Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
25. TALAK TIGA DARI FAHRI


__ADS_3

"Apa sudah puas kalian bermain-main di atas ranjangku?"


"Mas Fahri!"


Seketika kedua insan berhenti meneguk air surgawi sebelum tertuntaskan, karena kedatangan Fahri dengan tiba-tiba.


Sedangkan Ana langsung menutupi tubuhnya dengan selimut, karena begitu malunya hingga merasa tidak punya muka. Akibat sudah terpergok oleh suaminya.


"M-as."


"Jangan bicara karena aku jijik dengan panggilan itu," ujar Fahri dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Sedih tentu.


Sakit jelas.


Karena Fahri hanyalah sosok manusia biasa, yang tercipta mempunyai hati dan pikiran.


Rasa sakit dan kecewa kini sudah mendarah daging di tubuhnya.


Namun, semua itu sudah ia buang jauh-jauh karena tidak akan ada lagi rasa sakit itu. Seperti sekarang, dan yang ia rasakan hanya ingin segera membasmi kuman-kuman kecil dari hadapannya.


"Jangan ada yang berbicara. Sekarang angkat kaki kalian dari rumah saya juga!" Fahri sudah kehabisan kesabaran dalam menghadapi sikap istrinya yang sangat keterlaluan. Hingga meminta keduanya angkat kaki dari kediamannya.


Sedetik kemudian. Fahri memejamkan matanya dan.


"Ariana binti Furqon, mulai detik ini, dan sekarang. Ku haramkan kamu menjadi istri saya, dan kuberikan talak tiga untuk mu."


Saat kata talak terucap dengan lancar dan fasih. Fahri melayangkan talak tiga pada Ana, dan seketika wanita itu merosot ke lantai. Seluruh tubuhnya remuk akan kata-kata Fahri, dan itu bagaikan cambuk untuknya.


"Mas, aku minta maaf. Aku khilaf," ucap Ana dengan air mata yang tumpah. Sedangkan Leo, lelaki brengsek itu sudah pergi tanpa berkata apapun itu.


"Apa kamu pernah berpikir dulu sebelum berbuat, dan sekarang dengan mudahnya kamu berkata khilaf. Lantas dalam pikiranmu aku hanyalah seorang lelaki yang bodoh, tidak Ana."

__ADS_1


"Diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun, dan sekarang pergilah." Fahri sekuat tenaga untuk bisa menahan emosi, dan dengan berat menyuruh Ana untuk pergi dari rumah ini.


"Tapi, aku sedang mengandung anak kamu." Jawaban Ana membuat Fahri menyunggingkan senyuman, dan itu membuat Ana bingung.


"Apa kamu yakin jika itu anak saya?" tanya Fahri dengan tatapan elangnya.


Ana yang mendapat pertanyaan, sedikit merasakan takut, karena Fahri sudah mengetahui semuanya, dan tidak akan mau menerima kehamilannya.


"Ya-yakin. Tentu aku yakin jika ini adalah anak kamu," elak Ana yang masih menyangkal kalau. Yang berada di rahimnya adalah anak Fahri.


"Kenapa kamu seyakin itu, apa ada alasan untuk semuanya?"


Huff.


Fahri membuang nafas kasar, dan menetralkan nafasnya.


"Segera kemasi baju-baju kamu, setelah ini aku akan mengantarmu pulang."


"Aku tidak peduli karena mulai hari ini kamu bukan istriku lagi!" bentak Fahri.


"Terpaksa aku harus menumpang di rumah Leo untuk sementara," batin Ana karena mau tidak mau ia juga harus menerima kenyataannya. Kalau sekarang dirinya bukan lagi seorang nyonya.


“Sekarang pergi! Ini uang gunakan sebaik mungkin.” Tanpa menatap wajah Ana. Fahri memberikan sejumlah uang pada mantan istrinya itu.


“Aku harap kamu tidak akan lupa dengan anak yang berada di dalam kandungan ini,” kata Ana yang masih kekeh. Untuk Fahri mengingatnya.


