Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
7. Rencana jahat Ana dan Leo


__ADS_3

"Fahri." Jawab Ana dengan nada sedikit gemetar karena ia ingat betul apa yang disampaikan lelaki itu padanya.


"Apa yang kamu maksud, bisa kan mengatakannya dengan jelas, tanpa harus bertele-tele." Ucapan Leo seketika membuat Ana mengangguk dan mulai melanjutkan, apa yang ingin disampaikannya lagi.


"Fahri akan memulangkan aku," ucap Ana dengan tatapan yang tak teralihkan.


"Ya bagus dong kalau begitu," ujar Leo tersenyum.


"Masalahnya tidak ada pembagian harta gono-gini, lantas bagaimana caranya aku mendapatkan pemasukan, sedangkan kamu, kamu sama sekali tidak bekerja."


Mata Leo membulat sempurna karena ia tidak mungkin mempertahankan wanita tanpa berduit. Itu karena alasan pertama untuk bisa mendapat uang tanpa harus bekerja, dengan susah payah.


Sedangkan Leo, Leo hanya seorang pengangguran dan semuanya yang menanggung adalah Ana. Bagaimana bisa Leo akan bertahan dengan Ana jika perempuan itu tidak dapat menghasilkan uang untuknya?


"Sayang, kamu denger aku ngomong gak sih." Ana sedikit kesal karena Leo tidak merespon apa yang dikatakan oleh Ana.


"I-ya aku denger," jawab Leo sedikit gugup pasalnya sedari tadi dirinya terus berpikir caranya bisa terus menghasilkan uang, tanpa harus bekerja.


"Tadi Fahri mengatakan apa saja, siapa tahu dengan begitu kita bisa merencanakan sesuatu." Leo berharap kalau Ana tidak akan mengatakan pada suaminya dengan hal-hal yang akan merugikannya nanti.


"Mas Fahri cuma bilang kalau di antara kita tidak ada anak, maka dari itu tidak ada pembagian harta." Jawab Ana pada Leo, sedangkan saat ini Leo sudah merencanakan sesuatu agar dirinya tidak kehilangan Atm berjalannya, dengan ide yang dibuatnya maka hidupnya akan tetap sempurna.


Sekejap Leo langsung membisikkan sesuatu akan rencana yang dilakukan dengan Ana, dan ia juga yakin jika wanita itu tidak akan menolak. Secara Ana sangat mencintai dirinya setengah mati. Rasa takut kehilangannya membuat laki-laki itu semakin yakin jika rencana yang dibuat tidak akan ditolak.


"Bagaimana? Apa kamu setuju dengan rencana ini, aku harap sih kamu tidak akan menolak." Leo langsung bertanya soal rencana jahat yang sudah disiapkan, dan kini tinggal Ana saja mau bekerja sama atau justru menolak.

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju dengan rencana kamu. Namun, tapi ingat kalau kamu akan menikahi ku untuk selanjutnya." Ana mengungkapkan jika rencana ini berhasil maka Leo harus mau menikahinya.


"Tentu, kenapa tidak. Selama rencana ini berhasil aku akan selalu setia padamu," ucap Leo yang kini mulai merasakan ada yang tidak biasa di tubuhnya.


"Kamu harus berjanji soal itu," kata Ana mengulang lagi akan kata-katanya.


"Kamu tenang saja, percaya saja dengan kalau aku selalu setia asal kamu menuruti apa yang aku mau." Ana menegaskan sekali lagi bahwa lelaki itu harus bersedia bertanggung jawab setelah apa yang terjadi nantinya.


"Untuk masalah itu kita bahas nanti, karena aku butuh kehangatan dari tubuhmu. Jadi, sekarang lakukan tugasmu yang seperti biasa.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk bermain-main di atas ranjang, dengan lihai Ana memainkan peran layaknya seorang istri dan Leo begitu sangat menikmati itu.


Keduanya sudah dibanjiri oleh keringat kenikmatan. Entah sudah berapa lama mereka masih bermain-main di atas ranjang.


