
Satu minggu sudah kondisi perusahaan Robert Stuart terus mengalami penurunan, para artis dan model yang bernaung dibawah perusahaan itu satu persatu mengundurkan diri. Karena mereka tentu tidak mau karir mereka berhenti karena terus berada di perusahaan Stuart Entertainment itu.
Sementara perusahaan Robert Stuart tengah mengalami kebangkrutan secara bertahap, maka perusahaan milik keluarga William akan bersiap mengalami hal serupa.
Hari yang cukup cerah, dengan setelan jas berwarna biru, Brian Dominic yang telah mau mengganti namanya dari Brian. D saat berpura-pura menjadi seorang karyawan biasa, kini tengah berdiri di depan sebuah mall.
Brianย memasuki salah satu mall terkenal di negara N. Dan tidak sedikit wanita yang dia lewati menatap Brian dengan tatapan kagum dan ingin memiliki.
Tentu saja setelah berita tentang siapa dirinya, semua orang jadi berubah padanya.
Mereka melihat Brian seperti sebuah aset berharga yang sedang berjalan. Tidak seperti dulu ketika Alex belum memberitahu siapa dirinya secara terbuka.
"Selamat datang tuan muda kedua." Sapa seorang manager salah satu toko perhiasan yang ada di dalam mall itu.
"Iya. Apa pesanan saya sudah jadi?"
"Tentu tuan muda kedua. Tolong tunggu sebentar, saya akan ambilkan."
"Terima kasih."
Menejer toko itu mengangguk lalu segera masuk ke dalam, untuk mengambil perhiasan yang telah di oesan oleh Brian. M
Setelah pengumuman hari itu, semua orng memanggil Brian dengan sebutan tuan muda kedua. Karena dia adalah adik tersayang dari Alex orang sangat di kagumi dan di takuti banyak orang.
Meskipun Brian telah terkenal sebagai adik dari Dominic Alexander, namun dia tetap bersikap seperti biasa pada orang lain. Sama seperti sebelum orang-orang tahu siapa dirinya.
Sambil menunggu meneger mengambilkan barang yang dia pesan, Brian melihat-lihat beberapa cincin yang ada disana.
Mata Brian terhenti pada sepasang cincin yang terlihat sangat mewah namun terkesan elegant.
"Tolong ambilkan sepasang cincin itu." Ucap Brian pada salah seorang pelayan toko.
Pelayan itu segera mengambil sepasang cincin yang Brian katakan.
"Silahkan taun."
"Terima kasih."
Brian melihat cincin itu, cincin berwarna putih dengan permata berwarna biru yang sangat indah.
"Wah sayang, tidak menyangka jika kita akan bertemu dengan orang yang tak terduga disini."
Mendengar suara yang cukup keras dari belakang, Brian membalikkan tubuhnya.
Tepat didepannya berdiri sepasang kekasih yang beberapa hari yang lalu telah resmi bertunangan. Siapa lagi jika bukan Laura dan tunangannya.
"Brian?" Ucap Laura sedikit terkejut. Karena dia mengira tunangannya sedang membicarakan orang lain.
Walaupun Laura sudah bertunangan, tetapi dia dan Brian sudah cukup lama menjalin hubungan, dan karena sifat Laura yang sedikit serakah membuat mereka berpisah, juga baru beberapa minggu lalu Laura bertunangan.
Saat ini setelah tahu jika Brian adalah adik dari Dominic Alexander yang cukup berkuasa, Laura sedikit menyesal. Tetapi bagaimanapun, dia juga mendapatkan laki-laki yang cukup bisa diandalkan sebagai pengganti Brian.
Tentu saja itu hanya akan berlangsung beberapa minggu kedepan.
Brian hanya diam, rasa sakit dihatinya tidak bisa tertutupi. Namun semua sudah terjadi, dan dia merasa bersyukur karena tidak bersama dengan wanita seperti Laura.
"Tuan muda kedua, maaf sudah membuat anda menunggu lama." Ucap meneger toko saat berdiri tepat di belakang Brian.
"Apa ini pesanan saya?"
"Benar, silahkan anda melihatnya." Meneger memberikan sebuah kotak kayu dengan ukiran cantik kepada Brian.
