
Dua hari kemudian Alex yang sudah kembali sehat seperti semula keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju kamar dimana Jaselyn berada.
Dengan perlahan Alex membuka pintu kamar itu dan mendapati Jaselyn tengah duduk dengan bersender pada ranjang.
Jaselyn yang mendengar pintu terbuka melihat kearah pintu, dan tak bisa di elakan kedua mata Jaselyn dan Alex saling bertemu dan bertatapan.
"Ehem, bagaimana keadaanmu?" Tanya Alex mencoba mencairkan kecanggungan mereka.
"Sudah lebih baik." Ucap Jaselyn pelan.
Alex berjalan mendekati Jaselyn, tangannya terulur menyentuh kening Jaselyn.
"Panas mu sudah turun." Ucap Alex.
Jaselyn sangat terkejut dengan perlakuan Alex padanya, dia tidak percaya dengan apa yang sedang Alex lakukan tadi. Karena sebelumnya Alex memperlakukan dia begitu kejam.
"A..apa yang kau lakukan tu... Tuan." Ucap Jaselyn seraya menepis tangan Alex dari keningnya lalu mencoba menjauh dari Alex.
Alex yang mendapat penolakan menatap Jaselyn, namun dia tidak melakukan apapun padanya. Dia mencoba menahan emosinya saat ini, karena dia tahu Jaselyn pasti masih merasa takut dan membencinya setelah semua yang telah dia lakukan pada wanita muda itu.
Alex berjalan ke arah jendela kamar, dan berdiri disana. Menatap halaman mansion yang cukup luas dari jendela itu.
"Maaf karena sudah membuatmu seperti ini." Ucap Alex seraya memasukkan satu tangannya kedalam saku celana.
Jaselyn menatap Alex dengan rasa terkejutnya. Selama ini Alex selalu bersikap kasar padanya, dan dia juga telah merebut hal yang paling Jaselyn jaga selama ini, dengan kasar.
Tetapi hari ini Jaselyn mendengar Alex meminta maaf, dan dia berpikir jika itu hanyalah lelucon yang Alex katakan padanya.
"Anda... Adalah tuan Dominic Alexander. Saya mendengar anda adalah orang yang sangat di takuti oleh banyak orang karena kehebatan anda. Dan saya pun.... Telah merasakan kekejaman anda. Tetapi, apa yang.... Anda katakan tadi tuan?" Ucap Jaselyn dengan berani.
"Perlakuan ku padamu sebelumnya, itu karena aku tidak tahu jika kau..."
"Anda pasti mengira jika saya adalah anak kesayangan dari Papa saya." Ucap Jaselyn memotong ucapan Alex.
Alex hanya bisa mengangguk, dia sungguh menyesal karena sudah membuat wanita muda didepannya itu menjadi pelampiasan kemarahannya kepada keluarga Stuart, yang sebenarnya bukan ayah kandung dari Jaselyn.
__ADS_1
Alex berjalan mendekati ranjang lalu duduk di samping Jaselyn.
"Apa kamu tahu siapa sebenarnya mereka, dan bagaimana kau dimata mereka?" Tanya Alex.
Alex ingin tahu apakah wanita yang ada di depannya ini telah mengetahui atau belum, jika dia hanyalah anak angkat Stuart yang di ambil dari panti asuhan sebelum istri Stuart hamil dulu. Tepat beberapa tahun setelah keluarga Stuart menghancurkan keluarga Alex.
"Mereka adalah keluargaku, dimata mereka tentu saja saya ini....."
Jaselyn terdiam, tiba-tiba dia mengingat apa yang sudah selama ini keluarga Stuart lakukan padanya setelah kelahiran Monica.
"Kau tidak tahu bukan? Kau tidak perlu memikirkannya, Istirahatlah." Ucap Alex.
Alex berdiri lalu berjalan keluar dari kamar itu, apa yang Alex perkirakan benar. Jika Jaselyn tidak tahu siapa dia sebenarnya di keluarga Stuart.
...----------------...
Sementara itu didalam kamar hotel, Luci dan Max masih tertidur karena kelelahan setelah pertarungan panas sampai dini hari.
Ya, setelah beberapa hari yang lalu mereka bertemu, Luci dan Max masih saling berkomunikasi, bahkan mereka juga sering melalukan hal itu layaknya suami istri, di hotel.
"Eng.."
"Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Max yang terbangun karena gerakan tubuh Luci.
"Iya, aku harus segera pulang. Aku tidak mau orang rumah curiga padaku kalau aku pulang siang."
"Tunggulah sebentar lagi sayang." Ucap Max sambil memeluk tubuh Luci.
"Max, aku lelah, aku ingin pulang dan istirahat."
"Hmm baiklah, aku akan membantumu mandi."
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau hanya harus mentransfer uangnya padaku, aku ingin membeli kalung yang kemarin aku lihat di toko emas langgananku."
"Iya aku tahu, sayang."
__ADS_1
Luci lalu berdiri dengan perlahan dan berjalan menuju kamar mandi, sementara Max mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Mata Max terbuka lebar saat melihat berita terbaru di layar ponselnya. Dia mencoba membaca berita itu dan memastikan foto yang ada pada berita yang sedang dia baca.
"S*alan! Siapa yang sudah mengambil foto dan menyebarkan berita ini?" Seru Max dengan kesal.
Tidak lama Luci keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, Luci yang melihat Max nampak muram, berjalan mendekat.
"Ada apa Max?" Tanya Luci seraya duduk disamping Max.
"Ada seseorang yang membuat berita, dan mereka juga memposting foto pada berita itu."
"Oh,hanya sebuah berita."
"Heh, hanya sebuah berita kau bilang? Coba lihatlah baik-baik Luci."
Max memberikan ponselnya pada Luci, seketika kedua mata Luci terbuka lebar setelah melihat fotonya dan Max saat memasuki hotel pada berita yang dia baca.
"Ba..bagaimana bisa? Bukankah tidak ada orang yang tahu tentang kita?"
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya ini dibuat oleh saingan perusahaan suamimu. Karena selama ini aku tidak mempunyai musuh."
"Saingan Robert? Setahu ku untuk sekarang ini dia tidak mempunyai saingan."
"Benarkah? Coba kau ingat lagi."
"Benar tidak ad....Tunggu, jangan-jangan ini perbuatan anak dari keluarga Dominic itu. Beberapa hari yang lalu kami bertemu dia di pesta pertunangan putri William, dia pasti sangat membenci kami."
"Anak dari keluarga Dominic? Maksud mu Dominic Alexander pemilik dari perusahaan D. Group yang terkenal belakangan ini?"
"Benar, itu dia."
"Hah, sudah aku duga dia pasti akan membalas kalian. Mungkin apa yang terjadi pada perusahaan suami mu juga karena dia."
"Itu tidak mungkin. Dia hanya anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa."
__ADS_1
"Tapi buktinya, dia mampu membuat perusahaannya berada di posisi ke 2 hanya dalam waktu singkat."
Luci diam, dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa pada Alex jika memang ini perbuatannya. Karena jika dia mengatakannya pada Robert, tentu Robert akan sangat marah padanya, bahkan akan memukulinya hingga mati.