Cinta CEO Yang Terlambat

Cinta CEO Yang Terlambat
Part 52


__ADS_3

Praaaaang!


"Aaaaaakh! Seharusnya yang menjadi istri Alex itu adalah aku, aku yang pantas menjadi nyonya Dominic! Bukan Jaselyn, si wanita mur4han itu!" Teriak Monica sambil memecahkan gelas.


Monica menatap dengan nanar pecahan gelas yanh telah dia lempar itu.


"Monica! Apa yang kamu lakukan? Jika kau terus memecahkan barang seperti itu, barang-barang di rumah kita akan semakin berkurang!" Seru nyonya Stuart.


Monica menatap ibunya, "Ma, aku tidak mau hidup seperti ini. Rumah ini sangat kecil untuk kita."


"Kau berkata apa? Kita sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Dan kita hanya bisa menyewa rumah ini."


"Aku.... Aku akan bekerja Ma. Aku akan pergi menemui Alex lagi, dan meminta pekerjaan darinya."


Plaaak!


"Dasar bod0h! Dia telah membuat kita seperti ini, bagaimana bisa kau berpikir jika dia akan memberimu pekerja, Monica!"


Tubuh Monica gemetar, dia benar-benar tidak bisa hidup dalam kesusahan seperti itu.


"Jika kau ingin bekerja dan menghasilkan banyak uang, maka kau bisa menghubungi teman Mama." Ucap nyonya Stuart lagi.


"Apa teman Mama bisa memberikan pekerjaan yang bagus untuk Monica?"


Nyonya Stuart mengangguk, "Iya, besok berpakain yang bagus. Dan kau harus tampil cantik. Mama akan membawa mu bertemu dengannya."


"Iya Ma, setelah aku memiliki banyak uang lagi. Aku akan membuat Jaselyn menderita."


Nyonya Stuart diam menatap Monica, "Maaf Monica, Mama harus melakukan ini padamu. Karena Mama juga tidak mau hidup susah dan menanggung semuanyaa sendiri."


Setelah melihat anaknya tenang, nyonya Stuart pergi untuk menghubungi seseorang.


Kehidupan dua wanita yang dulu selalu menyiksa Jaselyn telah menerima akibatnya, tidak ada perusahaan yang mau memperkerjakan mereka berdua.


Basib keluarga William dan Andrean pun tidak jauh berbeda, setelah mereka membuat malu keluarga. Keluarga besar mereka telah mengusir dan mencoret nama mereka dari daftar keluarga.


Nyonya Stuart kekuar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian yang cukup bagus, namun lingkar lehernya terlalu lebar sehingga buah mel0n sedikit terlihat.


"Mama mau kemana dengan memakai pakaian itu?" Tanya Monica.


"Mama akan menemui teman Mama, dia akan membantu Mama."


"Dengan pakaian seperti itu?"


"Apa yang kau pikirkan, teman Mama seorang wanita."


Monica mengangguk, "Kalau begitu hati-hati Ma."


"Iya. Kau jangan kemana-mana."


"Iya, Monica tahu."

__ADS_1


Nyonya Stuart mengangguk lalu berjalan keluar dari rumah yang kecil itu.


...----------------...


Saat ini Brian tengah berada di dalam mobilnya, matanya lurus ke depan sementara pikirannya sedang memikirkan apa yang teman-temannya katakan saat kemarin mereka bertemu.


Flashback


Di kafe, Brian dan teman-temannya duduk bersama, setelah beberapa minggu Brian tidak bertemu dengan mereka, karena identitasnya yang telah di ketahui oleh orang-orang.


"Aku tidak menyangka teman kita adalah seorang tuan muda." Ucap salah seorang temannya sambil menepuk bahu Brian.


"Benar, kau ini menyembunyikan identitasmu dengan sangat baik. Sampai kita tidak mengetahuinya." Ucap yang lain.


Brian tersenyum, "Aku hanya tidak ingin kalian merasa tidak nyaman dengan ku."


"Kau ini, kita itu teman. Bagaimana mungkin akan seperti itu, lagi pula kita tidak masalah dengan identitasmu. Apakah kau adalah orang biasa atau seorang tuan muda."


