
"Ana!" Leo sangat terkejut pasalnya Ana tiba-tiba datang.
"Jawab, siapa dia?" Ana bertanya dengan nada sedikit tinggi. Pasalnya ia melihat seorang wanita dengan baju yang kekurangan bahan. Duduk di samping kekasihnya itu, dan nyaris berciuman.
"Sayang, ini tadi antingnya nyangkut. Makanya minta tolong sama aku," ujar Leo dengan wajah dibuat setenang mungkin. Agar tidak curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu tidak bohong kan?" Ana menatap wajah Leo dengan sangat serius, dan berharap jika kekasihnya itu tidak berbohong.
"Tentu, kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai kamu. Mana mungkin aku berselingkuh," ujar Leo yang tengah menyakinkan Ana.
"Terus itu siapa?" tanya Ana sembari menatap wanita yang ada di samping Leo.
"Oh ini. Kenalkan dia Clara, teman aku. Tadi dia hanya mampir karena sudah lama kita tidak bertemu," jelas Leo.
"Iyakan Ra." Leo beralih menatap Clara dan tidak lupa sebuah kedipan dilayangkan.
"Iya betul, apa yang dibilang Leo. Aku baru saja pulang dari Australia, makanya pas tadi ketemu sekalian mampir." Wanita yang saat ini berbicara pada Ana, ikut menyakinkan sesuai permainan dari Leo. Untuk tetap menyakinkan wanita itu.
"Oh begitu ya, tapi kok Leo gak pernah bilang punya teman yang namanya Clara ya." Jawab Ana, karena selama ini memang Ana tidak pernah mendengar Leo bercerita soal temannya, apalagi teman cewek.
"Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu, makanya dia sedikit melupakan sahabatnya." Clara sebisa mungkin harus bisa membuat Ana tidak menaruh curiga. Dengan cara berbohong.
"Baik, maaf ya tadi sudah meneriaki kalian." Ana pun meminta maaf pada mereka berdua karena merasa sudah salah sangka.
"Harusnya kan memang begitu," batin Clara yang merasa terganggu akan kedatangan Ana.
"Kenapa jadi berantakan, bukanya mertua Ana datang. Aku kira wanita itu tidak akan ke sini. Cih, nyatanya masih tidak bisa lepas dari aku." Dalam hati Leo tidak menyangka akan kedatangan Ana, secara tiba-tiba dan itu membuat sedikit kesal, karena baru saja ia akan bermesraan dengan Clara. Akan tetapi, Ana mengacaukannya.
"Sayang duduklah," panggil Leo pada Ana.
Seperkian detik. Ana melebarkan senyuman karena sudah tidak tahan dengan rasa rindunya, pada Leo dan sekaranglah mereka baru bisa bertemu.
"Leo, kalau begitu aku pamit pulang ya. Sudah kangen juga sama pacarku," ucap Clara yang ngin berpamitan pulang dengan alasan rindu dengan sang pacar.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Ana.
__ADS_1
"Itu karena aku sangat iri pada kalian."
"Bye semua." Clara sudah pergi dari rumah Leo, dan sekarang hanya ada Leo dan Ana yang sedang duduk di sofa.
"Sayang apa kamu tidak merindukanku?" tanya Ana dengan nada menggoda.
"Tentu, bahkan aku sudah sangat-sangat merindukanmu." Jawab Leo yang membalas pelukan Ana.
"Oh ya. Apa mertuamu sudah pulang? Makanya kamu bisa keluar?" tanya Leo pada Ana, karena kemarin wanita itu sempat bilang kepadanya, kalau beberapa hari ke depan tidak akan menemuinya.
"Belum. Itu karena aku sangat muak, dan ingin segera berjumpa denganmu." Mendengar jawaban dari Ana, membuat Leo tersenyum.
"Teruslah seperti ini sayang, dengan begini aku tidak akan pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga." Leo berbicara dalam hati dan dirinya sekarang benar-benar telah menang.
