Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
10. RENCANA DELON. ( SEBUAH PENAWARAN UNTUK YUNI)


__ADS_3

"Jangan membuang waktuku, cepatlah untuk menjawab kalau memang kamu sedang membutuhkan uang." Dengan rasa yang tidak sabar, Danu terus menyerang Yuni dengan rentetan pertanyaan, hingga Yuni pun tidak dapat mengelak. Bahwa dirinya sekarang sedang membutuhkan uang.


"Iya, saya memang membutuhkan uang untuk berobat ayah saya yang mengalami setruk." Jawab Yuni dan untuk saat ini dirinya menghilangkan rasa takut itu menjadi berani hingga terdengar suara ketegaran.


"Ayahmu mendapat serangan jantung, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Lalu biaya yang harus kamu bayar senilai 25 juta, benar begitu kan." Danu yang tak sabar serta merasa jika Yuni terlalu berbelit, maka dengan terpaksa ia yang harus menjelaskannya.


"Apa Bapak menguping?" Yuni tidak menyangka bahwa Danu tahu nominal yang harus di bayar pada pihak rumah sakit. Sungguh sangat memalukan menurutnya.


"Memangnya apa yang ingin Bapak tawarkan pada saya?" Yuni mengatur nafas dalam-dalam dan berusaha untuk bertanya baik-baik soal tawaran tersebut.


"Dekati pak Fahri."


"Apa!" sontak Yuni langsung terkejut sekaligus tidak mengerti akan maksud dari Danu.


"Kenapa? Kamu butuh uang kan," ujar Danu pada Yuni dengan menelangkupkan kedua tangannya.


"Saya memang butuh, Pak! Tapi tidak harus merusak rumah tangga orang kan." Jawab Yuni penuh kemarahan karena tawaran yang diberikan tidak bisa masuk ke dalam otaknya.


"Memangnya, apa masalahnya?"


"Pertanyaan bodoh macam apa ini, apa Bapak sengaja menyuruh saya karena memang ada maksud lain, dan itu pastinya masalah pribadi Bapak kan." Saat ini Yuni sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Saya ingin menolong sahabat saya, apa itu salah."


"Apa dengan cara menyuruh seseorang untuk merusak hubungan rumah tangganya," kata Yuni yang tak bisa lagi mengerti akan pria yang ada di depannya kini.


"Apa saya harus menjelaskan semuanya, agar tidak menuduh kalau ada dendam pada bos kamu itu. Sepertinya memang saya harus memberi tahu semuanya dengan catatan kalau kamu menyetujui tawaran ini," tegas Danu pada Yuni.


Sekarang justru Yuni lah yang terjepit.

__ADS_1


"Kenapa jadi seperti ini," ucap Yuni dalam hati. Niat ingin membela justru dirinya masuk ke kandang ular.


"Jika kamu setuju. Maka saya akan memberikan 50 juta, untuk kamu. Akan tetapi, dalam satu bulan ke depan Fahri harus bisa lebih dekat dengan kamu. Bagaimana?"


Yuni benar-benar dilema. Uang sebanyak itu, mana ada yang berani menolaknya apalagi dengan keadaan terjepit seperti dirinya.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Kalau aku menolak lantas bagaimana caranya aku melunasi biaya rumah sakit," keluh Yuni dalam hati, karena sekarang dirinya benar-benar bingung. Harus menolak atau menerima tawaran yang begitu konyol dan gila menurutnya.


"Cepat putuskan, jangan banyak berpikir karena nyawa orang tuamu lebih berarti." Dengan nada penuh ketegasan Danu berkata untuk secepatnya Yuni memberi putusan.


Sejenak Yuni pun berpikir lagi karena apa yang dikatakan oleh Danu adalah benar, jika ada satu nyawa yang sedang menunggunya.


"Bismillah, semoga pilihanku tepat." Dalam hati Yuni berdoa untuk memantapkan hati atas semua ini.


"Baiklah saya menerima tapi tolong beri kejelasan untuk saya bisa percaya. Kalau memang anda tidak punya maksud terselubung.


