
Hari pernikahan Laura dan putra dari keluarga Andrean pun akhirnya tiba.
Walau perusahaan mereka hampir hancur, namun dua keluarga itu tetap mengadakan resepsi pernikahan dengan mewah, di sebuah hotel berbintang yang sangat megah.
Para undangan yang datang pun bisa di lihat lebih banyak dari kalangan atas, karena sejak mereka menaiki kejayaan di bidang bisnis, mereka tidak ingin lagi beriringan dengan orang-orang dari kalangan menengah, apalagi kalangan bawah.
Sore itu Alex, Jaselyn dan Brian sudah siap menggunakan setelan tuxedo dan gaun pesta dari salah satu perancang busana terkenal. Bahkan keluarga William saja tidak akan bisa memiliki satu set baju dari perancang itu.
Alex menatap lekat Jaselyn yang terlihat sangat cantik dan mempesona, rasanya dia tidak ingin wanita kecilnya itu ikut serta ke pesta yang penuh dengan tatapan m*sum.
(Tentu itu pemikiran Alex sendiri, padahal yang seperti itu tidak ada).
"Berhenti menatapnya, jika tidak dia akan ketakutan dan lari darimu." Ucap perancang busana itu pada Alex.
"Kau bicara apa?" Ucap Alex sambil kedua matanya menatap dengan tajam.
Roy, perancang busana yang tak lain teman dekat Alex sejak sekolah menengah hanya bisa diam. Sorot mata itu, walaupun sudah biasa Roy lihat. Tapi tetap saja bisa membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sudah, sudah. Jika kakak melanjutkannya maka kita akan terlambat." Ucap Brian yanh berdiri di antara mereka.
"Biarkan, mereka juga pasti akan tetap menyambut kita walaupun kita datang di akhir acara."
"Jika begitu, aku tidak bisa makan kue banyak." Ucap Jaselyn pelan.
"Hahaha, lihatlah wanita kecilmu ini. Apa kau tidak pernah memberinya kue?" Ucap Roy sambil terkekeh mendengar ucapan lucu Jaselyn.
"Kau tidak perlu makan kue disana, aku akan meminta koki membuatkan banyak kue agar kau bisa memakannya setelah pulang dari pesta nanti." Ucap Alex pada Jaselyn.
"Sungguh?" Ucap Jaselyn dengan mata berbinar.
"Iya."
Senyum lebar terukir di bibir Jaselyn, dan itu terlihat sangat manis.
"Pantas kau sangat menyukainya, ternyata saat dia tersenyum cukup manis." Ucap Roy.
"Jangan tersenyum lagi didepan orang lain." Ucap Alex sambil menatap Jaselyn dengan serius.
"Mana bisa seperti itu. Wajahku akan kaku jika tidak tersenyum."
"Kau benar, seperti wajah Alex itu." Ucap Roy.
"Roy!"
"Baiklah, baiklah. Tugasku sudah selesai, jadi aku harus pergi sekarang. Ingat untuk mentransfer uangnya."
"Iya."
Roy melenggang pergi dari mansion Alex.
"Baik, kita juga harus pergi sekarang, aku dan Leon sudah mempunyai kejutan bagus disana."
Jaselyn mengangguk.
Alex menggandeng tangan Jaselyn keluar dari mansion. Mereka akan memakai mobil keluaran terbaru tahun ini, sementara Brian memakai mobil sport yang di berikan Alex padanya saat ulang tahun beberapa bulan yang lalu.
Mereka bertiga pergi ke hotel dimana pesta pernikahan akan di langsungkan.
...----------------...
Di hotel, para tamu undangan mulai berdatangan. Ada yang membawa pasangannya ada juga yang sengaja datang sendirian.
Di perkirakan sudah ada lebih dari 150 orang tamu undangan yang datang. Jumlah itu hanya baru setengahnya, tetapi hari sudah mulai gelap dan acara akan segera di mulai.
"Papa, Mama lihat tamu yang datang lebih sedikit. Bukankah kita mengundang sekitar 320 orang?" Ucap istri William.
"Papa tidak tahu. Mungkin mereka sibuk jadi tidak bisa datang Ma."
Istri William hanya mengangguk saja.
Mereka tidak tahu, jika saat ini sisa tamu undangan yang lain sedang berada diatas kapal pesiar mewah milik Alex.
Alex memberikan liburan gratis kepada mereka selama dua hari, dan tentu saja mereka tidak menyia-nyiakan hal yang bagus itu.
Berlayar dengan kapal pesiar mewah, menginap di hotel megah selama dua hari, dan itu semua gratis. Tentu mereka memilih untuk tidak datang ke pesta pernikahan keluarga William dan Andrean itu.
