
"Nanti jelaskan saat kita sudah jam istirahat. Untuk sekarang cepat rapikan dan segera bersih-bersih sebelum seseorang meminta kopi padamu," kata Sintia pada Yuni. Yuni pun mengangguk lalu pergi untuk mengambil alat perangnya dan segera bertugas, sebagai office girl. Pekerjaan yang sudah digelutinya selama dua tahun kebelakang.
Saat Yuni sudah mulai melakukan aktifitas. Samar-samar suara orang-orang sedang membicarakannya.
"Apa Yuni tidak bisa melihat siapa istrinya pak Fahri, sampai mau menggoda?"
"Cantik sih tapi kalau pelakor, yang ada jijik."
"Bisa-bisanya si bos mau sama perempuan modal kek Yuni, apa tidak ada wanita yang menarik lagi, cih penggoda saja bangga."
"Kalau aku jadi bu Ana. Sudah aku berikan pelajaran, lagian mana mungkin bos bisa tertarik. Kalau gak di goda duluan," kata para teman-teman se--profesi Yuni.
Maka seperti itulah cemoohan yang ia dengar. Sebuah hujatan dan makian terus terlontar, tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya. Ditambah Yuni juga tidak tahu kenapa dengan dirinya? Karena merasa tidak sedang berbuat salah.
Apa semua orang hanya mengenal sikap baiknya tanpa tahu keburukannya, begitulah sebaliknya? Apa semua menilai dari sampul tanpa melihat benar salahnya, pikiran seseorang terlalu pendek. Hingga tidak dapat berpikir panjang dan mencari tahu penyebabnya.
Itulah mengapa Yuni memilih untuk tidak terlalu akrab dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Brakh.
Auh.
"Kenapa kau membegalku, apa aku membuat salah pada kalian!" seru Yuni pada teman seprofesinya, dengan tatapan tidak suka keduanya langsung memberikan tatapan tajam pada Yuni.
"Kamu masih bertanya apa salah kamu. Cih, inilah salah satu wanita yang tak tahu diri. Sudah jadi pelakor tapi tidak mau mengakui," kata perempuan berambut panjang.
"Jaman sekarang mana ada pelakor mau ngaku, tapi kok bos mau ya sama perempuan modal gini pak Fahri nya." Jawab temannya yang menatap tidak suka pada Yuni, dan membencinya karena merasa nama anggotanya tercoreng.
Sedangkan Yuni masih mendengarkan celoteh mereka dengan seksama, apa hanya karena ia berangkat dengan bos nya itu. Sehingga dirinya sudah mendapatkan cap jelek? Semuanya campur aduk memenuhi isi kepalanya. Tidak menyangka jika akibatnya bisa sefatal itu.
"Yuk kita pergi, jijik lama-lama liat muka perempuan murahan ini." Setelah menghina Yuni dua orang itu pun lantas pergi meninggalkan Yuni, yang sedari tadi hanya diam. Memikirkan akan dirinya yang tiba-tiba mendapat cemoohan, memikirkan sesuatu yang ia rasa tidak terlalu mencolok ke arah pelakor, tapi ternyata Yuni salah.
Sedetik kemudian, Yuni juga sudah beranjak dari lantai dua.
"Yun, sekarang ikut aku."
Sintia yang melihat Yuni, langsung menyeret lengannya dan mengajaknya pergi. Tanpa berkata apapun itu hingga membuat Yuni bingung, karena wajah Sintia terlihat marah.
Sesampainya di luar gedung. Yuni di ajak keluar, sedikit menjauh dari orang-orang yang mengenalinya.
"Lihat dan sekarang jelaskan, kenapa kamu menjadi seperti ini! Sekarang coba bicara karena aku mau kamu mengatakannya dengan jujur, dan aku harap tidak ada kata satu pun yang kamu sembunyikan dariku." Sintia yang sudah tidak sabar dengan buru-buru mendengar langsung dari mulut Yuni, dan terus menatapnya dan berharap semua akan terjawab.
"Sin, kenapa bisa seperti ini?"
"Harusnya yang bertanya seperti itu, itu aku. Bukan kamu!" hardik Sintia karena Yuni justru bertanya apa yang baru saja ia lihat.
__ADS_1
"Jadi tadi pagi ini yang terjadi, pantas saja semua mengatakan aku pelakor." Yuni berkata lirih sambil mengusap air matanya, tidak menyangkan jika istri dari bosnya itu sangat licik, dan sudah menjebaknya dalam keadaan yang lengah seperti pagi tadi.
"Itu bukan kemauanku?" kata Yuni dengan tangan yang meremas bajunya dengan sangat erat.
"Apa maksud kamu!" Sintia mendongak. Menatap Yuni dengan jarak yang amat dekat.
"Tadi pagi pukul lima, pak Danu memang meneleponku, mengatakan jika pak Fahri demam. Lalu memintaku untuk membuatkannya sup, dan jadilah tadi pagi aku ke sana."
Yuni mencoba memberikan penjelasan pada Sintia soal vidio itu, hingga kenapa ia bisa membenarkan dasi bos nya itu juga.
"Benar-benar keterlaluan pak Danu, baik aku akan memberinya pelajaran. Sekarang ikut aku," ajak Sintia pada Yuni.
Dengan keadaan sedikit tergesa-gesa. Keduanya sampai di depan cafe milik Danuarta.
