Cinta CEO Yang Terlambat

Cinta CEO Yang Terlambat
Part 55


__ADS_3

Hari terus berganti, dan saat ini Jaselyn sedang melihat undangan yang telah siap untuk di berikan kepada orang-orang, di atas meja.


Ada lebih dari 300 kartu undangan di atas meja, dan dengan tidak percaya Jaselyn menatap tumpukan kartu undangan itu.


"Alex, kau benar-benar akan mengundang semua orang-orang ini?" Ucap Jaselyn.


"Tentu sayang, ini semua adalah teman bisnis, klien, para investor dan juga para direktur beberapa perusahaan di dalam dan di luar kota."


"Tapi Alex...."


"Aku juga mengundang beberapa teman kuliah mu."


Kedua mata Jaselyn membulat, "Kau mengundang teman kuliah ku juga?"


"Tentu sayang, tidak mungkin kau akan menikah tanpa mengundang mereka."


"Tapi Alex, mereka pasti akan....."


Alex mengusap pipi Jaselyn dengan lembut, "Sayang, aku tahu mana teman baikmu dan mana yang bukan. Aku hanya mengundang beberapa teman mu yang telah memperlakukan dengan baik."


Jaselyn diam menatap Alex, dia ingat jika di tempat kulianya dia hanya memiliki kurang dari 10 orang saja yang benar-benar mau berteman dengannya. Karena Monica telah mengatakan hal yang tidak-tidak pada teman yang satu jurusan dengan Jaselyn, walaupun Monica dan Jaselyn kuliah di tempat yang berbeda.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Ucap Alex yang melihat wajah Jaselyn yang berubah muram.


Jaselyn menggeleng, "Aku baik-baik saja."


"Sayang, seberapa banyak teman yang kau miliki tidak akan membuatmu berubah. Mereka yang benar-benar ingin berteman dengan mu adalah mereka yang tidak pernah menganggap rendah orang lain. Dan melihatmu dari sudut pandang yang berbeda."


Jaselyn mengangguk, "Iya, aku mengerti."


Alex tersenyum lalu mengecup kening Jaselyn.


Dia tahu Jaselyn pasti kesulitan di tempat dia kuliah, karena kebanyakan mahasiswa yang belajar disana melihat Jaselyn sebelah mata, terlebih setelah di pengaruhi oleh Monica.


"Aku akan meminta Leon datang, untuk mengirimkan kartu undangan itu kepada semuanya." Ucap Alex.


"Iya, terima kasih."


Brian yang baru saja datang dengan David berjalan mendekati kedua calon pengantin itu.


"Alex, apa semua undangannya telah siap?" Ucap David.


"Sudah, hanya tinggal meminta Leon mengantarnya saja."


"Tidak perlu menunggu dia, aku akan mengantarkan semuanya pada Leon dan membantunya menyebarkan kartu undangan itu pada orang-orang."


Alex menatap David.


"Ayolah tuan Dominic, aku hanya ingin menikmati waktu bersama dengan kekasih ku. Walaupun sekaligus melakukan tugas darimu, karena sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya."


Alex yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. Karena semakin lama, semakin lengket saja pasangan sesama gender itu Alex lihat.


"Baiklah, tetapi aku mau kalian melakukannya dengan baik. Jika tidak, aku akan menghukum kalian berdua, dan jangan harap kalian bisa bersama lagi." Ucap Alex mengancam David.


"Kau ini kejam sekali."


"Ini merupakan hal yang sangat penting bagiku, jadi aku harus melakukan itu padamu dan Leon."

__ADS_1


"Baiklah, aku pastikan semua kartu undangan itu akan berada di tangan mereka semua."


"Bagus jika begitu."


"Dokter David sepertinya sangat mencintai Leon." Ucap Jaselyn.


"Tentu saja, aku sudah melakukan banyak hal untuk menaklukan bongkahan es kedua itu dengan susah payah."


"Bongkahan es kedua? Siapa yang pertama?"


"Hmm, tentu saja calon suami mu. Tuan Dominic."


"David! Sepertinya kau sudah tidak ingin bersama dengan Leon. Kau mau aku mengirim mu ke benua Afrika besok?" Ucap Alex sambil menatap David dengan tajam.


"Hahahaha, aku hanya bercanda. Tetapi memang benar, selama ini kau tidak pernah mau dekat dengan wanita manapun, dan aura mu itu seperti bongkahan es yang sulit di lelehkan, super dingin."


Alex menatap David tajam karena ucapan David itu, namun seketika tatapan itu berubah saat mendengar Jaselyn tertawa.


"Hahahaha, maaf, maaf. Aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa." Ucap Jaselyn sambi mengusap air matanya yang keluar karena tertawa.


Alex yang baru kali ini melihat Jaselyn tertawa seperti itu sangat senang dan tersenyum.


David yang melihat perubahan Alex yang semula marah menjadi tersenyum menjadi yakin, jika Jaselyn sudah berhasil membuat hati Alex menghangat.


"Baiklah, aku akan membawa semua kartu undangan itu." Ucap David.


"Iya."


David melihat beberapa kartu undangan di atas meja itu, dan mengambil salah satu di antaranya.


"Apa kalian berdua yang memilih kartu undangan ini?" Tanya David.


"Lumayan juga."


David kemudian memasukan kartu undangan itu ke dalam sebuah paperbag di bantu oleh Brian.


