Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
13. BERUSAHA MENGHINDAR


__ADS_3

Mendengar nama Ana, sontak Fahri langsung menoleh. Benar saja ada Ana dari tangga dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya.


"Mama, maaf ya. Tadi Ana ada acara jadi tidak sempat memasak, oh ya. Ini aku belikan makanan dan sekarang kita makan," ujar Ana.


Sedangkan Fahri sudah tidak peduli dan tidak ingin ikut bergabung untuk sekedar makan.


"Ma, Mama sama Ana dulu ya. Tadi ada teman kantor yang ngajak Fahri buat ketemu, dan itu juga baru ingat sekarang." Fahri terpaksa melakukan kebohongan pada sang mama, karena dirinya ingin sekali menghindar dari istrinya. Agar tidak merasakan sakit kalah melihat wajahnya yang penuh oleh dusta.


"Sebelum keluar. Apa kamu tidak ingin makan dulu?" ujar bu Nani karena pasti anaknya lapar karena sedari sore putranya itu tidak makan.


"Gampang, Ma. Nanti Fahri akan membeli di luar sana. Kalau harus makan dulu kasian orang yang menunggu," kata Fahri sambil melepas pecinya.


"Mas, tapi apa yang dikatakan mama ada betul nya lho. Apa tidak sebaiknya makan dulu sebelum keluar," sahut Ana yang mengikuti akan kata-kata mertuanya.


"Nanti aku akan membelinya, lagi pula kita ketemuan di cafe, jadi tidak sulit kalau soal makan saja." Jawab Fahri pada Ana dengan suara sedikit kaku. Membuat bu Nani yang mendengar, sangat tidak nyaman.


"Kenapa mereka sangat kaku sekali?" batin bu Nani yang sedang bertanya-tanya. Entah yang dirasakan hanya sebatas merasakan atau memang naluri sebagai ibu, tidak bisa dibohongi karena beliau merasa ada yang disembunyikan oleh sang anak.


"Semoga tidak ada masalah dalam rumah tangga anak-anakku, Ya Allah." Bu Nani hanya bisa membatin seraya meminta pada Allah agar hubungan keduanya, bisa melewati masa-masa sulit.


Fahri yang baru saja keluar dari kamar, dan sudah rapi dengan baju serta celana yang dikenakannya. Menampilkan ketampanan yang sangat kentara.


"Ma, Fahri keluar dulu. Jangan menungguku pulang karena usia Mama harusnya istirahat lebih awal," ucap Fahri pada sang mama. Untuk tidak menunggunya pulang.


Setelah berpamitan pada bu Nani, Fahri melewati Ana dengan begitu saja. Tanpa menegur dan berpamitan padanya, dan itu membuat Ana kesal karena merasa jika dirinya dianggap patung oleh suaminya.


"Bisa-bisanya, Mas Fahri tidak menegurku sama sekali." Dalam hati Ana mengumpat karena di acuhkan oleh suaminya.


...----------------...


Di jalan Fahri yang sudah hampir sampai di cafe hendak menemui

__ADS_1


Danu, karena hanya temannya itulah yang tersisa. Sedangkan Rozi dan Naura sudah lama tidak berada di indonesia, jadi satu-satunya orang yang bisa diajak bicara cuma Danu.


Saat ini. Fahri sudah sampai pada tempat yang akan dibuat pertemuan. Netra Fahri celingukan mencari sosok orang yang dicarinya. Melirik kearah semuanya meja, dan akhirnya ia menemukannya juga.


"Kenapa ada Yuni?" batin Fahri bertanya-tanya. Pasalnya tadi cukup ia dan Danu, lantas kenapa sekarang malah ada karyawannya.


"Apa mungkin mereka sedang berpacaran?" tanya Fahri pada dirinya sendiri karena ia masih belum mengerti dengan semuanya.


"Sudahlah. Bukan urusanku juga," gumam Fahri. Lalu ia berjalan untuk menghampiri temannya yang berada di meja nomor 12 itu.


"Assalamualaikum," sapa Fahri pada Danu.


"Waalaikumsalam. Eh kamu sudah datang, Fahri."