Brian menerima kotak itu lalu dengan hati-hati membuka kotak berwarna coklat itu.
Sebuah kalung yang di hiasi permata indah dengan bandul rubi berwarna merah terlihat cantik di dalam kotak itu.
Mata Laura terbuka lebar melihat kalung yang di penuhi permata dan rubi mewah yang ada ditangan Brian.
__ADS_1
"Apakah sesuai dengan keinginan anda tuan muda kedua?" Tanya meneger toko perhiasan itu.
"Iya,ini sesuai dengan desain yang saya berikan. Dan ini lebih indah."
"Terima kasih, syukurlah jika tuan muda kedua menyukainya. Kekasih tuan muda pasti akan sangat senang mendapatkan hadiah ini."
"Heh kekasih? Sebelumnya saya memang ingin memberikan kalung ini pada kekasih saya. Tetapi sayangnya, dia lebih memilih bertunangan dengan laki-laki lain dan hidup dengannya."
Laura terkejut mendengar itu, tangannya meremas gaun santai yang dia kenakan.
Dalam hati dia sangat kesal karena kalung itu seharusnya menjadi miliknya. Tetapi dia kehilangan kesempatan untuk memiliki kalung berlian yang mewah, dan tentunya sangat mahal itu.
"Ah.Ma...Maafkan saya."
"Tidak apa-apa, itu bukan salah anda. Mungkin kalung ini akan saya berikan pada calon istri saya nanti. Tentunya calon istri yang sesungguhnya."
"Benar, benar. Calon nyonya muda kedua pasti akan sangat terlihat sangat cantik mengenakan kalung yang di desain oleh tuan muda kedua."
"Hahahaha terima kasih. Oh iya, saya juga akan memesan sepasang cincin."
"Baik, baik silahkan."
"Saya ingin sepasang cincin untuk sepasang kekasih. Dengan desain yang sederhana tapi terlihat sangat indah."
"Apakah seperti cincin pertunangan?"
"Benar."
"Hahaha.. Brian apa kau akan memberikan cincin itu pada kekasih barumu? Kau tidak bisa menikah dengan Laura jadi kau ingin berpura-pura memiliki kekasih dan ingin melamarnya?Hahaha kau sangat konyol." Ucap tunangan Laura yang tiba-tiba menyela pembicaraan meneger toko perhiasan dan Brian.
"Tertawalah, mungkin tawa itu tidak akan bertahan lama." Ucap Brian yang tidak tahan dengan omongan tunangan Laura.
"Cih, sombong sekali! Ingat, walaupun kau adalah adik dari Dominic Alexander, tapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa pada keluarga William dan keluargaku."
"Oh benarkah?"
"Sudahlah sayang, kita kesini untuk membeli hadiah buat mama. Lagi pula dia tidak penting." Ucap Laura memotong ucapan tunangannya.
Mata Brian menatap tajam sepasang kekasih yang ada didepannya. Tangannya mengepal kuat, namun dia masih bisa menahan emosinya.
"Tolong bungkus ini untuk saya, saya akan kembali lagi setelah pesanan saya selesai."
Brian memberikan kotak berisi kalung itu pada manager toko, juga memberikan sebuah kartu kredit berwarna gold kepada meneger itu.
Lagi, kedua mata Laura membelalak melihat kartu gold yang Brian berikan pada meneger toko.
Kartu itu hanya di miliki oleh sepuluh orang kaya di dunia, dan Brian mempunyai salah satunya. Artinya Brian merupakan salah satu orang kaya di dunia.
"S*alan! Jika saja aku tahu dia kaya. Aku tidak akan meninggalkannya."
Sementara itu, tunangan Laura juga merasa kesal melihat Brian memberikan kartu gold didepannya. Baginya Brian sudah membuatnya malu di depan Laura, karena dia hanya mempunyai kartu warna perak saja.
(๐ Kartu perak : untuk kalangan orang kaya kelas 3.
๐ Kartu hitam : untuk kalangan orang kaya kelas 2.
๐ Kartu gold : untuk kalangan orang kaya kelas 1. Dan hanya di miliki oleh 10 orang terkaya didunia).
Setelah selesai melakukan pembayaran, Brian keluar dari toko perhiasan, di susul oleh pengawalnya yang setia menunggu di luar toko.