__ADS_1
Di atas kapal pesiar itu juga akan di pertontonkan hiburan yang di maksud oleh Brian di pesta pernikahan kedua keluarga besar itu.
Jam menunjukkan pukul 6:30 malam, semua tamu undangan yang datang tengah menunggu kedua mempelai untuk memasuki altar.
William berdiri disamping Laura, mengandeng tangan putri bungsunya berjalan menuju altar, dimana calon suaminya sudah berdiri untuk menyambut putrinya.
Semua mata para tamu undangan tertuju pada Laura dan William yang tengah berjalan berdampingan.
Sampai didepan altar, William memberikan tangan putrinya pada calon menantunya, Steve Andrean. Sambil mengucapkan beberapa kata.
Dua mempelai kini berdiri didepan pendeta yang akan mempersatukan mereka.
Semua janji dan sumpah terucap dari bibir kedua mempelai, tukar cincin pun telah di lakukan dan suara tepuk tangan yang riuh menyambut pengantin baru yang telah resmi menikah itu.
Tap tap tap
Suara sepatu saling bersahutan berhasil menarik perhatian para tamu undangan.
Satu persatu orang-orang menoleh kearah datangnya derap langkah kaki yang nyaring itu.
Dua orang laki-laki yang begitu tampan dan berkarisma, berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik dan juga sangat mempesona.
Ketiga orang itu melangkah menghampiri pengantin baru yang terlihat sangat bahagia. Mereka menatap sepasang pengantin di depan mereka.
Brian melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan, lalu tersenyum.
Mata Laura tidak bisa berkedip melihat betapa tampannya Brian saat itu, di padukan dengan setelan tuxedo yang dia yakini sangat mahal, ada rasa takjub dan menyesal di hati Laura.
"Selamat atas pernikahan kalian." Ucap Brian.
William yang melihat itu bergegas untuk menghampiri Brian, namun di cegah oleh istrinya.
"Diam dulu, ini pernikahan anak kita. Jangan emosi." Ucap istri William menenangkan.
Alex hanya tersenyum tipis melihat perilaku William yang pasti sudah tidak tahan itu.
Sementara Andrean hanya bisa diam, karena dia tahu setelah ini kehidupan mereka akan semakin sulit.
Penolakan Alex pada dirinya saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu meyakinkan Andrean, jika dia dan William tidak akan bisa lari lagi.
Seketika para tamu undangan berbisik setelah mendengar kebenaran, jika Brian adalah mantan kekasih Laura.
Brian hanya tersenyum menanggapi perkataan yang sangat angkuh itu.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mengucapkannya kepada Laura saja, seperti tamu undangan yang lainnya." Ucap Brian dengan tenang.
Brian berbalik dan berjalan, namun dia berhenti dan berkata.
"Aku juga mempunyai hadiah untuk kalian, bukan hanya untuk kalian berdua. Tapi untuk keluarga kalian juga. Semoga kalian menyukainya." Ucap Brian lagi.
Brian tersenyum dingin pada Laura, dan ada aura kebencian yang Brian tunjukkan padanya yang membuat Laura ketakutan dan gemetar.
Alex berjalan menghampiri Andrean dan William.
"Selamat atas pernikahan anak kalian. Semoga kalian terus menjadi keluarga yang bahagia. Semoga." Ucap Alex dengan senyuman yang sulit di artikan.
Alex menekan kata "semoga" pada ucaoan terakhirnya. Alex yakin entah itu Andrean atau William tahu maksudnya.
"Terima kasih." Ucap Andrean.
Selesai mengucapkan selamat kepada mereka. Alex, Jaselyn dan Brian berniat untuk pergi. Namun langkah mereka terhenti saat lengan Alex di tarik oleh Jaselyn.
"Ada apa?" Ucap Alex.
Alex tidak menjawab, dia hanya berjalan mundur satu langkah dan itu membuat Alex juga Brian heran.
Tidak lama didepan mereka sudah berdiri Robert Stuart dan istrinya, beserta putri kesayangan mereka.
Alex dan Brian menatap ketiga orang yang baru saja datang itu.
"Selamat malam tuan Dominic dan tuan muda Dominic." Ucap Robert Stuart.
Alex yang tadi melihat Jaselyn menoleh, dan menatap Robert Stuart dengan tatapan yang sulit di pahami.
"Oh ternyata anda, aku pikir siapa yang sudah membuat wanitaku menarik tangan dan berdiri satu langkah di belakang ku."
__ADS_1
Robert Stuart menatap Alex penuh dengan emosi, namun dia tidak bisa meluapkannya karena ini adalah pesta pernikahan orang lain.