"Lalu, apa pada akhirnya kalian memilih hotel yang ada di samping restoran XX itu?" Ucap David sambil masih memasukan kartu undangan ke dalam paperbag.


"Iya, Jaselyn berkata jika aula itu cukup luas dan dekorasi ruangan yang kita pilih sesuai dengan hotel."


"Baiklah, kalian memang pasangan yang serasi."


"Tentu saja."


David hanya berdecak mendengar ucapan Alex yang memuji hubungannya dengan Jaselyn, seolah lupa bagaimana dirinya dulu pernah menyiksa dan bahkan berkata jika dia tidak akan menyukai Jaselyn.


Setelah selesai memasukan semua kartu undangan pernikahan alex dan Jaselyn, David melenggang keluar sambil membawa dua paperbag di kedua tangannya.


Alex hanya diam membiarkan David pergi seperti itu.


...----------------...


Di dalam sebuah ruangan, Monica duduk di depan seorang laki-laki berusia 40 tahun. Setelah kemarin dia di kenalkan oleh nyonya Stuart pada laki-laki itu.


"Nona Monica, aku sangat senang anda memenuhi undangan makan siang dariku hari ini." Ucap laki-laki itu dengan senyum ramahnya.


"Iya, saya.... Juga senang menerima undangan makan siang dari anda tuan."

__ADS_1


"Karena kita sudah makan siang hari ini, maka aku akan memberi hadiah padamu."


Monica sedikit terkejut mendengar itu, ini kali pertama dia menerima hadiah dari seseorang yang baru dia kenal.


Laki-laki itu mengambil sebuah kotak dari dalam saku jasnya, lalu meletakan kotak itu di atas meja.


"Tu.... Tuan, apa ini?" Ucap Monica melihat kotak di atas meja itu.


"Kau bisa membukanya."


Monica mengangguk, lalu mengambil kotak itu dan membukanya.


Seketika kedua mata Monica terbuka lebar melihat sebuah kalung dengan liontin berlian di dalam kotak itu.


"Tuan, ini...."


Laki-laki itu mengangguk, "Itu untuk mu, dan aku bisa memberikan yang lebih bagus dan mahal dari itu. Tapi....."


Monica menatap laki-laki dengan bingung, "Tapi?"


"Tapi.... Kau harus menemani ku beberapa hari di luar kota."


Monica sedikit tersentak mendengar permintaan dari laki-laki itu.


"Ma... Maaf tuan, maksud anda menemani....."


Laki-laki itu menggenggam tangan Monica, "Tentu saja menemani ku di h0tel. Kau pasti tahu maksudnya."


Kembali, Monica sangat terkejut dengan perkataan laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya itu.


"Tu... Tuan, anda...."


"Nona Monica, saya tahu bagaimana kondisi keuangan mu dan nyonya Stuart setelah semua aset, dan kekayaan keluarga kalian di sita oleh pihak bank. Dan aku hanyalah orang yang ingin membantu keluarga mu agar hidup sedikit nyaman, tanpa harus bekerja dengan keras sebagai pelayan di restoran atau pekerja kasar di h0tel."


Monica terdiam, saat ini dia memang tidak bisa melakukan apapun. Bahkan perusahaan yang dia datangi selalu menolak dan mengusirnya dengan tidak sopan.


Dan tentu saja itu membuat keadaan keuangan dirinya dan ibunya semakin memburuk.


"Bagaimana nona Monica? Kau mau menerima tawaranku atau lebih memilih hidup kesulitan sebagai pelayan kafe, dengan penghasilan yang sangat kecil itu." Ucap laki-laki itu mencoba memprovokasi Monica.


Laki-laki itu tahu jika Monica pernah melakukan hal itu dengan kekasihnya dulu, yang sekarang telah meninggalkan dia karena takut perusahaan keluarganya akan semakin hancur jika terus berhubungan dengan Monica.


Tetapi laki-laki itu yang suka dengan wanita muda, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan wanita cantik dengan tubuuh putih dan halus itu.


"Sa.... Saya akan....."


"Aku tidak akan menawarkannya dua kali. Jika kau menolak, maka aku akan memberikan perhiasan ini dan yang lainnya kepada wanita lain di luar sana. Misalnya saja... putri dari keluarga William."


Kedua mata Monica membulat, dia tidak menyangka jika selain dirinya. Laki-laki yang berada di depannya itu juga menargetkan Laura untuk dia nikmati.


"Bagaimana? Kehidupan mu akan sedikit lebih berubah dari yang sekarang. Aku juga bisa memberikanmu sejumlah uang untuk membeli rumah dan pindah dari apartemen kecil itu." Ucap laki-laki itu lagi.


Monica diam, dia menimbang apa yang laki-laki itu katakan. Dia memang ingin kembali hidup dengan mewah dan nyaman, memakai gaun indah, tas mahal dan perawatan kecantikan yang selama ini dia rasakan.


"Baiklah, saya menerima tawaran anda." Ucap Monica.


"Pilihan yang bagus."

__ADS_1


Laki-laki itu lalu mengecup tangan Monica dan tersenyum penuh dengan k3puasan.


"Akhirnya aku akan menikmati wanita yang angkuh ini, dan dengan ini kerjasama antara perusahaan ku dengan perusahaan tuan Dominic akan berjalan dengan lancar."


__ADS_2