Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
32. MENJADI SOSOK AYAH


__ADS_3

Keduanya terperangah melihat semua barang yang kini berada di depannya. Bukan jumlah nominal yang mereka pikirkan. Melainkan hampir seluruh barang yang ada di toko kini berada di hadapannya, maka dari itu Danu dan juga Sintia begitu terkejut. Saat melihat isi dari toko berpindah tempat.


"Pak, apa Bapak merasa jika kita akan membuka toko?" Sintia berkata tanpa ekspresi dan masih dengan wajah keterkejutan yang kini menghiasi pandangannya.


"Saya rasa juga begitu, seperti terlihat yang akan pindahan." Danu menimpali ucapan Sintia dan kini mereka berdua sama-sama terdiam, memikirkan cara membawanya. Mobilnya pun tidak akan mampu menampungnya, dan sepertinya ia harus menyewa pickup. Untuk mengangkut semua barang.


"Mbak, apa semua ini akan di butuhkan?" Sintia mencoba bertanya apakah semua barang perlu, karena ia juga belum pernah mengalami menjadi seorang ibu. Jadi, Sintia juga tidak tahu apa saja yang sangat diperlukan.


"Ini sesuai permintaan Nyonya, karena bayi itu membutuhkan hampir perlengkapan yang saya keluarkan." Jawab pegawai tersebut.


Sesaat Danu dan Sintia diam, berpikir jika ini bukanlah akal-akalannya para pegawai untuk menghabiskan stok yang ada di toko.


"Sudahlah Sin, mungkin yang dikatakan oleh para pegawai itu benar. Sekarang tunggulah di depan saya ingin membayar semua tagihannya. Sekaligus meminta semua barang diantarkan lebih cepat.


Setelah membayar tagihan dan semua barang tersebut hampir memakan uang 30 juta, akhirnya Danu dan Sintia bisa bernafas lega karena tak akan membawa beban berat.


"Semua barang sudah ada yang mengirim. Kita pulang, namun sebelum itu kita makan karena perut saya sangat lapar," tukas Danu sembari memegang perutnya.

__ADS_1


"Terserah anda, saya hanya bisa mengikuti tanpa protes." Jawaban dari Sintia, membuat Danu gegas masuk ke dalam mobil.


Semua barang di angkut oleh mobil Box, dan akan segera di kirimkan ke rumah Fahri.


.........


Sedangkan di tempat lain.


Di kediaman Fahri, saat bayi 7remungil itu masih terlelap. ia lantas duduk di sofa panjang, tidak lupa kedua tangan yang tertumpu di atas kepala. Menahan denyutan yang lumayan hebat, karena ia tidak menyangka bahwa kejadian ini akan membuatnya sangat pusing.


Sedangkan Yuni yang tidak tega. Memilih ke belakang untuk membuatkan bos nya itu minuman, agar pusingnya sedikit terobati.


"Pak, teh hangat. Semoga ini bisa membuat Bapak sedikit merasa sedikit baikan," celoteh Yuni pada Fahri.


"Terimakasih saya akan meminumnya," kata Fahri yang langsung menerima cangkir tersebut, dari tangan Yuni.


"Yun, siapa kira-kira sengaja berbuat sedemikian?" hampir saja Yuni akan berbalik saat bos nya itu tengah mengajaknya berbicara.

__ADS_1


"Yang pasti mereka adalah orang tua yang kejam, karena sudah tega membuang darah dagingnya sendiri." Yuni yang saat ini sedang di ajak bicara, merasa geram karena menurutnya itu tidak adil.


Yuni tengah berpikir karena bayi yang tidak berdosa, harus menanggung kelakuan bejat sang orang tua.


Di saat ada yang ingin mempunyai anak, justru ada orang yang tidak bertanggung jawab dan malah membuangnya.


"Semoga saja cepat ditemukan," batin Yuni karena sangat kesal dengan orang tua si bayi.


Saat keduanya tengah asik mengobrol?terdengar suara bel yang terus saja mengganggunya.


Dalam hati Fahri terus bertanya-tanya, mobil box siapa yang terparkir di halam rumahnya?


"Siapa itu, Yun"


bel terus di bunyikan, dan itu membuat Yuni sedikit risih, dan langsung membukakan pintu.


"Pak, kenapa di depan ada mobil Box."

__ADS_1


Fahri bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Mobil box siapa memangnya."


__ADS_2