"Iya, baru saja. Kalian asik berbincang makanya sampai tidak tahu kalau aku sudah cukup lama berdiri," kata Fahri panjang lebar karena kenyataannya memang keduanya asik mengobrol.


"Maaf. Kamu terlalu lama makanya kita nunggu kamu. Sambil berbincang-bincang untuk menghilangkan penat," ucap Danu pada Fahri.


"I-iya, Pak." Jawab Yuni pada Fahri yang tak ingin pria itu curiga akan keduanya..


"Sekarang duduklah. Maaf, tadi sempat ketemu Yuni di sini. Makanya aku gabung sekalian nunggu kamu," ujar Danu yang mengatakan jika Danu tidak membawa Yuni. Melainkan bertemu di cafe seperti yang sudah dijelaskan oleh Danu.


"Huff … Hampir saja aku salah sangka, ternyata keduanya tidak hubungan. Pertemuan mereka juga berada di sini, tapi kenapa otakku langsung berasumsi seperti itu." Dalam hati, Fahri merutuki kebodohannya karena sudah terbawa oleh penglihatannya saja, tanpa tahu sebenarnya.


"Fahri, apa kamu ingin berdiri terus?"


"Ah ya maaf, bisa-bisanya aku lupa untuk duduk." Jawab Fahri dengan wajah bodohnya.


"Sekarang duduklah, aku juga sudah menyiapkan minuman untukmu, dan beberapa makanan. Aku ingin ke kamar mandi jadi kalian tetaplah di sini sebentar," kata Delon pada Yuni dan Fahri.


Akhirnya Danu benar-benar pergi dan Fahri pun sekarang semeja dengan Yuni.

__ADS_1


"Pak," sapa Yuni pada Fahri, itu adalah salah satu kesepakatan yang sudah di setujui oleh Yuni.


"Hem." Hanya itu yang keluar dari bibir Fahri.


"Duh, kok aku gemetar ya. Bingung harus mulai darimana," kata Yuni di dalam hatinya yang terus gelisah.


Keduanya diam, keadaan hening. Entah apa yang ada dipikiran mereka berdua.


"Kami ke sini dengan siapa?" pertanyaan Fahri membuat suasana menjadi tak sehening tadi, karena ia dulu yang membuka percakapan.


"Tadi saya ke sini sendiri. Setelah dari rumah sakit saya sengaja ingin meminum kopi di sini, agar mata saya bisa diajak kompromi." Jawab Yuni tampak ragu dengan jawabannya.


"Memangnya siapa yang sakit?" Fahri mulai antusias dan mulai banyak bicara, entah mungkin saja untuk menghilangkan kejenuhan.


"Ayah saya yang sakit, beliau terkena serangan jantung. Saat ibu saya memutuskan pergi dengan lelaki lain," ucap Yuni dengan wajah yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf, karena saya sudah curhat." Yuni pun menambahkan lagi.


"Tidak apa-apa. Katakanlah biar hatimu lega," kata Fahri yang mulai ikut terhanyut dalam cerita sosok yang berada di depannya.


Sedangkan Danu yang berada di kamar mandi, tepat sekarang ia sudah menyelesaikan urusannya di dalam sana, dan hendak kembali ke meja.


Tanpa sengaja menangkap seseorang yang ia kenal. Berduaan dengan seseorang dengan begitu mesranya namun wanita itu bukanlah Ana.


"Cih, dasar laki-laki buaya. Perempuan dan laki-laki sama saja, sama-sama tidak punya hati." Dengan keadaan yang terus berjalan Danu tidak henti-hentinya mengumpat seseorang yang tidak jauh darinya.


"Dan kau Ana, membuang berlian demi sebongkah sampah yang berserakan. Kalian berdua memang cocok," batin Danu dengan diiringi sebuah gelengan kecil.


Danu terus mengamati selingkuhan Ana bersama wanita lain yang terlihat sangat romantis, dan itu membuat matanya sedikit sakit.


"Lelaki miskin ingin kaya dengan menggaet wanita kaya, tapi sayang. Selingkuhanmu hanya seorang j*l*ng yang dipungut temanku, dan kembali kau ambil. Sungguh menyedihkan," batin Danu lagi yang tidak berhenti memberikan tatapan kebencian pada lelaki tidak tahu diri itu.

__ADS_1


__ADS_2