
Hari ini adalah hari pertama bagi Jaselyn akan menginjakkan kaki di salah satu cabang perusahaan milik Alex. Karena dia akan mewakili perusahaan untuk bertemu dengan Robert Stuart guna membahas pekerjaan.
Jaselyn berdiri didepan cermin, dia memastikan jika dirinya sudah siap untuk berangkat.
Dia tidak ingin membuat Alex kecewa karena penampilannya, jadi dia benar-benar mengenakan pakaian yang begitu rapi.
"Kau sudah siap?" Tanya Alex yang masuk begitu saja kedalam kamar Jaselyn tanpa mengetuk pintu.
"I...Ya, Alex apa...Apa aku terlihat aneh?"
Alex menatap Jaselyn, dia mendekati wanita yang sudah membuatnya candu itu.
"Kau sangat menggemaskan."
Jaselyn mengerutkan dahinya mendengar perkataan Alex.
"Bagaimana bisa kau berkata aku menggemaskan, lihatlah aku memakai baju formal saat ini." Ucap Jaselyn lalu mengembungkan pipinya dan menatap mata Alex dengan tajam.
"Kau sudah berani menatapku seperti itu, hmm?"
Alex mencubit pipi Jaselyn pelan, karena baginya sangat lucu.
"Ti...Tidak, aku...aku..."
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang kau memang harus lebih berani, siapapun yang ingin menyakitimu, kau harus melawannya."
Jaselyn mengangguk mengerti.
"Baiklah ayo turun, sebelum berangkat kita harus sarapan."
"Apa... Brian juga ikut?"
"Apa kalian masih saling bertengkar?"
Jaselyn menggelengkan kepalanya.
"Tidak... Aku hanya tidak terima karena dulu dia sangat menyebalkan saat menjadi ketua ospek." Ucap Jaselyn.
"Hahaha, baiklah dia memang seperti itu. Tapi sebenarnya dia sangat baik, karena itu aku percaya padanya untuk membantumu dengan baik."
"Eum..Iya."
Alex dan Jaselyn keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.
Disana sudah ada Brian yang tengah menatap laptopnya dengan serius.
"Ini waktunya makan, tutup laptop mu." Ucap Alex pada Brian.
"Ah, pagi kak. Sebentar lagi, aku harus menyimpan ini dan membuat mereka sangat bahagia."
Alex mengerti maksud dari perkataan Brian, dia pun lalu duduk disamping Jaselyn yang sudah duduk lebih dulu didepan Brian.
Selesai senyimpan berkas yang tadi Brian katakan, mereka pun lalu menikmati sarapan disana dengan tenang.
Setelah selesai mereka berjalan bersama keluar dari mansion.
"Brian, kau sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Alex.
"Tentu saja, kakak jangan khawatir."
"Kau berangkatalah dengan Brian." Ucap Alex pada Jaselyn, tetapi tangannya tidak mau lepas dari bahu Darius.
"Iya, tapi dia benar-benar akan membantuku kan?" Tanya Jaselyn pada Alex.
"Iya, kau bisa katakan padaku jika dia menyusahkanmu."
"Aku tidak akan menyusahkan dia kak, kalau bisa aku pasti sudah akan melemparnya."
Alex menatap tajam kearah Brian, sementara Jaselyn hanya diam tidak menanggapi apa yang Brian katakan. Jaselyn tahu Brian tidak akan berani melakukan itu padanya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Alex pada Jaselyn.
"Iya, aku sudah siap."
"Baiklah, jika terjadi sesuatu hubungi aku."
"Bukankah ada Brian?"
"Jadi sekarang kau sudah tidak membutuhkan aku lagi, hmm?"
"Ti...Tidak, bukan begitu."
"Sudahlah, aku akan mengawasimu dari jauh."
Jaselyn mengangguk mengerti.
Setelah Alex mengecup kening Jaselyn, mobil yang Jaselyn dan Brian naiki melaju meninggalkan mansion.
Didalam mobil Jaselyn hanya diam, dia berusaha agar tetap tenang. Karena dia sudah bertekad jika dia harus merubah semuanya.
