
"Selamat malam tuan Stanley dan selamat untuk anda."
Sebuah suara terdengar dari arah belakang Alex. Jaselyn yang sangat mengenal suara itu menjadi gemetar, dan menggenggam tangannya sendiri karena takut.
Alex menoleh untuk melihat siapa orang yang berbicara dibelakangnya.
"Terima kasih tuan Stuart." Ucap tuan Stanley.
Robert Stuart berjalan mendekat, dan begitu dia melewati Jaselyn dia seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan melihat Darius yang menunduk ketakutan.
"Kau! Anak kurang ajar, bagaimana kau..."
Ucapan Robert Stuart terhenti saat melihat orang yang berada disamping Jaselyn. Mata Robert Stuart bertemu langsung dengan kedua mata Alex yang menatapnya dengan tatapan dinginnya.
"Dominic Alexander, kau.."
"Selamat malam tuan Stuart. Cukup lama kita tidak bertemu." Ucap Alex seraya menyunggingkan senyum d3vil pada Robert Stuart.
"Tuan Stuart mengenal dan dekat dengan tuan Dominic?" Tanya tuan Stanley.
Pertanyaan tuan Stanley menyadarkan Stuart, dia lalu menatap tuan Stanley.
"Ya sedikit."
Alex mengukir senyum setipis mungkin mendengar jawaban dari Robert Stuart.
"Jaselyn, Papa perlu bicara denganmu." Ucap Robert Stuart pada Jaselyn yang masih menunduk wajahnya.
"Papa? Maaf tuan Stuart, anda tadi memanggil diri anda Papa pada nona Jaselyn?" Ucap Alex.
"Ada apa tuan Dominic? Apakah salah saya menggunakan nama itu pada anak saya sendiri?"
"Hahaha.."
Tawa Alex begitu keras namun penuh tekanan, membuat orang yang mendengarnya merinding dan takut.
"Maaf tuan Stuart, apa anda mempunyai penyakit amnesia akut?" Ucap Alex dengan nada menghina.
"Apa maksud anda?"
"Haahh, baiklah jika tuan Stuart tidak ingat, maka saya akan mengingatkan anda. Tuan Robert Stuart yang terhormat, beberapa hari yang lalu anda melakukan jumpa pers untuk mengumumkan jika Jaselyn bukan lagi anak anda. Tetapi sekarang anda memanggil diri anda Papa di depan nona Jaselyn dan orang-orang yanh ada disini. Apakah anda itu artinya anda kembali mengakui nona Jaselyn sebagai anak anda?"
Robert Stuart terperanjat, dia telah melupakan tentang itu. Karena merasa sangat kesal saat melihat Jaselyn. Di tambah beberapa hari ini dia tengah di sibukan oleh beberapa masalah di perusahaan yang dilakukan oleh seseorang, jadi dia tidak ingat jika dia sudah mengumumkan pada semua orang bahwa Jaselyn bukan lagi bagian dari keluarga Stuart.
Para tamu undangan mulai berbisik dan beberapa diantaranya sangat menyayangkan perbuatan Robert Stuart pada Jaselyn.
"Tuan Dominica Alexander, ini bukan urusan anda. Jadi anda tidak perlu ikut campur." Ucap Robert Stuart dengan kesal.
"Hmm benarkah? Tapi jika saya berkata ini akan menjadi urusan saya bagaimana?"
"Kau.." Tangan Robert Stuart mengepal kuat, rahangnya mengencang karena emosi.
"Tuan Stuart."
Seseorang memanggil Robert Stuart, orang-orang menoleh kearah suara tidk terkecuali Alex dan Jaselyn.
Mata Robert Stuart terbuka lebar melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Tu...Tuan..."
Robert tidak bisa lagi berkata, seluruh anggota tubuhnya seolah kaku. Sementara Alex yang melihat itu tersenyum tipis.
"Kau akan segera berakhir kali ini Stuart tua."
Orang itu berjalan mendekat, Robert dengan gugup menelan ludahnya yang begitu sulit.
"Apa kau melupakan perjanjian kita tuan Stuart?" Ucap orang itu.
"Ten..Tentu saya ingat tuan."
Orang itu melirik kearah Jaselyn yang masih setia melihat kebawah dengan perasaan takutnya.
__ADS_1
"Oh apakah dia anak itu? Anak yang sudah kau buang untuk mendapatkan uang 500 juta tuan Stuart?" Ucap orang itu sambil menatap ke arah Jaselyn.
Pertanyaan yang terlontar dari mulut orang itu membuat semua tamu undangan terkejut, begitu juga dengan Jaselyn yanh seketika mendongakan kepalanya menatap orang yang berbicara tadi.
