
"Kenapa Bos ada di sini?" tanya Yuni agak kebingungan karena memang sebelumnya. Fahri tidak pernah menjemput, dan ini kali pertamanya.
"Hanya ingin lebih dekat saja, apa itu tidak boleh?" kata Fahri pada Yuni.
"Ya sudah, jangan banyak tanya. Kita segera berangkat nanti kasian gadisku jika sampai telat," ucap Fahri lagi yang meminta Yuni untuk segera ikut masuk di dalam mobil.
"Aunty, yuk masuk." Billa pun mengajak Yuni secepatnya masuk dan bocah kecil itu menuntunnya ke bagian depan, tepat berada di samping Fahri dan Billa berada di kursi belakang.
Tidak berapa lama kemudian. Mobil meleset dari depan rumah Yuni, dan tujuan sekarang adalah mengantar Billa terlebih dulu. Lekas itu Fahri beralih ke kantornya.
Di gerbang sekolahan.
"Sayang, kamu jangan nakal ya, kalau sedang bersama dengan guru-guru." Sebelum berangkat Fahri akan selalu memberikan nasehat pada Billa, agar tak bandel jika berada di ruang belajar.
"Baik Ayah, Billa ingat kok." Billa yang sudah siap masuk lantas berpamitan dan tak lupa memberikan sebuah salam pada dua orang dewasa.
Setelah Billa pergi. Fahri menyalakan mesin mobilnya. Saat ini, keadaan hening karena tak ada percakapan diantara mereka berdua.
Ekhem.
Fahri berdehem agar suasana tidak terlihat kaku.
"Yun," panggil Fahri dan seketika sosok yang dipanggil langsung menoleh.
"Iya, ada apa?" respon Yuni, mungkin karena tidak terbiasa berjalan berdua, sehingga keadaan sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan jika seseorang yang begitu berarti direbut paksa?" Fahri hanya ingin tahu seberapa besar jawaban yang akan diberikan oleh Yuni.
"Berusaha mempertahankan sebisaku, karena dia adalah bagian dari hidup saya." Jawaban Yuni seketika mendapat senyuman oleh Fahri.
"Memangnya kenapa?" Yuni sedikit penasaran, kenapa Fahri tiba-tiba mengatakan seperti itu.
"Tidak ada, hanya ingin tahu saja." Jawab Brian.
Tidak terasa jika mobil yang mereka tumpangi telah sampai di perusahaan milik Fahri.
Semu mata memandang ke arah mereka berdua, mungkin mereka sedang bertanya-tanya dan saling berbisik. Kira-kira antara bos dan bawahan ada hubungan apa? Jadi bisa dipastikan kalau Yuni akan mendapat tatapan tidak suka karena telah berani berjalan dengan bos besar.
"Pak Bos, saya ijin bekerja dulu." Lantas Yuni pun langsung berpamitan pada Fahri.
"Yun, nanti siang supirku akan mengantarkan kamu ke sekolah Billa, karena hal itu akan kamu lakukan nanti. Jadi biasakan bergaul dengan Billa," ucap Fahri.
Yuni yang mendapat tatapan aneh mencoba acuh pada semua orang, karena selama orang itu tidak membuat masalah. Maka Yuni juga akan diam karena akan memulai aktifitasnya sebagai seorang OB.
Sintia yang melihat Yuni, buru-buru menghampiri karena banyaknya orang yang tengah mencemooh Yuni.
"Yun, kata orang-orang kamu berangkat sama bos nya?" tanya Sintia memastikan.
"Iya, tadi di jemput. Sekalian nganter Billa sekolah dan nanti aku suruh jemput juga," kata Yuni menjelaskan.
"Ya sudah, cuma memastikan apa yang sebenarnya terjadi." Sintia pun merasa lega karena Yuni tidak ada masalah.
__ADS_1
Waktu bergulir lebih cepat, dan saat ini pun sudah pukul 11 siang. Benar saja jika ada sopir Fahri yang menjemput Yuni karena memang sudah waktunya Billa pulang.
"Mbak Yuni, bisa kita langsung berangkat?" kata sopir tersebut.
"Boleh Pak, tunggu sebentar saya ambil tas dulu." Ucapan Yuni mendapat satu jempol dari supirnya Fahri.
Sopir itu menunggu di parkiran dengan sabar karena sewaktu menjemput. Terlihat Yuni sedang berada di lobby.
"Pak, ayuk." Yuni pun sudah siap dan mengajaknya untuk segera berangkat.
Menit kemudian.
Dimana Billa sekolah, semua siswa siswi sudah pulang, tapi Yuni masih setia menunggu.
"Pak, sebaiknya saya turun ya. Untuk memastikan jika Billa masih ada di dalam," kata Yuni.
"Baik Mbak."
Lepas itu Yuni berjalan masuk, dan terlihat ada satu guru baru saja keluar dari dalam kelas, dan dengan segera Yuni menghampirinya.
"Bu Maaf, apa Nabilla masih ada di dalam?" tanya Yuni pada guru di hadapannya.
"lho, bukannya Billa sudah pulang dari tadi yah. Sopirnya Pak Fahri yang baru tadi yang menjemput."
Deg!.
__ADS_1
Seketika Yuni merosot ke tanah.