"Apa kau takut bertemu dengan mantan ayahmu?" Ucap Brian memulai pembicaraan.
Jaselyn menoleh, dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak takut, aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa jika tuan Stuart mengatakan hal yang mungkin membuatku jatuh."
"Itu tidak akan terjadi, jika dia mengatakan hal itu maka dia sudah bersiap untuk kehilangan semuanya."
Jaselyn kembali melihat keluar jendela, dia mencoba mengerti apa yang Brian katakan.
__ADS_1
"Kau pasti bisa Jaselyn, mereka mungkin sudah baik padamu. Tapi sudah lebih dari 10 tahun mereka memperlakukanmu dengan tidak adil, dan semua hasil kerja kerasmu juga diambil oleh mereka."
Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gedung dengan tinggi 27 lantai. Gedung yang di dominasi warna hitam di bagian luar, dan coklat susu di bagian dalam terlihat begitu kokoh dan megah.
Brian dan Jaselyn turun dari mobil, dan berjalan memasuki gedung itu, dua orang penjaga yang ada di depan pintu utama membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Selamat pagi tuan muda kedua dan nona nyonya Jaselyn." Ucap kedua penjaga itu.
"Ya selamat pagi." Ucap Brian yang terus berjalan, di ikuti Jaselyn yang hanya mengangguk membalas sapaan dua penjaga itu.
Di dalam lobi terlihat seorang laki-laki berusia 40 tahunan berjalan cepat kearah Brian dan Jaselyn.
"Selamat pagi tuan muda kedua dan nyonya Jaselyn. Maaf saya terlambat menyapa anda."
"Tidak apa-apa paman. Oh benar, tolong nanti paman perlihatkan berkas yang harus Jaselyn pelajari sebelum mereka datang."
"Baik tuan muda kedua."
Mereka bertiga lalu berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana mereka akan bekerja nanti.
Tiba disana, beberapa karyawan yang mereka lewati menyapa mereka.
(Sebelumnya Brian telah mengumumkan kepada semua karyawan yang ada di perusahaan itu siapa Jaselyn, jadi mereka sudah tahu dan memanggil Jaselyn dengan sebutan nyonya).
"Baiklah Jaselyn, untuk sementara kau akan bekerja diruangan ini. Jika semua masalah dengan keluarga Stuart sudah selesai. Maka kau akan menempati ruangan utama yang berada di lantai atas." Ucap Brian sambil membuka pintu ruangan.
"Ruangan utama?"
Brian berjalan masuk, dia menghela nafas pelan sambil menatap Jaselyn dengan rasa heran.
"Tentu, apa kau lupa jika kakak ku menjadikanmu sebagai CEO di cabang perusahaan ini? Jadi tentu saja kau akan menempati ruang utama, yakni ruang CEO."
Jaselyn membuka matanya lebar, dia tidak menyangka jika apa yang Alex katakan sebelumnya adalah sungguhan.
"Kau... Kau jangan bergurau."
"Oh ayolah Jaselyn, apa semua belum jelas? Kakakku sangat menyukaimu, bahkan aku tidak pernah melihat dia begitu lembut pada orang lain, selain padaku dan kedua orang tua kami."
Jaselyn menatap Brian, dia masih tidak percaya. Selama ini dia hidup seperti orang yang tidak dianggap, keluarga Stuart selalu memperlakukan dia seperti seorang pelayan.
Tapi siapa sangka, jika orang yang hampir membunuh dirinya begitu menyayanginya, dan menjadikan dia orang yang begitu berharga.
"Jaselyn, aku tidak tahu apa yang kau rasakan pada kakakkku. Tapi jika memang kau tidak menyukainya karena kau merasa tidak pantas, maka lebih baik kau bicara dengannya. Aku yakin kakakku akan mengerti dan membiarkanmu pergi."
Jaselyn mundur satu langkah, dia menggelengkan kepalanya. Tak lama Jaselyn menunundukkan kepalanya dan tiba-tiba dia menangis.