Seorang Robert Stuart yang begitu terkenal rupaya bisa berbuat demikian, mereka berpik jika kabar Robert Stuart menjual anaknya adalah hanya gosip, tetapi ternyata itu memang terjadi.
Dan orang yang membeberkan masalah itu adalah orang yang memberikan uang sebesar 500 juta itu sendiri kepada perusahaan Stuart.
Air mata Jaselyn mengalir begitu saja mendengar perkataan orang yang sama sekali tidak dia kenali.
Dengan cepat Jaselyn berlari meninggalkan ruang pesta, dia juga tidak peduli dengan Alex dan dengan pikiran orang-orang yang ada disana.
Alex yang melihat Jaselyn berlari keluar menatap tajam Robert Stuart dan orang yang baru datang tadi. Walaupun itu semua rencana Alex, tetapi melihat Jaselyn seperti itu, Alex merasa marah.
"Tuan Stanley, maaf saya tidak bisa menikmati pesta anda lebih lama lagi." Ucap Alex pada tuan Stanley.
Alex berbalik lalu berjalan dengan cepat tanpa mendengar jawaban tuan Stanley.
"David, Leon urus semua yang disini. Buat orang itu tidak bisa berdiri lagi di negara ini."
"Baik tuan." Jawab Leon.
Alex keluar dari ruang besar itu dan mencari dimana Jaselyn berada.
Semua anak buah Alex pun ikut mencari, dan Alex menemukan Jaselyn tengah duduk dan menangis di aalah satu taman yang tidak jauh dari hotel dimana oesta itu di adakan.
Dengan pelan Alex mendekati Jaselyn lalu berjongkok di depannya.
"Katakan padaku, kesalahan.... Kesalahan apa yang sudah aku lakukan, sehingga membuat... dia begitu kejam padaku? Katakan Alex...? Ucap Jaselyn sambil menangis.
Alex memeluk tubuh Jaselyn, dan tak lama Jaselyn menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Alex. Dia benar-benar merasa sangat kecewa pada ayahnya, yang sudah tega melakukan semua itu padanya.
Alex mengusap punggung Jaselyn dengan lembut, dan juga mengecup beberapa kali bahu Jaselyn.
...----------------...
Beberapa hari setelah kejadian di pesta perayaan perusahaan P. Group, Jaselyn kembali mengurung dirinya didalam kamar.
Alex dan para pelayan sudah membujuk Jaselyn agar keluar dari kamar walaupun cuma sebentar, namun Jaselyn tidak mau mendengarkannya.
Dengan pelan Alex membuka pintu kamar Jaselyn. Setelah pintu terbuka dan masuk, Alex melihat Jaselyn sedang duduk didepan jendela kamarnya dan mungkin dia tidak menyadari jika Alex sudah berada dibelakangnya.
"Kau melamun lagi?" Ucap Alex.
Suara Alex mengejutkan Jaselyn yang memang tengah melamun.
"An..Anda sudah pulang tuan?"
".....Iya."
Alex duduk didepan Jaselyn, dia lalu memberikan seikat bunga yang dia bawa pada Jaselyn.
"Kenapa anda membawa bunga lagi?" Tanya Jaselyn dengan pelan.
"Karena aku suka."
Jaselyn hanya menatap heran pada Alex. Dia masih saja tidak percaya jika orang yang pernah menyiksanya itu dan membuatnya berpikir lebih baik mati, kini berubah terhadapnya.
Semua keangkuhan yang Alex perlihatkan pada orang lain, tidak pernah lagi diperlihatkan pada Jaselyn. Nada bicara yang begitu dingin jika berkata dengan orang lain pun, tidak pernah lagi terdengar di telinga Jaselyn saat Alex bicara dengannya.
"Tapi ini sudah berlebihan, setiap hari anda membawa bunga untuk saya. Apa anda ingin saya berjualan bunga?" Ucap Jaselyn menatap bunga yang Alex bawa.
Alex terkekeh mendengar perkataan Jaselyn yang terlihat kesal. Bagaimana tidak kesal, sudah empat hari ini setiap pagi dan sore Alex selalu memberikan Jaselyn bunga mawar yang berbeda-beda.
"Aku akan terus melakukannya, sampai aku merasa jarak di antara kita tidak begitu jauh lagi."
"Jarak?"
"Hemm iya, sebelumnya kau sudah mau memanggilku dengan namaku. Tetapi sekarang, kau mulai memanggilku tuan lagi, bukankah sebelumnya kau sudah setuju untuk menjadi pengantinku?"
Jaselyn diam, dia memang mulai memanggil Alex dengan sebutan tuan lagi setelah kejadian di pesta itu. Itu karena Jaselyn merasa dia tidak pantas bersama dengan Alex.
