Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
16. SESUATU YANG TIDAK BERES


__ADS_3

Yuni masih setia berada di samping sang ayah. Menemaninya hingga lupa bahwa di luar ada bos nya. Mungkin karena terhanyut dalam suasana hatinya yang teramat miris. Jadi, ia lupa bahwa dirinya pergi dengan seseorang.


"Astaghfirullah. Aku tadi kan sama bos kesini nya," Yuni yang baru sadar buru-buru keluar dari kamar dimana ayahnya di rawat.


Sesaat netra Yuni menyusuri tiap sudut guna mencari Fahri, namun tidak ditemukan.


Yuni mengerutkan keningnya pertanda bahwa sekarang otaknya sedang berpikir keras, dan dalam hatinya sedang bertanya-tanya. Ke mana bos nya pergi.


"Ke mana itu bos nya?" ucap Yuni Lirih, dan keadaannya sedikit radak tenang karena ternyata ayahnya kembali stabil.


Kruuuk.


Kruuuk.


Terdengar bunyi suara dendangan dari dalam perut Yuni, ia memegang perutnya karena merasa bahwa saat ini membutuhkan makanan.


"Ya Allah aku lapar, tapi aku juga tidak pegang uang. Tasku masih berada di kantor terus bagaimana aku bisa makan," gumam Yuni tertunduk lemah karena merasa jika tenaganya benar-benar habis, dan butuh asupan untuk mengembalikan tenaganya lagi.


Dari kejauhan, mata Yuni terus memandangi bos nya itu. Tidak dipungkiri bahwa ia juga memuji akan ketampanan pria itu.


"Darimana orang itu?" gumam Yuni seraya terus menatap lelaki itu, dengan gagahnya berjalan ke arahnya.


"Yun, makanlah. Saya tadi lapar jadi tidak mungkin menunggu kamu menangis sesenggukan di dalam sana!" kata Fahri dengan wajah kakunya, dan itu membuat Yuni salah tingkah.


"Apa aku terlihat sangat menyedihkan, sampai-sampai dia berkata seperti itu." Dalam hati Yuni merasakan dongkol karena tanpa sengaja lelaki yang ada di depannya tengah menyindirnya.


"Terimakasih, karena saya memang lapar, Pak." Jawab Yuni tanpa malu. Meski keduanya bukan teman, melainkan bos dan bawahan.


Setelah itu Yuni mengambil kotak yang entah isinya apa dia tidak tahu. Yang ada dipikirannya saat ini, yaitu makan.


...----------------...


Sore hari, setelah Fahri pulang dari mengantarkan Yuni pulang. Ia juga langsung pulang, namun saat masuk ke dalam rumah ia memicingkan matanya saat mendengar suara seseorang muntah-muntah.


Hueeek.

__ADS_1


Hueeek.


Terdengar jelas dari arah kamar mandi bawah, dan sangat jelas itu suara siapa.


Hueeek.


Hueeek.


Lagi, Fahri mendengarnya. Rasa penasaran membuatnya menutup mata pada istrinya yang seharusnya tidak ingin ia ketahui.


"Kenapa kamu?" suara bariton dari arah pintu. Membuat Ana langsung memutar tubuhnya untuk bisa menatap lawan bicaranya.


Wajah pucat. Layaknya orang sakit, dan rambut berantakan. Terlihat jelas di mata Fahri.


"Aku gak tau Mas, dari tadi pagi aku mual dan muntah terus." Ana mengungkapkan jika seharian ini dirinya terus merasakan mual dan muntah, di hadapan Fahri ia layaknya orang yang akan sekarat. Yang biasanya tegas dan berani, tetapi sekarang Ana tidak berdaya.


"Siapa tahu kamu hamil," ucap Fahri yang langsung saja berkata tanpa memikirkan tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari mulutnya.


Sejenak Ana ikut memikirkan tentang apa yang baru saja disampaikan oleh Fahri. Ana yang mengingat-ingat kapan terakhir dirinya datang bulan, karena sudah lewat tanggalnya. Bahkan jauh dari yang biasanya ia sudah tidak merasakan datang bulan.


"Astaga, apa aku benar-benar hamil, karena hampir dari tanggal perkiraan aku haid, namun tak kunjung datang bulan juga." Batin Ana bergejolak memikirkan akan dirinya yang tak kunjung datang bulan. Ditambah sekarang mual dan muntah.


