Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
9. KEDATANGAN MAMA FAHRI, SANDIWARA TELAH DIMULAI


__ADS_3

Tepat hari ini dimana kedatangan bu Nani, ke rumah sang anak, siapa lagi kalau bukan Fahri. Sekarang beliau sudah berada di depan rumah dan bersiap untuk masuk.


Selama ini bu Nani berada di desa sebrang, dan baru kali ini dirinya datang ke rumah Fahri, setelah dua tahun lalu. Menurutnya hidup di desa itu sangat enak dan nyaman, karena lingkungannya yang selalu membuatnya tenang serta menghabiskan masa tua tentunya.


Bertepatan dengan datangnya bu Nani, Fahri juga baru saja sampai. Setelah menyakinkan mobil itu milik sang mama.


"Rupanya mama sudah datang," batinnya dalam hati. Lalu Fahri pun langsung menepikan mobilnya dan segera ikut masuk juga.


"Assalamualaikum, Ma." Fahri dengan langkah yang cepat segera menyamai langkah sang mama dan langsung menegurnya.


"Waalaikumsalam, Nak." Bu Nani pun menimpali dan dengan segera langsung memeluk putra satu-satunya itu. Dengan pelukan yang diberikan ibunya, Fahri merasa damai dan kehangatan itu tiba-tiba muncul menyelimutinya, di saat hati dan pikirannya kacau.


"Bagaimana kabar, Mama?" Fahri pun langsung bertanya tentang kondisi sang mama karena sudah dua tahun ini, mereka tidak bertemu satu sama lain.


"Alhamdulillah sehat, Nak." Bu Nani lantas melepaskan pelukannya dari sang anak.


"Ya sudah kita masuk yuk, Ma. Mungkin saja Ana sudah menyiapkan makan untuk kita, karena bau wangi masakan tercium di hidungku." Ucapan Fahri membuat bu Nani tersenyum, menandakan jika hubungan keduanya masih tetap baik-baik saja, tanpa ada masalah apapun.


Akhirnya ibu dan anak masuk, dan memang benar jika bau masakan tercium dari indra penciuman mereka, dan Fahri untuk kali pertama. Selama tiga tahun baru merasakan aroma sedap dari arah dapur.


Ceklek.


"Ma, Mama duduk dulu. Soalnya Fahri mau liat Ana sekalian mau ganti baju dulu," ucap Fahri lantas berpamitan.


"Iya, Nak." Jawab bu Nani pada Fahri. Sosok wanita baru baya namun masih terlihat sangat segar dan masih sangat kokoh, biarpun wanita itu sudah berusia 50 tahun.


Fahri yang baru saja meninggalkan ibunya. Langsung saja menuju ke dapur untuk melihat Ana, yang sepertinya tengah berperang dengan alat masak.


Ekhem.


Mendengar deheman, wanita itu pun langsung menoleh.


"Mas, sudah pulang?" tanya Ana semanis mungkin.


"Apa kamu tidak melihat," sahut Fahri dengan suara datar.

__ADS_1


Sedangkan Ana masih berusaha bersikap manis pada suaminya, dan tersenyum menawarkan kopi.


"Mas, mau teh?" Ana lantas menawari Fahri yang terlihat acuh akhir-akhir ini.


"Tidak dan terimakasih. Mama sudah ada di depan, aku harap bijaklah dalam bersikap." Fahri langsung mengatakan tujuan awalnya pada Ana, dimana ia memberitahu jika orang tuanya sedang mengunjunginya.


"Tentu, aku tahu kok. Jadi, kamu tidak perlu kuatir." Jawab Ana dengan seulas senyuman yang mengembang, menghiasi bibir seksi itu.


Setelah memberitahu tujuannya, lantas Fahri langsung keluar dan masuk ke dalam kamar untuk mandi. Sekarang bukan kamar yang biasa ditempatinya bersama sang istri, melainkan kamar tamu. Untuk saat ini Fahri memutuskan untuk tidur sendiri karena sudah tidak sudi untuk satu kamar lagi dengan Ana.


Tidak berapa lama kemudian. Fahri sudah kembali lagi untuk menemui sang mama.


"Ma, Mama ingin makan dulu atau mau mandi?" tanya Fahri pada sang mama yang masih terduduk di sofa.


"Mama mau mandi dan setelah itu sholat," jawab bu Nani.