Di ruang tamu. Hanya ada suara lenguhan dan erangan dari bibir keduanya, karena hasil ciptaannya yang dibuat sendiri. Menikmati tiap sentuhan, lalu menghirup aroma tubuh khas orang yang sedang bercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah Fahri.


Fahri yang saat ini sedang duduk termenung di meja makan. Menatap makanan yang dibawakan oleh Yuni, bukan menu istimewa namun sangat sederhana. Ia tidak habis pikir kenapa Danu bisa melakukan ini padanya. Hanya karena makanan sampai harus rela menyuruh seseorang mengirim.


"Begitu pedulinya kamu padaku, Danu." Fahri membatin dan merasa bahwa dirinya sangat beruntung karena mendapatkan teman seperti saudara, yang selalu memberikan perhatian padanya. Walau terkadang mulut Danu sangat menyakitkan karena kata-katanya.


"Sepertinya enak," ucap Fahri lirih karena perutnya yang sedikit sakit membuatnya harus segera makan, tidak mau sampai penyakitnya kambuh. Lalu Fahri untuk sementara melupakan akan kejadian-kejadian yang membuatnya naik pitam.

__ADS_1


“Hmmm … Makanan ini meski sederhana namun rasanya sangat membuat lidahku tidak ingin berhenti mengunyah,” ucap Fahri yang memuji menu yang terdapat di mejanya.


Fahri memakan habis tanpa tersisa sedikitpun. makanan yang sudah tandas olehnya kini di letakkan di tepat cucian piring.


“Boleh juga masakan gadis itu, dan sepertinya dia sangat lihai dalam mengolah makanan.” Lagi-lagi Fahri memuji makanan Yuni.


Saat masih menikmati lauk yang tersisa, tiba-tiba suara pintu terbuka dan Fahri yakin jika itu adalah istrinya. Sekarang dirinya tidak akan memberikan perhatian lagi pada sosok wanita yang tidak tahu diri itu. Untuk sekarang Fahri ingin membuang rasa cintanya pada Ana, karena itu percuma dan tentunya akan sia-sia.


Setelah makan dan membersihkan meja, Fahri langsung keluar meninggalkan dapur lalu menuju ke ruang kerja. Yah, hanya tempat itulah yang paling nyaman untuknya menenangkan diri, dari beban hidup yang dilakoninya sekarang.


Klunting.


Gawai milik Fahri yang ada di depan meja tengah mengeluarkan suara, dan nampaknya sebuah pesan ingin segera di buka lalu di bacanya. Benar saja saja, dengan cepat Fahri langsung membaca pesan yang ada di aplikasi hijau tersebut.


“Apa aku tidak salah baca, apa yang harus aku lakukan sekarang. Tidak mungkin aku menyakiti hati mama dengan sebuah lelucon yang sedang terjadi padaku,” ucap Fahri frustasi karena sungguh tidak menyangka jika bakal seperti ini akhirnya.


Fahri mengacak-ngacak rambutnya dengan sangat kasar karena sekarang dirinya berada di posisi yang terjepit.


“Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku berdamai dengan kenyataan yang sangat pahit ini,” ujar Fahri sedikit berteriak karena memang hal ini membuatnya sangat terpukul.


Akhirnya dengan kaki yang lemas serta langkah gontai, Fahri langsung keluar dari ruang kerjanya karena ia harus menyampaikan sesuatu pada Ana.


Dilihatnya di penjuru ruangan tidak Ana istrinya, jadi Fahri memutuskan ke kamar karena instingnya mengatakan jika perempuan yang sudah berstatus istrinya itu berada di kamar.


Benar saja, baru saja Fahri akan mengetuk pintu kamar, namun sudah terlebih dulu di buka oleh Ana.

__ADS_1


“Aku ingin bicara padamu, dan aku berharap jika kamu tidak akan mengecewakan atas apa yang akan aku katakan.” Fahri mengungkapkan soal apa yang baru saja diterimanya lewat pesan singkat, dengan wajah datar Fahri menyampaikannya pada Ana.


“Apa yang ingin, Mas katakan?”


__ADS_2