalian bisa menikmati waktu yang tersisa ini." Ucap Brian dengan dingin.


...----------------...


Sementara itu Alex sedang duduk santai, menatap tuan Andrean yang berada didepannya. Karena hari itu Alex tidak menduga jika tuan Andrean akan datang ke perusahaannya.


Tuan Andrean adalah ayah dari calon suami Laura, mantan Brian.


"Baik tuan Andrean, untuk apa anda datang ke perusahaan saya yang kecil ini." Ucap Alex membuka pembicaraan.


"Tuan Dominic pasti tahu tujuan kenapa saya datang kesini."


"Hahaha, tuan Andrean sepertinya sudah salah paham. Saya benar-benar tidak tahu kenapa tuan kesini."


"Hampir satu minggu ini perusahaan saya mengalami masalah, kami mendapatkan masalah itu setelah anak saya bertunangan dengan Laura, putri dari William. Dan saya sangat tahu kenapa semua ini terjadi."


"Oh, benarkah? Apa itu tuan Andrean?"


"Laura adalah kekasih adik anda, dulu. Tetapi dia mengkhianati adik anda dan bertunangan dengan anak saya. Dan keluarga William sudah mempermalukan anda juga adik anda, saat di pesta pertunangan anak saya dan Laura."


"Untuk alasan itu? Apa anda berpikir saya akan melakukan hal yang merepotkan hanya karena itu, tuan Andrean?"


Andrean menatap Alex dengan heran, jika bukan karena itu lalu alasan apa yang di miliki oleh Alex.


"Sepertinya anda sudah salah orang, jika anda mengira saya yang membuat perusahaan anda seperti sekarang tuan Andrean." Ucap Alex.


"Baik, jika benar seperti itu. Anda pasti bisa menolong saya."


Alex tersenyum tipis.


"Untuk alasan apa, saya harus membantu orang yang ingin menghancurkan adik saya secara diam-diam tuan Andrean?"


Andrean diam, dia tahu apa maksud dari ucapan Alex. Dia mengerti jika Alex pasti tahu bahwa keluarganya juga ikut andil dalam pemutusan hubungan Brian dan Laura.


Dan juga keluarga mereka ikut serta menekan Brian, saat Brian masih menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Membuat Brian menjadi orang yang tidak bisa di sentuh, kecuali oleh Alex.


"Pikirkan sendiri solusinya tuan Andrean. Saya masih banyak urusan."


"Tuan Dominic..."


"Leon, antarkan tuan Andrean."


Alex berdiri dan berjalan ke ruang istirahat yang ada didalam kantornya. Membiarkan Andrean pergi di antar oleh Leon.


Didalam ruang istirahat Alex menatap gedung yang berada tidak cukup jauh dari gedung perusahaannya.


"Bukankah sudah terlambat untuk kalian? Orang-orang yang suka memandang rendah, menghina dan menghancurkan hidup orang lain. Sekarang kalian merasakannya sendiri bagaimana rasanya seperti mereka yang telah kalian rendahkan itu."


Tiga perusahaan besar di negara N secara serentak mengalami penurunan harga saham, bahkan tidak ada satupun bank yang mau membantu mereka.


Sekarang William, Robert dan Andrean merasakan bagaimana kekuatan dari orang yang mereka anggap rendah itu.


Tidak bisa mereka pungkiri, jika saat ini mereka begitu menyesal karena telah menyinggung Dominica Alexander. Tetapi itu tidak berlaku bagi Robert Stuart.


Karena bagi Robert, Alex masih hanya seorang bocah tidak berguna sama seperti orang tuanya yang mudah di bodohi dulu.


"Ayah, ibu. Maaf karena kalian harus menunggu sedikit lagi." Ucap Alex.


Di sisi lain seseorang melihat tiga perusahaan yang di landa masalah. Tuan Abraham, orang terkaya di negara itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Selama ini dia tidak pernah melihat ada orang yang mampu berbuat seperti itu. Untuk menghancurkan satu perusahaan saja perlu usaha yang tidak sedikit, tetapi ini tiga sekaligus.