Brian yang melihat itu menjadi bingung, dia tidak mengerti kenapa wanita yang ada di depannya itu tiba-tiba menangis.
Brian berjalan mendekati Jaselyn dan menggoncang bahunya pelan.
"Hei berhenti menangis, aku tidak menyakitimu. Kenapa kau menangis? Jangan buat aku bingung." Ucap Brian.
Alex yang menerima telfon dari Brian langsung datang ke perusahaan itu.
Dan tidak butuh waktu lama, Alex telah sampai di ruangan dimana Brian dan Jaselyn berada.
"Jaselyn!" Ucap Alex dengan cemas sesaat setelah dia berada didepan pintu.
Brian dan Jaselyn menoleh kearah pintu, mereka melihat Alex berdiri dengan wajah yang muram.
Dengan cepat Alex berjalan mendekati Jaselyn yang tengah duduk di sofa.
Jaselyn langsung memeluk tubuh Jaselyn begitu dia duduk disampingnya.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap Alex dengan lembut.
Jaselyn mengangguk, dia menenggelamkan wajahnya pada bahu Alex.
Alex melepaskan pelukannya lalu menatap kedua mata Jaselyn yang terlihat sembab.
"Brian, apa yang sudah terjadi? Bukankah aku berkata padamu untuk menjaganya?" Tanya Alex.
"A...Aku tidak tahu kakak. Kita hanya bicara sebentar, lalu... Lalu tiba-tiba dia menangis. Aku sudah mencoba membuat dia untuk berhenti menangis, tapi tidak bisa."
Alex mengusap pipi Jaselyn dengan lembut, "Katakan padaku ada apa?"
Jaselyn menggelengkan kepalanya pelan.
"Jaselyn."
Jaselyn memeluk tubuh Alex dengan erat, dan tidak lama dia kembali terisak.
Mendengar isakan Jaselyn, Alex menepuk-nepuk punggung Jaselyn pelan, dan mencoba menenangkannya.
"Apa ada yang menyakiti mu?" Tanya Alex.
Jaselyn menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Tidak, tidak ada yang menyakiti ku."
"Jadi kenapa kau menangis?"
"Aku hanya bahagia."
Alex melepas pelukannya, lalu mengusap air mata Jaselyn dan menatapnya dengan bingung.
"Bahagia?"
__ADS_1
"Iya. Aku.. Aku bahagia karena aku tidak menyangka jika orang yang pernah menyakitiku, dan hampir membuatku mati ternyata begitu menyayangi dan melindungiku. Aku....Aku..."
Jaselyn tidak melanjutkan perkataannya, dia kembali memeluk tubuh Alex dengan erat.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku seperti mereka." Ucap Jaselyn.
Alex sempat tertegun dengan ucapan Jaselyn, Alex membalas pelukan Jaselyn dan dia menganggukan kepalanya.
"Aku tidak ingin merasa di tinggalkan lagi." Ucap Jaselyn lagi.
"Aku berjanji, bahkan aku bersumpah jika aku tidak akan meninggalkan mu."
Jaselyn melepaskan pelukannya lalu menatap Alex.
Cup
Jaselyn memberikan kecupan singkat di bibir Alex, dan sontak itu membuat Alex juga Brian yang masih berada disana terkejut.
"Jaselyn... Kau..."
Jaselyn menundukkan kepalanya.
"Aku... Bisakah aku terus bersamamu?" Ucap Jaselyn pelan.
Alex yang mendengar ucapan pelan Jaselyn meraih kedua oipi Jaselyn lalu mengangkat wajah yang menggemaskan itu.
"Katakan sekali lagi, aku tidak mendengarkannya." Ucap Alex.
"Aku... Aku..."
Alex menggenggam tangan Jaselyn, "Baiklah, Jaselyn aku akan mengulangi pertanyaan ku waktu itu."
Jaselyn yang mendengar itu mencoba memberanikan diri menatap kedua mata Alex.
"Jaselyn, apa kau mau menjadi pengantinku dan hidup bersamaku?"
