Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
14. ISTRI LICIK


__ADS_3

Fahri pulang dari cafe pukul sepuluh malam, dan sempat mengantar Yuni ke rumah sakit untuk tetap setia menunggu sang ayah hingga sadar. Danu tidak mau karena lelaki itu pergi dengan menggunakan motor. Jadi, dengan terpaksa Fahri mengantarkan Yuni.


Sesampainya di rumah, Fahri pun langsung naik ke atas ranjang, dan melihat jika Ana sudah tidur lebih dulu.


Fahri terpaksa tidur sekamar lagi dengan Ana, karena tidak mau bu Nani curiga karena dirinya dan istrinya tidur dengan cara terpisah.


Saat Fahri yang sudah bersiap untuk tidur. Tiba-tiba kerongkongannya terasa tercekat karena haus.


Sedetik Fahri tersenyum karena ia tidak jadi turun hanya untuk mengambil air minum. Di nakas ternyata sudah ada gelas berisikan air putih yang masih penuh. Itu tandanya air minum itu baru saja diisi.


Gluk.


Gluk.


Gluk.


Sekarang sudah merasa segar karena Fahri menghabiskan separuh gelas air minum.


Saat ingin membuka ponsel, tiba-tiba saja mulutnya terus menguap dan merasakan berat di kelopak matanya. Rasa kantuk yang tidak bisa tertahankan, membuatnya segera memejamkan mata.


...----------------...


Keesokan paginya.


"Astaghfirullah," ucap Fahri dengan rasa campur antara percaya dan tidak. Dengan kenyataan yang baru saja dialaminya.


"Ya Allah. Apa yang terjadi?" Fahri dalam gumamnya terus bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi.


Seingatnya, semalam dirinya sungguh tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, sekarang, sekarang malah dirinya menemukan seluruh tubuhnya tanpa benang sehelai pun.


Uhhhh.


Sedangkan Ana yang berada di samping Fahri. Tengah menggeliat pelan, mungkin saja karena merasa terganggu akan Fahri yang tak bisa diam. Hanya karena mendapati dirinya tengah bertelanjang. Bukan, bukan soal itu yang ada di pikirannya, ia merasa jika dirinya tidak melakukan apapun pada Ana.


"Mas," tegur Ana pada Fahri.


"Apa yang terjadi semalam? Bukannya aku pulang dan langsung tidur," kata Fahri dengan nada emosi.


"Memangnya apa yang kita lakukan semalam. Bukannya kamu dulu yang menyerangku, dengan sangat brutal…."


"Bohong, aku tidak percaya bahwa tubuhku bersatu dengan tubuh kotormu itu…."


Plak.

__ADS_1


Ana langsung menampar keras pipi Fahri.


"Kurang ajar, berani-beraninya kamu menamparku!" bentak Fahri yang kini semakin bertambah marah.


"Kamu yang meminta, tapi kamu juga yang tidak menerima. Apa kamu buta dengan keadaan ini," kata Ana dengan wajah yang penuh emosi.


"Karena kamu adalah perempuan murahan, dan kamu tahu. Sampai kapanpun barangku tidak akan bangun walau kamu istriku, karena ia tahu mana wadah yang bermerek dan imitasi. Fahri sangat geram dan dengan terang-terangan ia mengatakan jika miliknya tidak akan bangun. Meski yang menyentuh adalah istrinya sendiri.


"Jangan menghinaku, Mas. Itu karena aku adalah masih istri sah kamu, kata Ana dengan wajah yang pucat.


"Aku tidak peduli karena kenyataannya memang seperti itu."


"Aku pun sama, mau kamu percaya atau tidak. Yang pasti semalam kita sudah melakukannya," ujar Ana dengan senyuman yang penuh kelicikan.


Setelah berdebat dengan Ana. Fahri memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, karena sebentar lagi ia akan melakukan sholat subuh.


Layaknya seorang wanita. Fahri ke kamar mandi dengan menggunakan selimut, karena baginya. Istrinya haram untuk ia sentuh dan tidak akan pernah menyentuhnya sampai kapanpun.


Dan Ana yang masih berada di atas tempat tidur. Tersenyum puas karena suaminya tidak akan mengelak jika suatu saat dirinya hamil. Maka dengan begini Fahri mau menerimanya dan juga anaknya, dan satu hal yang diharapkan setelah ini.