Fahri mengangguk dan langsung mengantarkan bu Nani ke kamar.


"Ma, tadi ke sini diantar pak Gugun kan?" tanya Fahri yang teringat akan kedatangan bu Nani bersama siapa.


Beberapa jam kemudian. Setelah bu Nani selesai bersih-bersih dan sudah keluar juga dari kamar. Melihat menantunya sedang berada di ruang tamu, gegas perempuan paruh baya tersebut menghampirinya.


"An," sapa bu Nani, saat melihat menantunya sedang bermain dengan ponselnya.


"Eh, Mama." Ana tersenyum menimpali sapaan mertuanya.


Sedangkan terlihat dari arah dapur, Fahri baru saja keluar dengan membawa cangkir, entah ia sedang membuat apa? Karena bu Nani belum sempat bertanya karena tiba-tiba saja terdengar ponsel milik Ana berdering.


"An, itu berisik. Apa kamu tidak berniat untuk mengangkatnya," ujar bu Nani pada menantunya.


"Tidak, Bu. Ini nomor tidak penting jadi tidak perlu di angkat," jawab Ana sedikit gugup dan itu tertangkap jelas dari pandangan Fahri, yang masih berdiri dan belum berniat untuk duduk.


"Jika tidak ingin mengangkat, maka matikan karena itu sangat berisik." Fahri pun buka suara dan mengeluh soal suara tersebut pada Ana.


"I-ya, Mas." Jawab Ana sedikit tergagap karena seseorang terus saja menghubungi.

__ADS_1


"Apa tidak bisa saja teleponnya, aku sudah mengatakannya kemarin. Kenapa masih terus menghubungiku sih," decak Ana dalam hati saat nama seseorang yang terpampang jelas di layar ponsel.


Benar saja, tidak berapa lama kemudian ponsel di senyap kan agar tidak menimbulkan suara.


"Ma, Mas, kita makan dulu saja yuk. Keburu makanannya dingin," ajak Ana untuk menghilangkan kecanggungan di antara dirinya dan mertuanya.


Sekarang Ana harus benar-benar bersikap manis, dan itu harus ia lakukan agar mertuanya tidak curiga akan hubungannya dengan anaknya, Fahri. Sebuah drama telah di mulai dan bendera perang akan segera di kibarkan.


"Baiklah, kita makan dulu. Itu karena setelah makan, ada yang ingin Mama sampaikan pada kalian." Bu Nani pun langsung beranjak dari duduknya dan diikuti oleh anak dan menantunya.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain.


Danu sedang mengajak Yuni bertemu di sebuah cafe, untuk membicarakan soal tawaran yang diberikan pada Danu.


Danu sedang menunggu Yuni, karena memang tadi sudah berencana untuk melakukan misi, dengan cara Yuni lah yang akan menjadi senjatanya.


"Pokoknya saya harus bisa membuat mereka berpisah apapun yang terjadi, karena wanita itu memang benar-benar tidak pantas. Untuk laki-laki yang baik," ucapnya dalam hati seraya mengeratkan giginya hingga menimbulkan suara.


Tidak berapa lama, terdengar suara seseorang dengan nafas tersengal. Lalu Danu pun melirik ke arah suara tersebut dan.


"Cepat duduk karena saya tidak punya banyak waktu," kata Danu dengan tatapan bak kulkas. Dingin dan sangat kaku, menurut Yuni.


"Maaf saya telat," ucap Yuni yang memang sedikit telat karena ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya.


"Ada apa Bapak ingin bertemu dengan saya!"


"Ingin memberi tawaran untuk kamu, saya tahu kalau sekarang kamu sedang membutuhkan uang kan?" sedetik Danu menatap Yuni dengan senyuman yang di sudut bibirnya.


"Apa maksud, Bapak!" Yuni langsung menatap tajam ke arah laki-laki yang berada di depannya saat ini.


"Jangan pura-pura bodoh, Yuni. Saya mendengar semuanya," ucap Danu dengan tatapan seperti tadi, masih di posisi dingin.


"Apa pak Danu mendengarkan aku berbicara di telepon tadi ya?" dalam hati Yuni bertanya-tanya, mengapa sahabat dari bos nya itu tahu dan bisa-bisa laki-laki itu menguping pembicaraannya, lewat sambungan telepon seluler.

__ADS_1


__ADS_2