
Yah, wanita itu adalah Ana. Untuk saat ini dirinya sangat senang. Dengan beredarnya vidio yang ia sebar, itu bisa membuat Yuni dicemooh dan dihina, lalu predikat pelakor akan melekat di tubuhnya.
Hahaha.
"Itu akibatnya kalau berani bermain-main denganku," ucap Ana dengan diiringi sebuah tawa.
Tidak berapa lama kemudian. Ana menyudahi acara menjemur tubuhnya setelah berenang di kolam renang, karena tiba-tiba saja. Dirinya ingin sekali makan bakso yang berada di ujung sana, dan entah mengapa bisa-bisanya ia menginginkan, makanan murahan itu. Walau dirinya sudah menolak, namun hati dan pikirannya terus membayangkan. Betapa nikmatnya racikan bakso tersebut.
"Membayangkan bakso dengan kuah yang kental, sepertinya enak." Ana menyunggingkan senyuman dan langsung beranjak meninggalkan kolam.
Sekarang Ana sudah bersiap untuk pergi, dan langsung menuju ke kedai bakso.
Ana yang langsung keluar dan masuk ke dalam mobilnya, dengan segera menyalakan.
Sekitar 20 menit, Ana sudah berada di tempat. Ia mulai mencari duduk namun sebelum itu ia menisik tiap meja. Siapa tahu jika ada yang kosong. Akan tetapi, netranya berhenti karena melihat seseorang yang ia anggap musuhnya, karena wanita itu sudah merusak rencana yang sudah di susunnya, dan sekarang. Dengan seenaknya masuk di kehidupannya.
Prok.
Prok.
Prok.
Saat Ana mulai bertepuk tangan. Semua pasang mata langsung menatapnya dengan heran, begitu juga dengan seseorang yang berada di pojok. Menikmati semangkuk bakso bersama temannya.
"Wah … Wah … Wah, ternyata di sini ada pelakor ya."
"Hye kalian, hati-hati dengan gadis beracun itu. Dia adalah pelakor karena rumah tangga saya hancur karena perempuan murahan itu," ucap Ana dengan sangat lantang. Hingga membuat para pengunjung, menatap wanita yang tak lain adalah Yuni dan Sintia.
__ADS_1
"Kalau saya pelakor lantas anda apa? Kita sama-sama perempuan murahan. Setidaknya saya tidak berselingkuh seperti anda, yang sudah bersuami demi kepuasan." Yuni dengan tenang menyikapi ucapan Ana, dan kata-kata yang di ucapkannya. Membuat Ana murka.
"Tutup mulutmu!" bentak Ana.
"Saya tidak berniat menjadi pelakor, hanya saja suami anda terlalu meratapi nasibnya karena anda sudah menyia-nyiakannya. Jadi, dimana letak kesalahan saya. Yang sudah berkenan untuk mengibur, dan melupakan akan rasa sakit itu."
"Lelaki yang baik, bertanggung jawab dan soleha. Apa kurangnya lagi? Ah iya kaya juga kan, tapi anda terlalu serakah hingga berani menduakannya dan terang-terangan membawa selingkuhan anda ke rumah. Padahal rumah itu bukan milik anda."
"Sial, kenapa perempuan itu tahu tentang semua apang aku perbuat." Batin Ana.
Huuuuu..
"Dasar perempuan murahan."
Dasar wanita tidak punya hati."
"Mati saja kau istri laknat."
"Sial. Niat mau mempermalukan, namun justru aku yang harus menahan malu." Dalam hati Ana sudah kehilangan muka karena rasa malu akan semua orang yang menatapnya jijik.
Brakh.
"Kau sengaja memutar balikkan fakta, agar di sini kamu mendapat dukungan untuk semua orang."
Melihat Ana yang marah, Sintia langsung berdiri namun di tahan oleh Yuni.
Plak.
__ADS_1
"Ini untuk Fahri yang sudah habis-habisan berjuang demi anda, namun tersia-siakan."
Plak.
"Yang ini untuk membalas sakit hati pak Fahri yang sudah anda sakiti, dengan sangat dalam. Lelaki sebaik beliau tidak pantas mendapatkan wanita anda juga."
Byurrr.
"Yang ini untuk anda yang berani berkhianat padahal pak Fahri sudah menerima masa lalu anda namun sayang, karena rasa cintanya tidak terbalas sama sekali."
Ana memegang kedua pipinya yang terasa panas. Belum usai akan rasa nyeri. Kini justru kepala dan wajahnya basah akibat siraman jus jeruk.
"Kau sudah berani menpar dan menyiramku, lihat pembalasanku!" ancam Ana.
"Saya tidak takut. Ingat! Tanpa harta dari pak Fahri. Apa selingkuhan anda mau dengan perempuan seperti ini. Saya rasa tidak," ucap Yuni yang sedari tadi tidak memberikan waktu, sedikitpun pada Ana. Untuk membela dirinya sendiri.
"Dan teruntuk para pengunjung saya meminta maaf atas kekacauan ini. Sebetulnya suami nyonya ini adalah bos saya, rasanya tidak tega saja membiarkan laki-laki yang baik. Soleha serta bertanggung jawab. Harus mendapat istri yang durhaka, apa salah jika saya menghibur dan memberikannya pundak untuk orang itu bersandar. Saya tahu batasan mana yang menganggap sahabat dan mana yang perasaan ingin memiliki."
"Ambil saja kalau begitu."
"Jangan biarkan wanita ini terus berbuat zina padahal sudah bersuami."
"Semoga jodoh mbak ada pada suami perempuan laknat itu."
Para pengunjung riuh, karena meski mereka hanya orang lain, namun rasa ketidak relaan begitu besar. Hingga sosok lelaki yang baik tidak akan mendapatkan, perempuan jahanam.
"Ingat, kali ini kamu boleh menang, tapi nanti … Saya akan membuatmu musnah dari penglihatanku," ucap Ana penuh penekanan, dan kata-katanya penuh dengan amarah yamg membuncah.
__ADS_1
Sesaat. Setelah masalah telah selesai dan Ana jug sudah pergi. Yuni tidak berhenti untuk mengucapkan salam.
"Yun, kamu tidak apa-apa?"