Saat mendengar pintu dibuka. Ana pura-pura tidur agar tidak membuat Fahri curiga, dan menganggap jika Ana benar-benar kelelahan.


Setelah menjalankan ibadah, Fahri turun. Ternyata di bawah ia sudah melihat sang mama yang juga sudah bangun.


Rumah Fahri sangatlah luas, tangganya terletak di ruang tamu. Yang menghubungkan dengan ruang keluarga, lalu belok ke kiri menuju dapur.


Di ruang tamu ada dua kamar, dan yang ada di lantai ada tiga ruangan. Dua kamar dan satu ruang kerja milik Fahri.


Pada saat turun maka ia bisa melihat orang-orang yang ada di rumahnya. Termasuk bu Nani yang saat ini ingin ke dapur namun langkahnya terhenti karena Fahri.


"Kamu sudah sholat, Nak?" tanya bu Nani pada Fahri.


"Sudah, Ma. Mama mau ngapain ke dapur?" tanya balik bu Nami.


"Mau buat teh, apa kamu mau."


"Boleh."


Sedikit bisa membuat pikiran Fahri tenang. Itulah yang dirasakan ketika meminum teh hangat.


Sekarang, sang mentari sudah benar-benar terbit di atas sana. Namun, pikiran Fahri tidak secerah pagi ini. Ia hanya berpikir, kenapa istrinya tega berbuat curang kepadanya. Mungkin nanti jika keadaan sudah membaik. Maka dirinya akan secepatnya menggugat Ana, dan untuk sementara. Sepertinya ia harus mengalah dan mengikuti semua permainannya.


Di kantor.

__ADS_1


"Yun, saya butuh teh hangat." Kalau Fahri berkata seperti itu maka, Yuni harus paham.


"Iya, Pak."


Tidak berapa lama kemudian, Yuni sudah membawa apa yang diinginkan oleh Fahri.


"Terimakasih, Yun." Fahri tersenyum pada Yuni saat menerima teh itu.


"Apa Bapak membutuhkan sesuatu?" tanya Yuni basa-basi.


"Sepertinya tidak."


"Terkadang hidup itu penuh perjuangan, Pak. Meski kadang kitalah yang harus menjadi korbannya."


Fahri mendongak, menatap Yuni untuk sesaat.


"Melepaskan atau pertahankan, itulah yang sekarang harus Bapak pilih. Meski rasanya tidak adil bagi kita, namun jika tidak dilepaskan akan membuat nafas kita semakin sesak, dan jika kita mempertahankan maka tidak ada yang mempertahankan kita. Jadi, menurut Bapak."


"Aku perlu memikirkan semuanya, Yun. Orang tua Ana sedang sakit, saya tidak mau membuat keadaan semakin kacau." Jawab Fahri dengan netra yang terus memandang ke arah Yuni.


"Tunggulah pada saatnya datang, karena semua butuh proses. Tidak bisa dengan keadaan kepala yang mengepul, kalau begitu saya permisi." Setelah itu Yuni pun akhirnya pamit untuk kembali bekerja.


Setelah pertemuannya mereka semalam, keduanya sedikit dekat.


Tidak begitu lama pada saat Yuni keluar, terlihat Danu berjalan mengarah ke ruangan Fahri.


"Yun, ada bos kamu?" tanya Danu dan Yuni menebak jika ada sesuatu yang genting. Sehingga Danu berjalan dengan sedikit tergesa-gesa.


"Ada, Pak. Saya baru saja dari dalam," kata Yuni.


"Pekerjaan yang bagus. Terus lanjutkan," ucap Danu tersenyum sambil menepuk bahu Yuni.


Sinta rekan kerja Yuni, tidak sengaja memergokinya. Ia yakin jika temannya tengah bekerja sama, karena terlihat dari cara bicaranya


Setelah kepergian Danu, Yuni kembali berjalan dan.


"Tunggu," panggil Sintia.


"Kamu hutang penjelasan padaku soal percakapan antara kamu dan pak Delon."


"Memangnya apa yang kamu dengar," kata Yuni dengan wajah kelimpungan.


"Nanti siang, kita bicarakan. Aku harap kamu bisa berkata jujur padaku," ujar Sintia. Lalu pergi meninggalkan Yuni yang tengah membawa lap.

__ADS_1


__ADS_2