"Ti-tidak. Aku hanya berpikir apa mungkin aku … Aku–,"


"Hamil maksudmu?"


"I-ya."


"Kenapa tidak mencoba untuk periksa, periksalah siapa tahu kamu beneran hamil." Setelah mengatakan dan menyuruh Ana untuk periksa. Fahri pun, langsung pergi tanpa kata dan tanpa pamit. Ana yang melihat kepergian Fahri merasa kesal karena tidak mendapat perhatian dari laki-laki tersebut.


"Harusnya dipijat atau dibuatin teh kek, ini malah langsung pergi." Ana mengumpat kesal pada suaminya karena merasa Fahri telah benar-benar berubah, dan selalu mengacuhkannya.


Ana teringat akan ucapan Fahri yang menyuruh untuk periksa. Maka dengan keadaan lemah ia berjalan keluar untuk membeli alat tes kehamilan, agar bisa memastikan bahwa dirinya betul-betul hamil.


Sedangkan di dalam kamar tamu, yang di tempati oleh Fahri. Sejenak ia berpikir dan itu sangat membuatnya bertanya-tanya di dalam hatinya.

__ADS_1


Ana, mulai tadi pagi mual dan muntah dan itulah yang memenuhi isi kepalanya antara masuk angin atau hamil. Itulah yang sekarang ia pikir. Kalau betul Ana hamil, ia takut jika akan menjadi masalah lagi untuknya.


Lama berpikir hingga ia memutuskan untuk menemui Danu, dan akan mengajak ke rumah dokter Figo untuk memastikan sesuatu, dan menyakinkan kalau anak yang ada di dalam rahim Ana. Bukanlah anaknya jika istrinya benar hamil.


Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Fahri langsung turun dari tangga, namun sejak ia naik ke atas. Fahri belum melihat Ana.


"Apa mungkin ia tidur, atau sedang keluar untuk membeli alat tes kehamilan, seperti yang aku katakan tadi." Fahri berpikir keras untuk memastikannya. Keberadaan Ana.


Saat Fahri melangkah untuk bersiap masuk ke dalam mobil. Terlihat sebuah mobil berwarna putih tengah berhenti di depan gerbang. Ia tahu itu mobil milik siapa, dan ternyata benar kalau Ana sedang berada di luar. Entah apa yang dibelinya karena Fahri tidak mau tahu soal itu.


Dengan wajah acuhnya. Fahri melewati Ana, dan itu membuat wanita muda yang tengah berjalan menghentakkan kakinya.


"Aku sangat muak dengan sikapnya. Sudah berusaha di baik-baikin. Tetap saja tidak peduli," ucap Ana yang berjalan ke arah rumah, namun dengan mulut yang tidak berhenti mengumpat.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain. Fahri yang sudah berada di cafe milik Danu. Seketika menghempaskan bokongnya di kursi yang sudah disediakan.


Karyawan Danu yang mengetahui kedatangan bos nya. Buru-buru membuatkan minuman untuk Fahri.


"Pak, silahkan di minum." Pelayan itu pun langsung menyodorkan minuman untuk Fahri dan langsung meletakkannya di meja.


"Terimakasih." Fahri tak lupa, mengucapkan kata terimakasih pada pelayan tersebut. Sembari menunggu sang pemilik Fahri lantas menyeruput kopi yang berada di hadapannya itu.


Beberapa detik kemudian. Terlihat sosok pria yang berperawakan tinggi, dengan setelan yang pas di tubuhnya. Lelaki itu pun langsung menghampiri Fahri.


"Maaf menunggu lama, apa yang ingin kamu bicarakan, Fahri?" tanya Danu dengan menggulung lengan kirinya.


Aku butuh bantuan kamu," ujar Fahri.


"Apa."


"Kami ikut denganku sebentar," ajak Fahri.


"Memangnya aku, mau kamu ajak ke mana?"

__ADS_1


"Rumah sakit, untuk memastikan saja."


"Memangnya apa yang terjadi? Apa kamu sakit, sehingga memintaku untuk ke rumah sakit." Danu menatap lekat wajah Fahri, karena dengan harapan kalau orang yang berada di depannya akan segera menjawab.


__ADS_2