
Ingin menikahi putri Bapak, jika saya diperkenankan." Seketika Yuni terbelalak menatap kedua pria itu dengan sangat tidak percaya.
Bagaimana bisa laki-laki yang bernama Fahri . Bisa berkata seperti itu, sedangkan dirinya dengan lelaki yang berada di samping bapaknya. Sama sekali tidak ada hubungan apapun. Lalu sekarang mengapa bisa dengan tiba-tiba memintanya untuk dijadikan istri. Sungguh terasa konyol menurut Yuni.
"Apa Bapak sedang demam, makanya…."
"Bagaimana Pak? Apa Bapak setuju saya mempersunting Yunu," kata Fahri yang tiba-tiba berbicara di saat Yuni juga berbicara dan protes.
"Apa-apaan sih ini!" seru Yuni yang sedikit kesal karena Fahri tiba-tiba saja berkata seperti itu.
"Apa dia pikir semua ini lelucon, dan pernikahan di jadikan sebuah candaan." Yuni membatin dengan hati yang dongkol karena, sulit menerima karena keduanya memang tidak ada status apapun.
"Saya tidak bisa memutuskan Nak, walau Yuni adalah anakku. Semua kembali pada seseorang yang ingin kau jadikan istri. Menerima atau tidak, keputusan ada di tangan Yuni." Dengan tegas ayah Yuni berucap dan menyerahkan semuanya pada sang anak.
Kini wajah tampan itu beralih menatap Yuni, setelah mendapat jawaban dari calon ayah mertuanya.
__ADS_1
"Yun," tegur Fahri pada Yuni. Menatap lekat ke arah wanita yang berada di hadapannya. Menanti jawaban yang ingin segera ia dengar.
"Yun, kesempatan tidak datang dua kali. Terimalah lamaran dari Fahri," kata Danu pada Yuni karena lelaki itu ingin keduanya bersatu. Dengan begitu ia akan menjalani hidup dan mencari masa depan jika Fahri sudah menikah. Maka itu tandanya temannya tidak akan merepotkannya lagi dengan berbagai masalah.
"Ini bukan perkara terima atau tidak, tetapi ini soal perasaan. Apa anda paham!" suara yang sedikit keras membuat suasana sedikit kacau. Pasalnya Yuni benar-benar tak bisa menerima jika semuanya tidak didasari dengan cinta.
"Yun, saya serius ingin menikahimu dan ini bukan soal apapun itu, tapi soal saya memang mencintai kamu. Maaf kalau perasaan ini terlambat untuk menyadarinya," ucap Fahri dengan tatapan nanar dan itu membuat Yuni, semakin gelisah.
"Tapi Pak, saya—."
"Saya sudah mendapat restu dari bapak kamu, jadi tidak ada alasan untuk kamu menolak saya." Fahri berbicara lagi, dan sekarang ia harus menjadi lelaki sejati dan membuang rasa takut, sebagaimana lelaki pecundang. Semua harus ia buang jauh-jauh dan berusaha mencari teman di masa depan untuk melengkapi hari-harinya nanti.
Sedangkan Yuni tidak berkutik sama sekali, hanya terdiam sambil sesekali meremas bajunya dengan sangat erat.
Semua telah selesai dan rencana pun berjalan dengan baik, sekarang tinggal penentuan untuk acara pernikahan antara Fahri dan Yuni. Melihat keduanya bersatu membuat Danu tersenyum puas, karena dengan begini ia juga dapat mencari teman hidup untuk menemaninya di hari tua kelak.
__ADS_1
"Saya mohon pamit Pak, karena masih ada urusan yang harus saya kerjakan."
"Terimakasih untuk restunya, karena Bapak sudah bersedia menerima saya sebagai menantu." Fahri berbicara panjang lebar sekaligus pamit, karena di rumah Bila pasti mencarinya.
"Saya yang berterimakasih Nak, karena kamu mau menerima kekurangan kita." Jawab ayah Yuni yang tersenyum bahagia, jika sang anak pada akhirnya ada yang meminang. Bukan tanpa alasan Yuni tidak mau memikirkan akan nasib percintaannya, nyatanya semua waktu diberikan pada sang ayah untuk merawatnya, hingga Yuni lupa akan dunianya sendiri.
Setelah berpamitan Fahri dan Danu langsung keluar rumah.
………..
Tidak berapa lama kemudian, Fahri akhirnya sampai juga di halaman rumahnya. Namun, ada yang aneh saat tiba-tiba mobil berada di depan rumahnya.
"Ini mobil siapa? Kenapa ada di sini. Lantas pintu gerbang juga terbuka," di dalam hati Fahri bertanya-tanya soal mobil tersebut.
Perlahan Fahri mulai berjalan untuk melihat siapa tahu ada tamu datang.
__ADS_1
Dengan dekup jantung yang tidak beraturan, Fahri terus berjalan hingga ia mendengar sosok suara yang tidak asing untuknya.