
Ketika hati lelah. Maka bibir akan bungkam, karena merasa jika mulut tidak perlu bicara, biarkan bukti yang akan menjadi garda terdepan untuk kita.
🍁🍁
Bu Nani merasa jika jantungnya sudah berhenti berdetak, dan rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menghirup udara. Ternyata semua tidak seperti apa yang dikatakannya.
Bu Nani, seketika merosot dari ke lantai, kakinya sudah tidak kuat lagi untuk tetap menopang seluruh anggota tubuhnya.
"Maafkan hamba Ya Allah."
"Maaf, hamba khilaf."
Berulang kali bu Nani mengatakan kalimat yang sama, mata tua itu, mata tua milik bu Nani tak mampu lagi untuk menahan rasa kecewa, marah bercampur sedih. Hingga air matanya berderai.
Bu Nani tidak bicara dan langsung pergi ke kamar, lalu mengambil tasnya lagi.
Tanpa pamit beliau langsung meninggalkan Fahri, yang masih berdiri tegak layaknya manekin. Tidak ada pergerakan yang dilakukan oleh Fahri, saat bu Nani pergi. Keadaan menjadi kacau dan dirinya juga merasa bersalah karena, bertindak gegabah.
Fahri sama sekali tidak mencegah ataupun bertanya, akan keadaan bu Nani. Sedang baik atau tidak! Yang Fahri pikirkan sekarang mama nya butuh ketenangan agar bisa menerima keadaannya yang telah dibohongi mentah-mentah, oleh menantunya yang sangat ia banggakan karena kepolosannya. Namun, dari sikap polosnya ternyata telah menyimpan sebuah sandiwara yang telah dimainkan dengan sangat apik.
Sesaat Fahri mengusap kasar wajahnya, karena semuanya tak semudah apa yang dibayangkan.
"Apa aku harus menyusul mama, sepertinya memang harus. Aku tidak mau kejadian buruk menimpa mama, di saat pikirannya sedang kacau.
Sebelum memutuskan untuk menyusul mama nya. Fahri akan menghubungi Danu, karena ia akan meminta bantuannya sedikit untuk urusan kantor. Bukan tidak punya asisten, karena Danu lah yang mengajukan sebagai asisten untuk Fahri, karena Danu pikir pekerjaannya tidak terlalu ribet, jadi dia memutuskan untuk membantu Fahri. Lagipula kantornya masih terbilang baru berdiri karyawan tidak terlalu banyak, karena masih harus merintis usaha yang belum tiga tahun itu.
Setelah menghubungi Danu, Fahri sedikit kesal karena temannya memaksa untuk mengajak Yuni, alasannya tidak mau terjadi apa-apa di jalan. Apalagi menyetir mobil dengan keadaan tidak baik-baik saja.
Satu kata 'Terserah' yang dilontarkan oleh Fahri, karena ia tidak mau membuang waktu hanya untuk berdebat dengan Danu.
...----------------...
Sekitar 40 menit, Fahri sudah berada dimana Yuni menunggu.
"Ayo," ajak Fahri saat melihat Yuni sedang duduk termenung di meja pelanggan.
"Ba-ik, Pak." Jawab Yuni setelah itu kakinya berjalan mengikuti langkah Fahri, yang sangat cepat hingga Yuni tidak bisa menyamainya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, tidak ada percakapan dan keadaan hening. Sedikit sunyi karena benar-benar bak dua orang yang sedang bertengkar, hingga membuat Yuni sedari tadi terus menguap.
Fahri yang melihat Yuni, rasanya ingin tertawa, karena sangat lucu menurutnya. Mungkin saking ngantuknya sampai-sampai Yuni hampir kepentok oleh dasbor mobil.
"Kalau kamu ngantuk, tidurlah di belakang. Perjalanan masih satu setengah jam lagi," ujar Fahri yang tidak tega melihat Yuni dengan keadaan seperti itu.
__ADS_1
Mendengar itu Yuni langsung.
Dukh.
"Auh … Sakit," keluhnya karena Yuni yang saat itu mendengarkan suara dengan tiba-tiba. Membuat kepalanya langsung terjedot di kaca pintu.
"Kenapa Bapak, ngomong gak pakai permisi. Kan sakit," ucap Yuni dengan mengusap kepalanya lagi.
"Kenapa kau jadi menyalahkan saya!" Fahri kesal karena Yuni malah membuatnya hampir saja gila.
