Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
35. FAHRI DILEMA


__ADS_3

Saat Danu menertawakan Fahri, ternyata ia jug tidak sadar kalau sebetulnya dirinya sama dengan Fahri, sama-sama pria lapuk.


"Sepertinya kamu lupa satu hal, Danu?" kata Fahri dengan memicingkan satu matanya.


"Apa?" tanya Danu penasaran.


"Aku memang lapuk, seenggaknya sudah pernah menikah, lantas kamu apa? Cih bisa-bisanya kamu mengejekku tanpa berkaca dulu." Fahri langsung menyerang balik dan seketika Danu diam. Sama sekali tidak berkutik karena ucapan Fahri yang menyindir Danu.


"Apa kamu menyindirku," kata Danu karena Fahri berbicara tanpa menatapnya, namun ucapannya seperti menuju kepadanya.


"Memangnya kamu merasa?" ujar Fahri.


"Dasar sialan," umpat Danu karena merasa jika Fahri sudah mempermainkannya.


"Baiklah, sekarang waktunya serius. Lantas apa rencana kamu untuk sekarang? Memang betul apa kata Nabila kalau kamu itu butuh seorang istri untuk bisa memenuhi kebutuhan anak kamu itu," ujar Danu yang membenarkan ucapan Nabila.


"Nyatanya sampai dia Bila usia segini, aki bisa merawatnya kan. Jadi, aku rasa tidak butuh sosok itu." Jawab Fahri.

__ADS_1


"Apa kamu yakin kalau selama ini hanya kamu yang mengasuhnya!" Danu menatap sinis ke arah Fahri, lalu memicingkan matanya karena sepertinya ia lupa. Siapa yang sudah membantunya selama ini, dan menyusahkan hampir banyak orang.


"Apa itu artinya kamu tidak ikhlas?" Fahri membalas tatapan Danu yang layaknya dua orang sedang perang dingin.


"Bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau semuanya sanggup dilakukan tanpa meminta bantuan, cih nyatanya ada banyak orang yang kamu repotkan." Ucapan Danu membuat Fahri langsung menghela nafas, karena apa yang dikatakan oleh Danu. Semuanya benar karena seperti itulah kenyataannya.


Lelah berdebat karena keduanya tidak ada yang mau mengalah. Hingga Danu memutuskan pergi dan menyudahi obrolan yang tidak jelas.


Yah memang semua tak luput dari bantuan Danu, Sintia, dan juga Yuni. Yang selalu bergantian menjaga Nabila, karena Fahri tidak bisa mengurus sendirian karena ia juga perlu bekerja.


Setelah Danu pergi, dan Fahri sendirian di cafe. Semuanya seakan menjadi satu dan memikirkan permintaan Bila. Tidak dipungkiri bahwa ia juga butuh sesosok wanita yang bisa menyambutnya, kala pulang bekerja.


Memutuskan untuk pulang itu jauh lebih penting, karena hari juga sudah sore.


Sesampainya di rumah. Fahri buru-buru mandi dan segera melaksanakan sholat ashar, dengan begitu setelahnya ia dapat beristirahat.


Namun, belum sempat ia masuk ke dalam kamar. Putri kecilnya itu langsung berlari memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Ayah," gadis itu langsung merangkul Fahri layaknya dua orang yang tidak pernah bertemu.


"Hye sayang, kenapa? Apa kamu sedang merindukan Ayah." Lantas Fahri langsung membalas pelukan tersebut. Dengan sesekali mengusap pucuk kepala anak itu.


"Tidak Ayah. Bila ke sini cuma mau tanya, apa Ayah sudah menemukan kriteria ibu untukku?" kata-kata Bila membuat Fahri tertawa, ia kira bocah kecil itu akan lupa dengan permintaannya. Akan tetapi dirinya salah, karena Bila ternyata ingat dan menagih apa yang diinginkannya pada sang ayah.


"Kamu sabar dulu ya sayang, Ayah masih mencari yang betul-betul serius mencarikan kamu seorang mama. Jadi, sabar sebentar ya." Jawaban Fahri membuat gadis mungil itu langsung mengangguk, dan tidak lagi protes karena ia yakin kalau ayahnya tidak akan ingkar janji.


"Sekarang Ayah mau tidur sebentar ya. Nanti kita akan makan di luar," kata Fahri yang menjanjikan Bila untuk makan diluar.


"Baik Ayah, selamat tidur."


Drttt.


Drttt.


Belum sempat masuk kamar lagi, namun suara ponsel yang ada di sakunya. Membuat Fahri mengurungkan niatnya untuk istirahat.

__ADS_1


"Apa-apaan ini!" seru Fahri ketika membaca pesan singkat di ponselnya.


__ADS_2