"Sepertinya tidak lama lagi semua akan berubah. Tiga keluarga yang sudah lama berdiri dengan angkuh akan tersingkirkan." Ucap tuan Abraham pada asistennya yang ada di belakang kursi.


"Anda benar tuan."


"Dominic Alexander, anak itu. Kita tidak boleh membuatnya terusik. Jika tidak, maka kita akan bernasib sama seperti mereka."

__ADS_1


"Saya mengerti tuan."


Tuan Abraham selama ini memang tidak pernah mau ikut campur dalam urusan orang lain. Jika orang itu datang padanya dengan keuntungan yang menjanjikan, maka dia akan bekerja sama.


Namun jika mereka hanya akan membuatkannya kesulitan, maka dia akan berpura-pura tidak tahu.


...----------------...


Di mansion, Jaselyn yang tidak di perbolehkan keluar oleh Alex sedang menikmati tehnya.


"Paman, bisa saya mendapatkan kue kering?" Ucap Jaselyn pada kepala pelayan.


"Tentu nona, saya akan mengambilkan kuenya untuk anda."


"Terima kasih."


Kepala pelayan mengangguk dan langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil kue kering itu.


Seharian didalam mansion membuat Jaselyn tidak tahu harus berbuat apa.


Ponsel miliknya pun di ambil oleh Alex, acara televisi sudah di reset ulang oleh Alex. Hanya ada film anak muda, kartun dan acara hiburan lainnya yang bisa Jaselyn lihat.


Alex menyingkirkan Chanel berita di televisi, dia berkata jika itu tidak penting untuk Jaselyn.


"Huuuuft." Jaselyn menghela nafasnya karena bosan.


"Nona Jaselyn, apa anda baik-baik saja?" Ucap kepala pelayan yang kembali membawa dua jenis kue kering.


"Paman, saya sedikit bosan."


"Makanlah kuenya dulu, saya akan mengajak anda ke taman belakang."


Kepala pelayan meletakkan dua piring berisi kue kering di atas meja.


"Taman belakang?" Ucap Jaselyn.


"Benar, beberapa pelayan kemarin menanam beberapa jenis bunga baru disana. Saya lihat anda sangat menyukai bunga."


"Benarkah?"


"Iya nona."


Kepala pelayan sangat beruntung karena Jaselyn tidak sulit untuk di bujuk. Dia mengira Jaselyn akan berubah, setelah dia tahu jika Jaselyn sudah bertemu dengan Robert.


Jaselyn memakan beberapa kue kering yang kepala pelayan bawakan untuknya.


"Paman, mari kita ke taman belakang sekarang." Ucap Jaselyn.


"Baik nona."


Kepala pelayan mengantar Jaselyn ke belakang mansion, dan benar saja. Sampai di taman belakang Jaselyn melihat beberapa bunga baru di taman itu.


Dia ingat bunga apa saja saat pertama kali dia ke taman itu.


"Ini sangat cantik." Ucap Jaselyn.


Kepala pelayan hanya tersenyum melihat Jaselyn tidak lagi terlihat bosan karena tidak di bolehkan keluar.


Ting


Suara ponsel kepala pelayan berbunyi, dia melihat layar ponselnya.


"Tuan." Gumam kepala pelayan.


Kepala pelayan segera melihat pesan dari Alex.


Alex : Sedang apa dia?


Kepala pelayan : Nona Jaselyn sedang melihat bunga yang baru di tanam di taman belakang, tuan.


Alex : Aku akan sampai di mansion setengah jam lagi, minta koki untuk menyiapkan makan malam.


Kepala pelayan : Baik tuan.


Selesai menjawab pesan terakhir dari Alex, kepala pelayan masuk kedalam mansion dan meminta koki untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Paman, bolehkah saya meletakkan bunga ini di balkon kamar saya?" Ucap Jaselyn saat kepala pelayan sudah berada di belakang Jaselyn lagi.