Sementara Monica mencuri pandang pada Alex, tetapi tentu Alex hanya merasa jijik pada tatapan itu.
"Oh benarkah? Jika begitu pasti dia sangat takut pada saya." Ucap Robert Stuart.
"Tentu saja dia merasa takut, selama bertahun-tahun anda dan keluarga anda menyiksanya tanpa henti. Memberikan rasa trauma padanya untuk lebih dekat dengan orang lain!" Ucap Brian yang sejak tadi diam.
Perkataan Brian yang cukup lantang membuat orang-orang tersentak kaget. Mereka tentu tidak tahu jika keluarga Robert akan seperti itu, terlebih mereka tahu jika Jaselyn dulu adalah anak Robert Stuart.
"Maaf, sepertinya anda sudah salam paham terhadap saya dan keluarga saya, tuan muda Dominic." Ucap Robert Stuart.
"Tidak tuan Stuart, saya bahkan bisa memberikan bukti jika anda mau."
Tangan Robert mengepal, sorot matanya sangat tajam menatap Brian.
"Kami lebih baik pulang. Ucapan selamat sudah kami berikan, dan hadiahnya bisa anda lihat bersama yang lainnya." Ucap Alex.
"Kalau begitu, kami permisi tuan Robert Stuart." Ucap Brian penuh penekanan.
Robert Stuart menatap Jaselyn, rasanya ingin sekali dia menyeret anak itu dan memberinya pelajaran.
"Kau hebat Jaselyn, hanya dengan tubuhmu kau membuat keluargamu sendiri hancur." Ucap Robert Stuart.
Ucapan Robert Stuart seketika membuat Alex, Jaselyn dan Brian berhenti.
Alex menoleh dan menatap Robert Stuart dengan tajam, "Apa yang anda katakan tuan Stuart? Dengan tubuh? Tubuh siapa?"
"Heh, tentu tubuh kurus wanita j*langmu itu."
Rahang Alex mengeras mendengar Robert Stuart memanggil Jaselyn dengan sebutan j*lang.
"Hahaha, anda akan tahu siapa j*lang sebenarnya tuan Stuart. Calon kakak iparku atau istri dan putrimu itu! " Seru Brian yang juga tidak terima jika Jaselyn yang hanya korban, terus di tindas oleh keluarga Stuart.
Kata-kata calon kakak ipar yang di katakan Brian membuat Robert tertampar, dia benar-benar mendengarnya sendiri. Bahkan bukan hanya dia, tapi semua orang yang ada disana juga mendengar.
"J*lang tetap saja j*lang. Bahkan laki-laki tua di layani." Ucap Monica yang sejak tadi diam.
"Kau!"
Jaselyn menarik tangan Alex agar tidak melanjutkan perkataannya.
"Kita pulang saja." Ucap Jaselyn pelan.
"Hahaha kenapa? Kau takut jika kedokmu terbongkar Jaselyn?" Ucap Monica dengan keras.
Jaselyn menatap Monica. Sungguh dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap pada wanita satu itu.
"Kau terkenal dengan wanita yang baik dan suci, tapi kau....."
Plaak!
Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Monica.
Alex, Brian dan yang lain tercengang melihat Jaselyn dengan berani menampar pipi Monica.
"Kau! Kau, berani menamparku!" Seru Monica pada Jaselyn.
"Tentu aku berani. Jika saja ini bukan pesta pernikahan orang lain, aku sudah mencekikmu samoai kau mati, Monica Stuart!"
Alex tersenyum mendengar suara lantang Jaselyn, sudah sejak lama dia ingin mendengarnya. Dan sekarang akhirnya terdengar, bahkan jauh dari perkiraannya.
"Kau!"
"Cukup! Tuan Stuart, ini pernikahan putri saya. Jika anda ingin berdebat dengan mereka, maka silahkan keluar." Seru William.
Alex tersenyum dengan dingin, lalu menggenggam tangan Jaselyn dan akan membawanya keluar dari ruang pesta pernikahan itu.
"Nikmati pestanya perlahan, tuan Stuart." Ucap Alex setengah berbisik pada Robert Stuart saat melewatinya.
Alex, Jaselyn dan Brian melangkah pergi meninggalkan ruang pesta itu.
"Maaf untuk ketidak nyamanan ini. Tolong silahkan kembali nikmati pestanya." Ucap Andrean pada para tamu undangan.
"S*lan! Keluarga Stuart ini sudah membuat pesta pernikahan putraku sebagai lelucon bagi semuanya."
__ADS_1
Pesta kembali berjalan seperti semula, musik pun kembali mengalun memenuhi ruang pesta itu.