
Hari-hari yang dilalui oleh Fahri, tanpa terasa begitu sangat cepat. Hingga sosok Nabila kini tumbuh dan menjadi bocah yang sangat cantik di usianya yang lima tahun, tanpa disangka bocah manis itu bicara dengan lantang akan permintaannya.
Mungkin karena merindukan sosok perempuan, dengan gelar seorang ibu.
"Pa, Billa mau mama."
Uhuk.
Uhuk.
Seketika Fahri tersedak dengan apa yang diucapkan oleh bocah tersebut, dan untung saja di depannya ada air minum.
"Apa dia pikir meminta mama, itu segampang meminta ice krim?" pikir Fahri karena ini bukan kali pertama bocah cantik itu meminta seorang mama.
"Sayang, tidak segampang itu ya. Papa harus menyeleksi calon mama untuk Bila, memangnya Bila mau jika suatu saat punya mama jahat?" Fahri mengangkat alisnya, seolah-olah kalau mencari mama memang harus disortir kelayakannya.
"Tidak Papa, Bila tidak mau punya mama jahat, tapi Bila mau punya mama seperti aunty Yuni." Nabila terus berceloteh pada Fahri soal keinginannya yang ingin sekali mempunyai mama, apalagi jika yang dia mau itu adalah sosok Yuni.
__ADS_1
"Maka dari itu, Papa ingin mencari yang benar-benar mau menerima kita.” Jawab Fahri pada sang putri.
“Pa,” panggil Billa pada sang papa, lalu dengan cepat Fahri pun langsung menoleh.
“Wajah mama seperti apa?” tanya bocah kecil itu lagi, dengan wajah memelas ia terus saja bertanya soal sang mama.
“Yang pasti mama itu orangnya cantik, persis sama kamu.” Jawaban yang diberikan oleh Fahri setidaknya tidak membuat gadis itu bertanya terus.
“Sekarang kamu sama bibi ya, Papa ada kerjaan yang harus segera di selesaikan. Kamu ingin liburan ke bali kan, maka dari itu Papa harus giat cari uangnya.” Terpaksa Fahri berkata seperti itu, karena ia tidak mau sang putri terus membicarakan soal perempuan, yang sudah melahirkannya.
“Ya Allah maafkan hamba yang tak bisa memberikan seorang orang tua yang dia mau,” batin Fahri, yang saat itu sudah berdiri dan pergi meninggalkan Nabila dengan seorang pengasuh.
“Mbok, titip Nabila ya.” Fahri menghampiri mbok Sum yang berada di dapur. Memintanya untuk menjaga anaknya karena ia harus pergi.
“Bak Tuan, Mbok akan selalu menjaganya.” Jawab mbok Sum.
…………..
__ADS_1
Fahri yang sekarang berada di cafe milik Danu, tengah meneguk segelas jus.
“Rih,” tegur Danu saat melihat temannya itu tengah menyeruput minuman.
“Apa kamu tidak bisa mengucapkan salam terlebih dulu,” dengus Fahri karena Danu main nyelonong tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.
"Iya, Assalamualaikum … Tadi kelupaan," kata Danu lalu segera mengucap salam agar Fahri tidak protes.
"Waalaikumsalam." Jawab Fahri dengan suara sedikit enteng, daripada tadi.
"Kenapa wajah kamu terlihat loyo? Apa kamu belum makan?" ejek Danu pada Fahri.
"Nabila minta mama, apa dia pikir nyari mama seperti nyari nyamuk! Ada-ada saya itu bocah." Fahri sedikit frustasi dengan permintaan Nabila, sedangkan Danu bukannya iba. Justru malah tertawa melihat Fahri, seakan-akan dirinya senang jika Danu menderita.
"Sudah tertawanya, lalu apa kamu puas juga melihat diriku yang terus di rengeki, oleh Nabila!" ucap Fahri lagi yang tak tau harus berbuat apalagi.
"Maaf, karena kamu sungguh membuat perutku terasa mirip telor yang di kocok." Jawab Danu dengan menahan mulutnya, agar tidak mengeluarkan sebuah tawa.
__ADS_1