"Tentu nona, saya akan meminta pelayan untuk memindahkan beberapa bunga yang anda suka ke balkon kamar anda. Tapi.. Tuan...."


"Saya akan berka padanya saat dia sudah pulang, paman tenang saja."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah menikmati keindahan bunga sore itu, Jaselyn dan kepala pelayan masuk kembali kedalam mansion.


"Apa koki sudah mulai menyiapkan makan malam?" Ucap Darius yang mencium aroma masakan.


"Benar, karena tuan akan segera sampai."


Jaselyn tersenyum senang mendengar Alex tidak lama lagi akan sampai.


Entah sejak kapan dia selalu menunggu kedatangan Alex, seperti anak kecil yang tengah menunggu ayahnya pulang.


Sambil menunggu, Jaselyn memilih duduk di ruang keluarga dan menonton acara hiburan.


Tidak lama terdengar suara deru mobil didepan mansion, tapi suara itu bukan hanya satu, namun ada tiga mobil yang berhenti.


Jaselyn berjalan cepat kearah ruang tamu, di lihatnya dari jendela mobil siapa saja yang datang.


"Brian, David dan Leon?" Gumam Jaselyn.


Ceklek


Pintu utama terbuka lebar, Alex dan 3 orang lainnya masuk kedalam mansion.


Wajah lelah Alex berubah senang saat melihat Jaselyn yang berdiri di belakang sofa. Alex tahu jika Jaselyn disana untuk menyambutnya.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Ucap Alex pada Jaselyn.


Jaselyn menggeleng, "Tidak, aku baru kesini karena mendengar ada dua mobil lain, selain suara mobilmu."


"Sungguh?"


Jaselyn mengangguk.


Alex berjalan mendekati Jaselyn, dan langsung memeluk tubuh wanita yang sudah menemani dirinya setiap malam diatas ranjangnya.


"Ehem, bisakah kalian memberikan sedikit rasa hormat kepada kami ini?" Ucap David.


David, Leon dan Brian duduk di sofa bersamaan. Mereka mungkin sudah sering melihat kelakuan Alex yang seperti itu pada Jaselyn.


Tetapi tetap saja, itu membuat mereka sangat ingin menenggelamkan sepasang kekasih ini.


"Apa kalian akan menginap malam ini?" Ucap Jaselyn setelah melepaskan pelukannya pada Alex.


"Iya, kami akan menginap, ada dua hal yang harus kita persiapkan dalam waktu dekat ini." Ucap David.


"Apa itu?"


Alex menggandeng tangan Jaselyn dan duduk di sofa.


"Kau akan tahu nanti." Ucap Brian.


"Ini undangan pernikahan untuk kalian."


Leon meletakkan tiga surat undangan pernikahan Laura dan anak Andrean diatas meja.


Brian mengambil satu undangan lalu membacanya.


"Aku tidak sabar untuk kesana." Ucap Brian dengan senyum d3vil terukir di bibirnya.


Jaselyn tidak ambil pusing dengan apa yang Brian katakan, dia memilih untuk mengambil salah satu undangan itu.


"Apa aku juga harus datang?" Ucap Jaselyn pada Alex.


"Tentu saja, kau adalah pasanganku."


David memutar bola matanya malas, dan memilih untuk bersender pada Leon yang duduk di sampingnya.


"Paman, apa makan malam sudah siap? Aku sangat lapar melihat kelakuan tuan kalian ini!." Ucap David sedikit berteriak.

__ADS_1


Leon yang mendengar teriakan itu segera menutup mukut David dengan tangannya, namun David justru mencium telapak tangan Leon itu. Dan membuat Leon membulatkan kedua matanya pada David.


Jaselyn yang sudah di beritahu oleh Alex tentang hubungan Leon dan David hanya bisa diam.


__ADS_2