Cinta CEO Yang Terlambat

Cinta CEO Yang Terlambat
Part 50


__ADS_3

Di kafe milik Brian. Semua yang datang menyaksikan Alex melamar Jaselyn tadi masih menikmati pesta itu. Walaupun Alex dan Jaselyn sudah tidak bersama dengan mereka.


Brian duduk di salah satu sofa panjang, di depannya ada Leon dan David yang duduk berdekatan.


Melihat Brian yang sedikit murung, Leon meminta David untuk menghiburnya.


"Brian, aku mempunyai seorang teman wanita ketika aku kuliah dulu. Dan dia mempunyai seorang adik perempuan, dan sepertinya usia dia tidak jauh berbeda dengan mu. Apa kau mau aku kenalkan dia denganmu?" Ucap David pada Brian.


"Tidak, aku...."


"Tuan muda, semua orang yang telah membuat anda dan tuan Alex menderita dulu, sudah mendapatkan hukuman mereka. Dan sekarang anda juga harus memiliki orang yang akan hidup bersama dengan anda." Ucap Leon memotong ucapan Brian.


Brian diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Karena setelah semua orang mengetahui siapa dirinya. Para wanita itu mendekati Brian hanya untuk kekayaan yang dia miliki.


Seperti Laura yang ingin kembali dengan Brian setelah dia mengetahui siapa Brian yang sebenarnya.


David berdiri dan berjalan ke arah Brian. Dia lalu duduk di samping Brian.


"Aku sangat mengenal teman ku itu, dan aku juga tahu bagaimana keluarganya, mereka tidak sama seperti keluarga William atau yang lainnya." Ucap David.


Brian diam, dia masih tidak tahu harus bagaimana.


"Baiklah, begini saja. Besok lusa aku akan berbicara dengan temanku dulu, dan jika dia setuju aku akan memperkenalkan mu dengan adik dari temanku itu." Ucap David lagi.


"Siapa wanita itu, dan siapa nama keluarganya?" Tanya Brian.


"Namanya Amelia, ayahnya meninggal 4 tahun yang lalu. Dia tinggal bersama kakak dan ibunya."


"Lalu?"


"Dia penjual bunga, ya bisa di bilang dia memiliki toko bunga sendiri walaupun itu tidak besar. Kalau kau ingin lebih mengenalnya sendiri, kau bisa datang ke toko bunga itu. Jadi kau akan tahu bagaimana dia."


Brian terdiam lagi.


"Aku bisa menjamin, jika wanita ini dan keluarganya sangat baik. Dan sangat jauh berbeda dari wanita lainnya, karena aku dan kakaknya sudah lama saling mengenal." Ucap David lagi.


"Apa kau juga menyukai kakak dari wanita itu?" Tanya Brian.


"Itu tidak mungkin, jika aku menyukainya lalu bagaimana dengan.... Leon!"


David segera mengambil gelas berisi minuman yang sedang di minum oleh Leon, lalu menatap kekasihnya itu dengan tajam.


Leon yang di tatap oleh David hanya diam saja, seolah dia tidak melakukan apapun yang salah.

__ADS_1


"Bawa saja dia pulang, sejak kemarin dia kesana kemari untuk mengurus semuanya. Dia pasti sudah lelah." Ucap Brian yang melihat David marah pada Leon.


"Tidak, aku tidak ingin pulang. Lagi pula ini baru di mulai." Ucap Leon yang sudah setengah tidak sadar.


"Hahh, lihatlah dirimu. Kau sudah seperti itu masih saja tidak mau pulang."


David duduk di samping Leon dan membiarkan kekasihnya itu bersender pada bahunya.


"Bagaimana, kau ingin bertemu dengan dengan wanita itu sendiri, atau ingin aku yang mengenalkan kalian?" Tanya David beralih ke pembicaraan tadi.


"Entahlah, aku masih bingung. Biarkan aku berfikir lebih dulu."


David mengangguk "Baiklah kalau memang begitu."


Brian mengangguk lalu meneguk minuman yang ada di tangannya.