Danu tersenyum karena Yuni pada akhirnya menerima tawarannya itu. Dengan begitu semakin memudahkan untuk memisahkan keduanya, karena Danu sudah tidak sanggup lagi melihat sahabatnya terlalu banyak menelan pil pahit, hanya demi sebuah janji yang tak pernah membuat bahagia. Justru malah menyakiti hati dan jiwanya jadi Danu memutuskan untuk membuat rencana licik. Dimana Yuni ikut andil dalam rencana yang ia buat.


"Jadi ... Maksud Bapak kalau hubungan mereka sudah tidak harmonis, dan Bapak ingin memisahkan pak Fahri dari bu Ana karena beliau sering kali di sakiti oleh istrinya."


"Kamu betul, ditambah perempuan itu dengan terang-terangan berselingkuh dari Fahri." Jawab Danu tersenyum.


"Lalu maksud bapak dengan menyuruh saya masuk ke dalam kehidupan mereka, agar pak Fahri melupakan istrinya dengan begitu mereka segera bercerai dan saya harus bisa membuat beliau suka pada saya?"


"Kamu cerdas, dan lakukan selama satu bulan ke depan, dan jika Fahri benar memang jatuh cinta pada kamu. Itu adalah bonusnya," ucap Danu sembari berdiri dari hadapan Yuni.


"Mana mungkin, Pak." Yuni yakin jika dia bukan seleranya jadi menurutnya hal itu sedikit sulit dilakukannya.


"Yang Fahri butuhkan adalah cinta kasih sayang, dan tentunya istri yang bisa di andalkan. Hanya saja dia adalah sosok yang tidak mudah ingkar, maka dari itu Fahri sulit untuk melepaskan Ana."

__ADS_1


"Nanti saya akan membantu kamu, jadi yang harus kamu lakukan cukup ikuti apa yang saya suruh, Oh ya. Bill sudah saya bayar dan ada juga beberapa makanan untuk kamu. Ambillah dan segera ke rumah sakit," ucap Danu pada Yuni, dan itu membuat wanita itu ternganga menatap tidak percaya dengan laki-laki yang baru saja meninggalkannya.


"Apa aku sedang bermimpi? Auh, sepertinya ini memang nyata." Yuni mencubit pipinya jika memang ini mimpi maka harapannya untuk segera bangun. Akan tetapi, kalau memang apa yang tejadi pada saat ini, maka Tuhan benar-benar menjabah doanya, meski semua tidak gratis.


Sedangkan Danu saat berada di jalan, membayangkan rumah tangga Fahri yang benar-benar hancur, maka itulah kebahagiannya. Berarti misi menyelamatkan temannya selesai.


Dengan senyuman yang mengembang, lalu Danu menuju rumah sakit untuk membayar tagihan Yuni, yang harus segera di selesaikan.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain.


Bu Nani sudah mengumpulkan anak dan menantunya, lalu segera memberi tahu keinginannya sampai jauh-jauh ia datang hanya demi sebuah permintaan.


"Bagaimana hubungan kalian selama ini?" tanya bu Nani, lalu menatap sang anak, dan beralih menatap menantunya.


"Mengapa Mama berbicara seperti itu, hubungan kami selama ini baik-baik saja. Jadi, Mama tidak usah kuatir pada kami."


"Iya kan, Ana?" lalu Fahri pun menatap Ana dengan sebuah senyuman yang di paksakan.


"Apa yang dikatakan Mas Fahri betul Ma, selama ini kita selalu harmonis." Ana pun langsung menimpali ucapan Fahri, dan mengikuti kebohongan suaminya pad mertuanya.


"Syukurlah. Mama senang mendengarnya," ucap bu Nani yang merasa lega pada keduanya.


"Fahri, apa kamu tidak ingin punya anak, Nak?"


Uhuk.


Uhuk.

__ADS_1


Fahri tersedak dengan ucapan sang mama, jauh berbeda dengan Ana yang tersenyum saat mendengar ucapan dari mertuanya.


"Yes, sepertinya akan semakin berhasil. Kalau ada yang menginginkan seorang keturunan juga," batin Ana tertawa dan begitu sangat berbunga-bunga untuk saat ini.


__ADS_2