"Sin, kamu mau ngapain kok ngajak aku ke sini?" ujar Yuni yang tak mau membuat keributan.
"Kamu diam dan jangan bicara!" bentak Sintia dengan wajah yang sudah merah padam.
"Sin, kita kembali dan jangan membuat malu." Yuni bersikeras mengajak Sintia untuk pergi, namun nihil. Sintia yang dengan keadaan emosi langsung berjalan ke arah meja kasir, untuk menanyakan bos nya itu apa ada di lokasi atau pergi entah ke mana.
"Bos kamu ada?" tanpa basa-basi Sintia langsung bertanya.
"Ada, Mbak. Apa ada yang kita bantu," ucap salah seorang wanita dan sepertinya itu adalah meneger cafe tersebut.
"Baik, saya akan menyampaikan."
Sesampainya di ruang kerja. Wanita itu mengetuk pintu, dan membuat orang yang berada di luar langsung membukanya.
Ceklek.
"Ada apa?"
"Di luar ada wanita yang bernama Yuni, dan meminta agar bisa bertemu dengan Bapak." Jawab wanita itu pada Danu.
"Suruh ke sini saja." Jawaban singkat yang diberikan oleh Danu, membuat wanita itu mengangguk dan segera undur diri.
Tidak lama kemudian.
Brakh.
Sejenak Danu terperanjat karena terkejut, saat melihat siapa orang yang menemuinya sekarang.
"Bisa lebih sopan jika bertamu," kata Danu dan masih dengan keadaan biasa saja.
"Untuk orang seperti anda, sepertinya tidak perlu berlaku sopan." Sintia memicingkan matanya, menatap jengah ke arah pria yang ada di depannya kini.
__ADS_1
"Sin, sudahlah. Jangan membuat keributan di tempat orang, dan sekarang lebih baik kita kembali ke kantor." Yuni mencoba melerai Sintia untuk tidak membuat keributan, namun nampaknya Sintia sama sekali tidak menggubris ucapan dari temannya itu, dan malah memberikan vidio yang sudah tersebar di ponselnya. Hingga membuat Yuni dipandang sebelah mata, dan menganggap jika perempuan itu memang seorang pelakor.
"Enggak Yun, laki-laki ini harus tahu apa yang sedang terjadi padamu." Sintia tetap akan membuat perhitungan pada Danu.
Danu yang melihat kemarahan dari sahabat Yuni marah, hanya bisa diam karena ia juga tidak mungkin ikut emosi, karena tidak tahu apa yang membuat Sintia sampai mendatanginya.
Sedetik kemudian. Danu mengambil ponsel milik Sintia dan memutar vidio yang sudah buka di galeri.
Ck … Ck.
"Pantas saja jika Sintia marah, ternyata semua ini karena ulah istrinya Fahri yang licik itu." Danu hanya mampu berkata dalam hati, dan ia tidak menyangka kalau Ana akan membuat cara kotornya untuk melawan Yuni.
"Sekarang kamu bisa lihat kan, apa kamu tidak kasihan pada Ana, hingga membuatnya seperti umpan. Yang kapan saja bisa dilahap ikan hiu," kata Sintia dengan penuh penekanan.
"Saya akan mengurusnya, jadi kalian tenang saja. Dalam waktu satu kali 24 jam, vidio itu sudah tidak ada lagi." Jawab Danu yang menyanggupi jika vidio itu tidak akan tampil di sosial media lagi.
"Baik, saya menunggunya. Tuan," kata penekanan diberikan pada Sintia sebelum memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Yun, nanti sore saya tunggu di restoran." Danu sedikit berteriak karena ia ingin membahas akan kemajuan antara Yuni dan Fahri. Danu ingin tahu seberapa akrab mereka dan sedekat apa.
Yuni mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Danu.
Setelah kepergian Yuni dan Sintia. Danu langsung mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang dan entah siapa yang berada di ujung telepon sana.
📞"Halo, saya ingin kamu mengurus vidio yang sedang viral hari."
📞"Saya ingin vidio itu sudah musnah dalam hitungan detik, dan saya tidak mau tahu akan hal itu."
📞"Baik, dan jangan kuatir soal itu terimakasih sebelumnya."
Klik.
Sambungan telepon langsung terputus, dan Danu langsung meletakkan gawai di mejanya lagi. Menghempaskan bokongnya di kursi secara kasar, lalu meremas kertas yang berada di depannya hingga berbentuk bulat.
"Kenapa aku bisa kecolongan, apa jangan-jangan wanita ular itu memang sengaja, dan mempersiapkan untuk membalas Yuni? Argh … Sial," umpat Danu yang tidak menyangka kalau Ana, bisa membuat seluruh dunia riuh, akibat ulahnya.
"Tapi aku yakin, tidak berapa lama lagi. Fahri akan menceraikanmu, wanita ular." Danu kian geram pada istrinya Fahri karena bisa berbuat nekat sedemikan rupa.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain.
Sosok wanita dengan angkuhnya, duduk di pinggir kolam dengan di temani sepiring buah dan jus. Lalu tertawa membayangkan apa yang sudah ia lakukan untuk saat ini.
"Jangan coba-coba melawanku gadis ingusan, kamu adalah seekor nyamuk. Sekali tangkap maka tamat sudah riwayatmu," ucap perempuan itu dengan wajah yang amat bahagia.
__ADS_1