"Tuan muda kedua, tuan muda meminta anda untuk datang ke perusahaan." Ucap pengawal Brian.
"Kita akan kesana."
Brian dan pengawalnya berjalan menjauh dari toko itu. Dan membiarkan dua orang yang ada disana kesal akan apa yang Brian lakukan tadi.
Didalam mobil, Brian menatap jalanan kota, dia masih mengingat hal-hal indah bersama dengan Laura saat mereka bersama dulu.
__ADS_1
Walaupun saat itu Brian berpura-pura menjadi orang biasa, namun sikap Laura sangat baik padanya. Sehingga Brian tidak menyangka jika Laura mempunyai sifat serakah seperti itu.
Demi kekayaan dan barang mewah, dia rela meninggalkan Brian yang sudah berusaha memberikan barang-barang yang Laura inginkan selama ini.
"Tuan muda kedua, kita sudah sampai." Ucap pengawal yang sudah membukakan pintu mobil dan membuyarkan lamunan Brian.
"Oh, ah iya."
Brian turun dari mobil lalu berjalan masuk kedalam perusahaan utama D. Group.
Di lobi para karyawan menyapa Brian dengan begitu sopan, tidak luput juga pandangan kagum dari para wanita yang kebetulan ada disana.
Brian berjalan menuju lift khusus yang akan langsung membawanya ke lantai atas, dimana kantor Alex berada.
Sampai dilantai paling atas, Brian melihat beberapa karyawan yang sedang sibuk di meja kerja mereka masing-masing, saat Brian berjalan kearah ruang kerja kakaknya.
Tok tok tok
Brian mengetuk pintu beberapa kali, dan dia baru masuk setelah mendengar suara Alex dari dalam mengijinkannya masuk.
"Kak." Sapa Brian, setelah dia sudah masuk ke dalam ryang kerja itu.
"Oh, kau sudah datang. Duduklah dulu."
Brian duduk di sofa yang ada didalam ruang kerja Alex. Dan melihat kakaknya masih menandatangi beberapa berkas.
Setelah beberapa menit, Alex bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Brian.
"Kau baca itu." Alex menunjuk sebuah map yang ada diatas meja.
Brian melihat map yang di tunjuk oleh Alex, dan dengan teliti Brian membaca berkas yang ada didalam map itu.
Kedua mata Brian membelalak sesaat setelah membaca berkas itu.
"K..Kak, ini..."
"Benar, itu adalah surat tanda pembelian 35% saham perusahaan William. Mereka tidak tahu jika cabang perusahaan kita yang berada di negara A, yang membeli saham itu."
"Lalu yang ini?"
"Itu...Aku juga sudah membeli 30% saham perusahaan milik Robert Stuart. Dan aku mau kau membantu Jaselyn untuk mengurusnya, aku yakin kamu bisa."
"Kakak yakin? Jaselyn itu anak Robert Stuart."
"Tidak lagi. Stuart tua itu sudah membuang Jaselyn."
"Kak..."
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Aku tahu, dia tidak akan mengkhianatiku."
"Baiklah jika memang itu keputusan kakak."
"Iya, dan untuk keluarga Abraham. Aku yang akan mengurusnya."
"Keluarga Abraham?"
"Benar, selama ini mereka yang berada di belakang keluarga William. Karena itu mereka melakukan pertunangan beberapa hari yang lalu."
Brian diam, selama ini dia tidak tahu jika hubungan keluarga William dengan keluarga Abraham sangat baik.
Dan demi kelangsungan hidup mewah kedua keluarga itu, mereka membuat Brian harus menerima hal yang begitu menyakitkan.
"Baik kak, aku mengerti."
"Kau tenang saja, aku sudah berjanji padamu jika aku akan membuat semua yang sudah menyakitimu, mendapatkan balasan 10 kali lipat."
Brian hanya mengangguk mengerti, semua keputusan ada di tangan Alex. Baginya Alex adalah satu-satunya orang yang paling dia percaya dan dia sayangi, dan Brian tahu jika Alex melakukan itu semua karena Alex sangat menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Laura maaf, mungkin dulu aku sangat menyayangimu. Tapi apa yang sudah kau dan keluargamu lakukan, membuatku tidak bisa memaafkanmu.".