Saat ini Brian sedang tidak tahu harus bagaimana perihal urusan wanita. Karena dia benar-benar sudah merasa terluka saat melihat wanita yang dia cintai lebih memilih laki-laki lain, hanya demi kekayaan.


Mencintai mungkin akan terasa sangat menyakitkan, saat kita mengetahui wanita yang kita cintai bersama dengan laki-laki lain. Meskipun kita telah berusaha untuk membuatnya selalu bahagia di sisi kita


Brian berdiri dan berjalan menuju meja yang tidak jauh darinya, di ambilnya satu kue kering lalu memakannya.


"Sepertinya luka yang keluarga William berikan pada Brian tidak bisa semudah itu di hilangkan." Ucap David ketika melihat Brian berdiri dan menatap keluar jendela kafenya.


"Tidak apa-apa, kau lebih baik tidur saja."


"Kalau begitu, ayo kita pulang saja. Orang-orang juga sudah mulai pergi dari sini."


"Leon, sayang. Kau lihatlah tuan muda kita disana. Apa kita akan membiarkannya saja seperti itu."


Leon membetulkan duduknya, lalu melihat ke arah Brian.


"Kau benar, seharusnya tuan Alex membunuh semua keluarga William itu."


David hanya diam.


"Kau tadi berkata akan mengenalkan tuan muda dengan adik temanmu. Apa dia tidak mau?" Tanya Leon.


"Entahlah, dia hanya bertanya beberapa pertanyaan tentang adik teman ku saja."


"Itu sudah cukup, aku yakin setelah semuanya berlalu. Tuan muda akan menemui wanita itu sendiri, kita hanya tinggal menunggu saja."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, aku sudah bekerja dengan tuan Alex lebih lama, sebelum kau bertemu dengannya. Jadi aku tahu bagaimana tuan Alex dan tuan muda."


"Sepertinya kau sangat mengenal tuan muda kita, aku sangat iri padanya."


Leon menarik tangan David lalu mencium bibirnya.


"Kau sangat berbisik, kita kembali saja. Aku yakin tuan muda akan baik-baik saja."


David hanya mengangguk, dia juga tidak mau terlalu memaksa pada Brian.


"Tuan muda, kami akan kembali sekarang. Apa anda tidak apa-apa?" Ucap Leon saat mereka berdiri di belakang Brian.


"Aku tidak apa-apa, kalian kembali saja."


Leon mengangguk, dia lalu menggandeng tangan David dan keluar dari kafe itu.


"Kau yakin tidak apa-apa kita membiarkannya sendirian?" Tanya David.


"Iya."


"Tapi....."


"Jika kau tidak mau kembali, besok aku maka keluarlah dan temani tuan muda. Aku akan kembali sendiri."


David menatap Leon dengan tidak percaya.


"Kau ini, ayo kita pulang." Ucap David.


Leon yang tidak menganggapi ucapan David, melajukan mobilnya meninggalkan kafe milik Brian.


Brian yang mendengar deru mobil Leon hanya tersenyum.


"Mereka ini, walaupun banyak yang melihat dan menilai mereka dengan sebelah mata. Tetapi mereka tidak peduli dan terus bersama." Ucap Brian.


Brian berjalan masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada fi dalam kafe itu. Disana Brian biasa menghabiskan waktu jika merasa bosan.


Dengan badan yang cukup lelah, Brian menjatuhkan dirinya di atas sofa panjang di dalam ruang pribadinya itu.


"Akhirnya semuanya telah berakhir. Ibu, aku telah menepati janjiku untuk membantu kak Alex membalas orang-orang yang telah membuat kita semua menderita."


Brian mungkin tidak bisa membalas kebaikan orang tua Alex dan Alex yang telah mengangkatnya sebagai keluarga mereka, namun dengan membantu Alex membalaskan semua dendamnya, membuat Brian sedikit tenang karena dia telah sedikit melakukan tugasnya sebagai anak dan adik.


Dengan perlahan Brian menutup kedua matanya dan tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2