
Di sebuah tempat karaoke, Monica sedang menikmati pesta kecil bersama dengan teman-temannya. Di ruangan VIP yang cukuo luas itu, Monica dan teman-temannya bernyanyi dan tertawa bersama.
"Monica, bagaimana hubunganmu dengan senior itu?" Tanya salah seorang teman Monica.
"Lumayan, tapi dia sedikit membosankan."
"Hah,sungguh? Aku lihat dia sangat keren."
"Ya memang, tapi dia sedikit kaku. Aku tidak suka."
"Hahaha,kau ini. Lalu seperti apa yang kamu inginkan?"
"Seperti...CEO D. Group."
"Ck lihatlah, kau berkhayal terlalu tinggi."
"Kenapa?" Monica menatap temannya sedikit kesal.
"Monica, bukankah CEO itu adalah anak dari orang yang perusahaannya di ambil oleh Papa mu dulu?" Ucap teman Monica yang lain, yang duduk disampingnya.
"Nah benar! Bagaimana bisa kau berkhayal dengan orang yang mungkin akan membuat perusahaan Papa mu bangkrut?"
"Ayolah, yang berurusan dengan dia adalah orang tuaku bukan aku. Jadi apa salahnya jika aku menyukai dan menginginkan dia."
Beberapa teman Monica saling bertatapan, mereka berpikir entah terbuat dari apa otak Monica sehingga dia bisa berpikir seperti itu.
__ADS_1
Karena jika mereka jadi Monica, tentu mereka tidak akan mau mempunyai hubungan apapun dengan orang yang akan membuat hidup keluarga mereka menderita.
"Sudah jangan di bahas, kita kesini untuk bersenang-senang bukan untuk membahas hal seperti itu. Ayo kita bernyanyi lagi!" Ucap Monica.
Mendengar itu, merekapun kembali menikmati pesta kecil yang mereka lakukan itu. Tanpa Monica adari jika sebentar lagi sesuatu akan terjadi pada dirinya.
"Monica, aku harus pulang. Aku tidak bisa lebih lama lagi." Ucap teman Monica.
"Kenapa cepat sekali?"
"Lihat jam tanganmu, sekarang sudah hampir jam 10 malam. Aku tidak mau Mama ku bernyanyi saat aku sampai di rumah."
"Hahaha oke, aku juga akan pulang setelah beberapa lagu yang sudah aku pilih."
"Ya, hati-hati."
Kini tinggal Monica dan dua orang teman lainnya yang ada didalam tempat karaoke itu. Mereka masih menyanyikan lagu yang sudah mereka pilih.
Satu jam kemudian Monica dan kedua temannya keluar dari tempat karaoke.
"Terima kasih Monica untuk malam ini. Sampai ketemu besok."put teman Monica.
"Iya, sampai jumpa."
Monica dan kedua temannya berpisah didepan tempat karaoke karena mereka tidak satu arah.
__ADS_1
Monica yanh masih berdiri di depan tempat karaoke memainkan ponselnya, dia berniat untuk menghubungi supir pribadi keluarga untuk menjemputnya, tapi belum sempat Monica menghubungi supirnya itu, dari belakang seseorang menutup hidung dan mulut Monica dan seketika dia tidak sadarkan diri.
Tubuh Monica di bawa kedalam sebuah mobil yang kemudian melaju menjauh dari depan tempat karaoke dengan cepat.
Mobil itu melaju kearah pinggiran kota, dan masuk kedalam sebuah vila yang letaknya cukup jauh dari perkotaan maupun vila lainnya.
Dua orang yang membawa Monica turun dari mobil dan menggendong tubuh Monica masuk kedalam vila, lalu membawanya ke sebuah ruangan yang ada didalam vila itu.
Monica di dudukkan pada sebuah kursi, kedua tangan dan kakinya di ikat, sementara mulutnya di tutup menggunakan perekat berwarna hitam.
"Apa dia sudah disini?" Tanya seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan dimana Monica berada.
"Sudah bos, dia ada disana."
Orang itu berjalan mendekati Monica, tersirat cahaya hitam saat dia melihat wanita tak sadarkan diri itu .Tatapan begitu dingin menatap Monica yang tidak berdaya.
"Jaga dia, aku tidak mau membuat seseorang murka." Ucap orang itu.
"Baik bos."
Orang itu berjalan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah lebar. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk seseorang.
"Hah.. Salah siapa kalian berurusan dengan iblis. Kalian hanya akan bisa merasakan lebih baik mati dari pada hidup menderita."
Orang itu berjalan keluar vila, meninggalkan Monica bersama dengan beberapa orang laki-laki yang tidak lain anak buah orang itu di vila.
__ADS_1