"Sekarang jangan cemberut lagi yah. Kan ada aku sekarang," kata Leo. Lalu menarik tubuh Ana ke dalam dekapannya, dan terjadilah peperangan antar tubuh mereka yang saling menghentakkan.
Dengan perlahan. Leo menghujani sebuah kecupan di seluruh wajah, dan beralih ke leher. Lalu melepaskan satu persatu apa yang sudah melekat di tubuh masing-masing.
Bagi Leo itu adalah kesempatan, dan tidak akan membiarkan Ana lepas darinya untuk saat ini,
"Sedikit cepat, Leo."
Ughhh.
Ana merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan Leo mampu membuat Ana puas.
"Sa-yang ... Aggghh, kamu sangat nikmat." Dengan suara terbata bercampur rasa nikmat. Leo mengerang dan terus memompa dengan ritme cepat.
"Ana, aku ingin--."
"Leo ... Eummm, aku sudah tidak tahan."
Keduanya sedang berada di ujung kepala, menantikan kelegaan dari buah kenikmatan itu keluar dan.
Bruk.
__ADS_1
Setengah jam telah berlalu dengan nafas yang tersengal dan keringat yang bercucuran. Pada akhirnya Leo ambruk di tubuh Ana yang masih polos.
"Terimakasih Leo, kamu sudah memberikan aku kepuasan." Ana tersenyum dengan tangan yang membelai wajah lelaki yang kini bersamanya.
"Tentu, aku akan selalu memberikan kamu kepuasan. Kapanpun kamu membutuhkan itu," ujar Leo tersenyum. Lalu memegang tangan Ana dan menciuminya berulang kali.
"Aku sudah cukup puas dengan pelayanan yang kamu berikan," kata Ana yang selalu memuji Leo yang begitu sangat perkasa.
"Aku sangat puas juga dengan servis yang kamu suguhkan, karena kamu mampu mengimbangi permainanku. Ana," bisik Leo di telinga Ana dan itu membuatnya bergeliat lagi. Lalu mereka kembali merengkuh nikmatnya madu.
Entah terbuat dari apa hati mereka, bisa-bisanya melakukan maksiat.
...----------------...
Pukul tujuh malam. Pada saat Fahri selesai melakukan ibadah. Sedari tadi tidak melihat adanya istrinya di rumah. Fahri yakin jika Ana sedang pergi dan pastinya menemui selingkuhannya, namun haruskah seperti ini caranya? Dan itu membuat Fahri semakin geram.
"Apa kamu tidak bisa menunda kesenanganmu itu, Ana. Sampai tega mengabaikan orang tuaku yang jauh-jauh datang ke sini," batin Fahri, dengan mengusap wajahnya secara kasar. Di atas sajadah Fahri merasakan kepedihan yang amat dalam, dan bagaimana bisa istrinya tega mengkhianati pernikahannya. Meski tidak didasari oleh cinta.
"Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu Ana, dan aku akan melanggar janjiku pada orang tuamu. Cukup kamu menyakiti aku yang selalu berusaha sabar dan mengalah," kata Fahri di dalam hatinya. Merasa sakit tentu saja, namun sekarang bukan saatnya ia bersedih hanya karena cinta.
Saat Fahri akan berdiri dari atas sajadah. Suara ketukan membuatnya secepatnya melangkah untuk membukanya.
"Itu pasti mama," gumamnya seraya berjalan dengan keadaan masih memakai sarung dan peci. Terlihat sangat tampan dengan balutan baju koko.
Ceklek.
"Ma, ada apa?" tanya Fahri berpura-pura tidak tahu akan apa yang ingin ditanyakan oleh bu Nani.
"Dari tadi Mama tidak melihat istrimu. Ke mana dia?" ternyata benar apa yang ada di pikiran Fahri jika mamanya sedang mencari Ana.
"Ini sudah jam tujuh. Mama lapar dan butuh makan, tapi di meja makan tidak ada apa-apa." Bu Nani berucap lagi, dan itu membuat Fahri terasa sesak.
"Apa Mama mau di masakan?"
"Ana!"
__ADS_1