"Ya jelas salah Bapak. Coba tadi bilang kalau mau bicara, kepalaku tidak akan kepentok oleh kaca." Jawab Yuni yang tetap menyalahkan Fahri.
"Jika kau berani menyalahkan saya lagi, maka segera turun!" bentak Fahri yang sudah kehabisan kesabaran, karena Yuni terus menyalakannya akibat kepalanya yang kejedot kaca pintu.
"Jangan Pak, saya—."
"Maka diam lah, dan segera pinta di belakang." Dengan nada tinggi Fahri berbicara karena sepertinya dirinya sudah lelah, namun masih di ganggu oleh Yuni.
Seketika Yuni diam, tan tak lagi berbicara. Mobil menepi untuk sebentar karena Yuni akan pindah tempat.
"Dasar bos menyebalkan."
"Saya tidak tuli, jadi jangan mengumpat saya." Fahri dengan cepat langsung menjawab saat Yuni mengatainya.
"Dasar menyebalkan," batin Yuni yang tak berani mengeluarkan suara dan hanya bisa membatin.
"Apa semua wanita kalau tidur seperti itu? Kalau seandainya dia yang jadi istriku. Apa aku bisa tidur?"
"Ish … Ngomong apaan sih ini, ngelantur banget." Fahri menggerutu dan mengusap kasat rambutnya, entah mengapa dirinya bisa-bisanya membayangkan kalau Yuni, adalah istrinya yang bar-bar.
"Astaghfirullah, ini otak kenapa membayangkan yang tidak-tidak." Fahri mengusap dadanya karena pikirannya sedang berkelana entah ke mana, dan itu membuat dirinya terus beristighfar.
Tidak terasa perjalan yang memakan dua jam, akhirnya sampai juga di rumah sederhana milik orang tua Fahri, yang terletak di pedesaan.
Lantas Fahri membuka pintu untuk membangunkan Yuni.
"Yun, bangun. Kita sudah sampai," ucap Fahri lekas membangunkan Yuni.
"Yun."
Aaaaaa.
"Apa yang Bapak lakukan pada tubuh saya? Jangan bilang kalau Bapak mau memperkosa saya juga."
__ADS_1
Pletak.
Seketika Yuni diam dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa itu cukup sakit untuk membangunkan kamu? Dasar otak mesum," sungut Fahri setelah mendaratkan jemarinya, di kening Yuni.
"Auh … Sakit, kenapa di sentil sih." Yuni mendengus kesal karena lagi-lagi bos nya itu mendaratkan sentilan di keningnya.
"Terus kenapa jarak Bapak sedekat ini," ujar Yuni.
Hufff.
"Lihat kamu saja saya tidak nafsu, apalagi mau memperkosa kamu. Itu sungguh hal yang paling konyol," kata Fahri tersenyum tipis.
"Tetap saja kan." Yuni masih tidak terima dan terus menyerang Fahri dengan beberapa ucapan.
"Baik, saya akan memberikan tantangan padamu. Jika terbukti ucapanku maka akan ku jadikan kau istriku, bagaimana?" Fahri sengaja menggoda Yuni, jika benar kalau memang dirinya sama sekali tidak bernafsu.
"Memangnya apa tantangannya?" tanya Yuni akibat penasaran.
"Dengan cara tidur." Jawab Fahri dengan santai.
"Apa Bapak ingin mengajak berzinah saya," kata Yuni dengan mata melotot.
"Kau benar-benar berotak mesum," ucap Fahri dengan hati yang dongkol.
"Terus itu tadi," kata Yuni.
"Dengan cara tidur di rumahku, sekalian menjadi pembantu pribadiku."
Uhuk.
Uhuk.
"Duh Yuni, kan malu sendiri." Yuni hanya bisa diam karena sudah salah paham.
"Makanya, punya otak itu gunakan dengan baik. Apa kau memang menginginkan tubuhku ini? Setelah menikah kita akan melakukannya," ucap Fahri tanpa sadar. Hingga membuatnya langsung menutup mukanya karena entah kenapa, mulutnya dengan berani berbicara seperti itu. Sedangkan Yuni diam terpaku dengan mulut yang menganga.
"Itu hanya sebuah lelucon, lebih baik kita segera turun." Lantas Fahri pun langsung mengajak Yuni untuk segera turun, karena hari juga sudah sore.
"Assalamualaikum," ucap Fahri sembari mengetuk pintu.
Terdengar suara dari dalam yang menyahuti, dan tidak berapa lama kemudian.
__ADS_1
Ceklek.
"Kau!"