"Benar, benar. Justru kami merasa sangat terkejut saat melihat berita tentang dirimu yang ternyata adalah adik dari tuan Dominic."


Brian hanya mengangguk dan tersenyum, dia cukup senang dan beruntung karena memiliki teman seperti mereka yang tidak pernah memandang pertemanan dari status sosial.


"Baiklah, sebagai permintaan maafku. Aku akan mentraktir kalian berdua hari ini." Ucap Brian.


"Wah benarkah?"


"Tentu saja."


Ketiga laki-laki itu lalu tertawa bersama, dan mereka pun memesan beberapa makanan yang mereka inginkan.


"Brian, apa kau tahu tentang anak dari keluarga William?" Tanya salah satu temannya.


Brian menatap sejenak temannya itu lalu menggeleng.


"Aku dengar sekarang anaknya itu bekerja di sebuah b4r."


"Sebuah b4r? Bukannya dia mempunyai suami?" Ucap teman Brian yang lain.


"Justru suaminya yang membuat dia bekerja disana, dan suaminya itu saat ini sedang menjalin hunungan dengan mantan istri dari keluarga Dorest."


"Hah? Bukankah dia adalah wanita yang suka berganti pasangan?" Ucap teman Brian.


"Benar. Jika di lihat, kehidupan mereka itu seperti dua orang yang sudah tidak peduli akan kehormatan yang dulu mereka banggakan dulu, sangat berantakan."


Brian hanya diam mendengar kedua temannya itu berbicara, dia sendiri tidak menyangka jika kehidupan Laura akan berubah drastis seperti itu.


"Permisi, saya membawakan pesanan kalian." Ucap seorang pelayan yang membawa pesanan mereka.


Setelah pelayan itu meletakan semua pesanan mereka dan pergi, Brian dan teman-temannya menikmati makanan itu.


...----------------...

__ADS_1


Brian menatap keluar jendela, dan di lihatnya b4r dimana Laura saat ini bekerja.


Dan tak lama, Brian melihat Laura keluar dari sebuah mobil yang sepertinya mobil milik suaminya.


Setelah turun dari mobil itu, Laura berjalan masuk ke dalan b4r. Dan tentu itu membuat Brian yang semula tidak begitu percaya dengan apa yang temannya katakan kemarin, menjadi percaya karena dia melihat sendiri Laura masuk ke dalam b4r itu.


"Laura benar-benar bekerja di b4r. Dia benar-benar telah mendapatkan akibat dari apa yang telah dia lakukan." Ucap Brian.


Dalam pikiran Brian tidak ada niatan untuk pergi ke b4r itu dan menemui Laura yang telah membuatnya menyakiti hatinya.


"Biarkan saja, anggap itu hukuman untuknya yang selalu menganggap orang lain r3ndah di matanya."


Brian menghidupkan mobilnya lalu melajukannya pergi dari sana, menuju ke rumahnya.


20 menit kemudian, dia sampai di depan rumahnya. Brian turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Brian, kau sudah pulang." Ucap Jaselyn.


"Kau masih disini, aku pikir kau ikut kakak ke perusahaan."


"Tidak, aku sedang melihat beberapa file disini, karena Alex tidak membolehkan aku ke perusahaan dulu."


Brian mengangguk, "Baiklah."


"Oh iya, tadi dokter David mencari mu."


"David?"


Jaselyn mengangguk, "Iya."


"Untuk apa dia mencariku?"


"Aku tidak tahu, setelah dia tahu kau tidak ada di rumah, dia pergi dan berkata jika dia akan menghubungi mu nanti."


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih."


Jaselyn mengangguk.


Brian berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya.


Jaselyn menatap Brian yang pergi ke kamarnya, "Kenapa sepertinya Brian sedikit muram ya?"


Setelah terdiam sesaat, Jaselyn berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


Di dalam kamar, Brian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan kedua matanya sejenak.


"Hari ini benar-benar hari tak terduga." Ucap Brian.


Dia membuat matanya dan menatap langit-langit kamar.


"Lebih baik sekarang aku mandi, setelah itu baru menghubungi David." Ucap Brian.

__ADS_1


Brian bangun lalu melepas pakaian dan melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor, sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2