Jaselyn memelan lud4hnya pelan mendengar ucapan Alex.
Brian yang masih berdiri mematung didepan meja kerja Jaselyn kembali terkejut, namun juga sangat bahagia karena akhirnya dia bisa melihat sendiri perjuangan kakaknya yang kaku itu saat melamar seseorang.
Ya walaupun tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.
"Aku..."
"Iya atau tidak?" Ucap Alex memotong ucapan Jaselyn dengan cepat.
Jaselyn diam cukup lama.
Alex yang melihat itu mengangguk, dia lalu melepaskan tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Jaselyn.
"Aku akan ke perusahaanku, kau pelajari apa yang harus kau...."
"Aku mau!" Ucap Jaselyn dengan cepat.
Alex menatap Jaselyn dengan tidak percaya dan terkejut.
"Aku bilang aku mau, aku mau menjadi pengan..."
Tanpa mendengar kelanjutan ucapan Jaselyn, Alex langsung mencium bibir Jaselyn yang berwarna pink itu.
Jaselyn yang mendapat ciuman tak terduga terkejut, namun detik berikutnya dia membalas ciuman Alex dan tangannya m*lingkar sempurna pada l3her laki-laki yang berada didepannya itu.
Tak berapa lama, saat merasa pasokan oksigen mereka yang hampir habis, Alex melepaskan ciuman panas mereka. Alex menyatukan kening mereka berdua lalu tersenyum.
Hari ini Alex merasa begitu bahagia, karena akhirnya orang yang dia inginkan benar-benar berkata mau hidup bersama dengannya.
"Kau serius Jaselyn?" Ucap Alex memastikan.
Jaselyn menganggukan kepalanya yakin.
Alex memeluk erat tubuh Jaselyn seolah tidak ingin melepaskannya.
"Ehem, kalian tidak akan terus berpelukan bukan? Setengah jam lagi Stuart akan datang kesini, dan Jaselyn perlu mempelajari berkas-berkasnya." Ucap Brian yang sejak tadi menjadi obat nyamuk di ruangan itu.
Alex dan Jaselyn yang tidak menyadari jika Brian masih berada diruangan itu terkejut.
"Kau, apa sejak tadi kau disini?" Tanya Alex oada Brian.
"Tentu, aku juga khawatir padanya. Tapi rasa khawatirku sia-sia. Aku berpikir sesuatu akan terjadi, ternyata aku justru melihat adegan lamaran yang sangat tidak romantis yang kakak lakukan tadi." Ucap Brian sedikit kesal.
"Ck, tidak bisakah kau pergi saat melihat kita berpelukan lebih awal?"
"Kak, jika aku tahu akan terjadi hal seperti tadi. Aku bersumpah, aku akan keluar saat kau masuk."
Alex hanya bisa menahan rasa kesalnya pada Brian. Bagaimanapun Brian adalah adik kesayangannya, dan dia tidak akan menyakiti Brian, apalagi hanya masalah seperti ini.
"Sudahlah kak, aku akan membantumu mempersiapkan pertunangan kalian dengan mewah sebagai permintaan maafku, karena mengganggu waktu bermesraan kalian saat ini." Ucap Brian lagi.
Alex menatap Jaselyn yang wajahnya merona mendengar ucapan Brian.
"Hmm, baiklah aku akan pergi sekarang. Jika tidak, adik iparmu akan terus membacakan mantra padaku. Ingat kau pasti bisa melakukannya." Ucap Alex pada Jaselyn.
Jaselyn hanya mengangguk mengerti.
Alex keluar dari ruangan itu setelah memberikan kecupan pada bibir Jaselyn.
"Jaga dia, jangan biarkan Stuart tua menindasnya." Ucap Alex pada Brian.
"Aku tahu, kakak tenang saja."
__ADS_1
Alex meninggalkan gedung perusahaan itu, dan kembali ke perusahaan utama dimana para peninggi perusahaan sudah menunggunya lama di ruang rapat, karena telfon dari Brian yang membuat Alex khawatir.