__ADS_1
Walaupun Alex sudah berkata jika dia serius ingin menjadikan Jaselyn pengantinnya, dan akan selalu melindunginya, tapi Jaselyn belum siap lagi menerima semua hal baik itu.
Jaselyn takut setelah semua kebaikan yang dia dapatkan, dia kembali akan dibuang. Seperti keluarganya yang sudah membuang dirinya.
"Ta...Tapi.."
Alex menyentuh pipi Jaselyn lalu mengusapnya dengan lembut.
"Aku tidak pernah bermain-main dalam melakukan apapun, sayang. Begitu juga dengan apa yang aku katakan padamu."
Jaselyn diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Dalam hatinya dia merasa bahagia, tetapi juga merasa takut.
"Aku memang pernah melukaimu, bahkan hampir membunuhmu. Tapi sungguh, sekarang aku hanya ingin bersamamu dan melindungimu. Mungkin ini terlambat, tetapi tidak apa-apa. Aku rela jika harus bersusah payah berusaha membuatmu selalu bahagia bersamaku."
Jaselyn menatap kedua mata Alex, dia mencari celah kebohongan dibalik mata indah itu. Tetapi dia tidak menemukannya.
"Saya.... Saya pernah di buang sekali, dan tidak diinginkan.Sa..Saya hanya tidak ingin mengalami hal itu lagi tuan." Ucap Jaselyn yang mulai meneteskan air matanya.
Mendengarkan itu Alex segera memeluk tubuh Jaselyn dengan erat, dan mencium bahu Jaselyn.
"Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi, Jaselyn."
Tangis Jaselyn pecah dalam pelukan Jaselyn, dia tidak tahu apakah dia harus bahagia atau bersedih mendengar sumpah yang Alex katakan untuknya.
Alex membiarkan Jaselyn menangis sampai puas dalam pelukannya, dia tahu saat ini hanya itu yang bisa Jaselyn lakukan untuk meluapkan semua emosinya.
Dengan sabar Alex menenangkan Jaselyn, dia menepuk-nepuk punggung Jaselyn pelan, sampai akhirnya tangisan Jaselyn berhenti dan berganti dengan dengkuran lembut.
Mendengar suara dengkuran lembut Jaselyn, Alex yakin jika sekarang wanita dalam pelukannya sudah terlelap.
Dengan hati-hati Alex mengangkat tubuh Jaselyn, lalu membaringkannya diatas ranjang.
"Aku akan membuatmu selalu bahagia, dan aku akan memenuhi sumpahku padamu itu Jaselyn." Ucap Alex pelan.
Alex mengecup kening Jaselyn, lalu menyelimuti tubuh kecilnya sebelum dia meninggalkan kamar Jaselyn.
Diluar kamar Jaselyn, David sudah menunggunya untuk memberikan laporan.
"Keruang kerja." Ucap Alex singkat.
Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja Alex yang berada di paling ujung.
Setelah mereka masuk kedalam ruangan itu, Alex langsung duduk di kursi kerjanya dan David duduk tepat di seberangnya.
"Katakan." Ucap Alex.
"Semua sudah di lakukan sesuai dengan rencana, perusahaan milik Stuart sudah mengalami penurunan harga saham. Sampai sore ini mereka sudah mengalami kerugian 1,2 miliyar."
"Baru 1,2 miliyar. Mereka memakai uang simpanan ayahku lebih banyak dari itu. Ada lagi?"
"Orang yang pernah membantu keluarga Stuart bernama Max. Dia adalah teman dari istri Robert dan mereka sudah sering melakukan hubungan terlarang di beberapa hotel."
"Sudah tahu nama perusahaannya?"
"Sudah, tapi setelah mengetahui jika kita yang berurusan dengan mereka. Max tidak lagi membantu, dia justru kembali ke negaranya dan tidak lagi berhubungan dengan keluarga itu, kecuali hanya sekedar untuk melakukan hal itu dengan istri Robert."
Alex mengetuk meja kerja dengan jari telunjuknya.
"Kirim semua foto dan video hubungan istri Stuart dan laki-laki itu ke beberapa media. Tetapi samarkan wajah Max itu, Aku ingin lihat bagaimana Stuart tua akan menghadapinya." Ucap Alex.
"Baik."
"Sisanya, kita lakukan sesuai rencana."
"Lalu bagaimana dengan keluarga William?"
"Adrian yang akan mengurus mereka. Sudah saatnya mengajari adikku melakukan pembalasan kepada orang-orang yang sudah menghina dan merendahkannya."
"Baik kalau memang begitu."
"Kau hanya cukup membantunya jika dia butuh bantuan. Aku yakin dia akan bersenang-senang."
__ADS_1
"Tentu saja."
Perbincangan mereka selesai, David kembali ke tempatnya dan Alex pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.