“Aku rasa tidak ada yang perlu dibahas. Sekarang keluarlah,” kata Fahri yang mempersilahkan Ana untuk meninggalkan rumah tersebut.


Dengan langkah yang gontai akhirnya Ana pun keluar juga.


……..


Pukul tujuh malam.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga ini yang terbaik untuk kami." Fahri yang tengah berdiri di balkon, menatap langit malam yang yang penuh bintang. Ia tidak menyangka bahwa rumah tangannya kini telah usai dengan begitu menjijikkan.


Tidak ada raut kesedihan di wajah Fahri lagi, karena dirinya sudah benar-benar ikhlas untuk menjalani semua itu.


Tak ingin larut dalam kesedihan. Fahri memutuskan untuk ke rumah Danu. Untuk menumpang tidur di sana, dirinya tidak akan menempati rumah ini lagi karena pikirnya. Rumah ini sudah tak bisa lagi ditinggali.


Satu jam kemudian. Sesampainya di rumah Danu.


"Sebaiknya kita makan dulu, karena aku tidak akan kenyang kalau mendengarkan keluhanmu." Danu pun mengajak Fahri untuk makan karena sepanjang keluhan temannya itu. Danu belum sempat makan apapun.


"Lantas sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan Ana?" tanya Danu saat Fahri tengah meminum kopi buatan, dari sahabatnya itu.


"Secepatnya aku akan mengajukan cerai di pengadilan. Lagian aku sudah punya bukti-buktinya," jawab Fahri dengan suara tanpa beban.


"Kenapa tidak kamu lakukan sedari dulu. Kalau saja kamu tidak termakan oleh janji, mungkin sekarang hidupmu sudah bahagia." Ucapan Danu membuat Fahri langsung menatapnya, tanpa berkedip. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Yang jelas kata-kata Danu adalah benar.


"Cih, ternyata benar. Kalau aku hanyalah seorang yang bodoh," batin Fahri di dalam hatinya. Yang sedang menertawakan akan nasibnya sendiri.


"Sudahlah, yang penting kamu sudah sadar jika dirimu adalah seorang yang bodoh." Danu pun memaki Fahri dengan kata-kata bodoh, karena memang kenyataannya seperti itu. Sahabatnya terlalu lembek, untuk ukuran seorang laki-laki. Hanya karena janjinya pada orang tua Ana. Hingga ia lupa kalau dirinya juga butuh kebahagiaan.


"Ceramah saja terus. Dengan begitu aku kenyang," sungut Fahri menatap sebal ke arah Danu.


Akhirnya obrolan pun dihentikan karena mereka berdua tengah makan malam.


Sampai tengah malam pun Fahri tidak bisa tidur. Pikirannya sedang berkelana, dan tidak tahu respon bu Nani saat beliau tahu jika dirinya dan Ana, sudah tidak lagi menjadi suami istri.


Berawal dari sang mama. Mengalami perampokan. Hingga mengakibatkan luka yang cukup parah. Tiba-tiba ibunya Ana menolongnya hingga membawa ke rumah sakit, tanpa ada identitas yang diketahui. Itu karena semua barang berharga milik bu Nani raib.


Selama tiga hari di rumah sakit, ibunya Ana dengan setia menunggu sampai ada yang mengetahui keadaan orang tersebut. Benar saja, saat bu Nani sadar dan tepat di saat itu. Fahri yang berhasil mencari informasi dari orang-orang akhirnya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang mama.


Pada akhirnya, dari situlah rasa hutang budi timbul di benak bu Nani, dan untuk menebusnya. Bu Nani meminta Fahri untuk menikahi Ana, yang pada saat itu dia juga sudah punya kekasih.


Fahri, sebagai anak tak bisa menolak keinginan sang mama, ditambah lagi ia juga sudah jatuh hati pada soso Ana yang terbilang masih polos kas perdesaan. Namun, semuanya tidak seperti yang dibayangkan. Cinta yang diharapkan bukannya bersemi namun malah menjadi racun dalam rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2