Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
15. BUKAN MAU MENJADI ORANG KETIGA


__ADS_3

Benar saja. Pada saat Yuni istirahat Sintia benar-benar menagih janjinya agar Yuni mau bercerita tentang masalah tadi.


"Sekarang jelaskan, apa kamu memang tidak menganggap aku temanmu." Ucapan Sintia membuat Yuni sedikit bimbang, dan dia harus mengatakan yang sebenarnya atau menghindarinya. Namun, itu sama saja membuat Sintia semakin kesal padanya.


"Kamu gak tuli kan, Yun." Sintia berkata lagi, namun kali ini dengan tatapan seriusnya dan berharap akan mendapatkan dari Yuni.


"Apa kamu bisa janji untuk tidak membocorkan semua ini?" kata Yuni pada Sintia. Agar temannya tidak akan membocorkan apa yang sudah dikatakan oleh Yuni kepadanya.


"Pegang janjiku," ucap Sintia datar, karena selama ini memang Sintia tidak pernah menjadi mulut ember, dan selalu bisa menjaga rahasia pada siapapun orang itu.


"Pak Danuarta memberikan aku uang 50 juta–,"


"Apa!" Belum sempat Yuni menjelaskan namun sudah dipotong oleh Sintia. Wajar saja jika langsung menyahutnya karena mendengar dari nominal tersebut, dan itu membuat semua orang pasti kaget, saat mendengarnya.


"Apa kamu menjual keprawananmu…."


Plak.


"Jaga itu mulut, aku masih ting-ting, dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan tubuhku." Yuni memberikan jawaban yang membuat Sintia langsung tercengang saat mendengar.


"Aku yang bodoh atau memang Yuni sedang bertransaksi barang lain? Aku harap Yuni tidak akan melangkah sejauh itu," gumam Sintia dalam hati.


"Terus ada yang gratis dengan uang 50 juta itu, aku rasa tidak. Apa yang mereka minta darimu dan sekarang katakan," sergah Sintia dengan tidak sabar.


"Aku di suruh mendekati bos."


"APA!" Sintia langsung tercengang dengan ucapan Yuni barusan. Masih dengan rasa terkejutnya dan belum bisa mencerna apa yang disampaikan Yuni juga..


Bukankah bos nya itu punya istri? Lantas kenapa bisa temannya justru menyuruh orang, untuk masuk ke dalam kehidupannya? Sintia pikir kalau Danu sedang mempunyai penyakit aneh.


"Pelan-pelan. Apa kamu ingin semua orang melihat kita dengan tatapan aneh," kata Yuni dan seketika Sintia menoleh ke arah sekelilingnya, dan benar saja jika orang-orang itu sekarang menatap dengan penuh keanehan.


"Sorry. Sekarang bisa kamu menjelaskannya padaku," ujar Sintia pada Yuni.


"Aku dan pak Danuarta sudah sepakat untuk memisahkan dia dan istrinya sesuai janji. Pak Danu memberiku imbalan sebanyak itu untuk aku masuk ke dalam kehidupan mereka," jawab Yuni dengan kepala tertunduk.


"Jangan bilang kalau kamu mau jadi…."

__ADS_1


"Iya, karena pak Danu merasa jika bu Ana tidak pantas dengan pak Fahri. Maka dari itu beliau menyuruh aku untuk jadi pelakor," kata Yuni dengan sesekali menghela nafas. Mungkin saja Yuni tidak mau, namun nyawa sang ayah jauh lebih berharga. Mungkin itulah alasannya kenapa Yuni menerima.


"Tapi aku tidak mau kamu melakukan itu, walau rumah tangga bos sudah berantakan. Apa kamu mau menjadi orang ketiga dan di cemooh orang, lalu diberi predikat pelakor? Tidak kan."


"Apa aku punya pilihan lain selain menerima kenyataannya. Aku pun tidak mau sejujurnya, tapi … Bagaimana caranya aku membayar angsuran rumah sakit," kata Yuni penuh penekanan dan itu membuat Sintia langsung diam.


“Berapa lama kamu mengadakan perjanjian itu?” Sintia menatap lekat ke arah Yuni, dengan harapan jika temannya segera mengakhiri semua.


Menurut Sintia, semua ini adalah perjanjian konyol yang pernah ia dengar sepanjang masa.


“Satu bulan, dalam satu bulan aku harus bisa menjalin hubungan dengan bos, untuk bisa lebih dekat lagi.” Jawaban Yuni membuat Sintia menghela nafas.


Huuff.


“Aku harap kamu tidak akan masuk terlalu dalam karena aku tidak mau, jika semuanya menjadikanmu masalah. Dalam kehancuran rumah tangga orang,” ucap Sintia dengan tegas.


yuni tersenyum, karena ia merasa bangga bisa mempunyai teman seperti Sintia. Meski omongannya sedikit pedas, biar begitu dia adalah sosok teman yang peduli padanya.


“Ya sudah, kita lanjutkan makan. Ngomong-ngomong kamu bawa bekal apa?” tanya Sintia saat melihat kotak makan yang berada di depannya itu.


Yah, selama ini Yuni tidak pernah membeli makanan dan selalu membawa bekal dari rumah. Menurutnya itu sangat membantunya untuk berhemat.


“Makanlah, aku bawa banyak kok.”


Saat Yuni sudah bersiap untuk menyuapkan nasi ke mulutnya. Tiba-tiba suara dering gawai miliknya berdering.


Drrrt.


Drrrt.


“Yun, telepon, dari siapa?” tanya Sintia penasaran.


“Aku belum melihatnya,” kata Yuni.


“Nomor tidak diketahui,” ucap Yuni lirih dan Sintia sempat mendengar ucapan Yuni juga.


“Coba angkat saja. Siapa tahu dari RS, kan.” Usul dari Sintia membuat Yuni langsung mengangkatnya. Walau ia sendiri sedikit ragu.

__ADS_1


“Halo,” sapa Yuni saat tombol hijau mulai ditekan.


“Apa! baik. Saya akan segera ke sana,” ucap Yuni dengan dada bergemuruh.


Panggilan sudah berakhir, dan Yuni hampir saja merosot dari duduknya dan jatuh ke lantai, namun siapa sangka jika seseorang langsung memapah Yuni dengan keadaan terkulai lemas.


“Yuni, kamu kenapa?” Sintia syok saat melihat keadaan Yuni yang sedang lemah, setelah menerima telepon.


“Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja,” kata laki-laki itu.


Yuni yang sempat mendengar kata ‘Rumah sakit’ mencoba menguatkan hati, untuk bisa bangun.


“Tolong lepas, saya mau ke rumah sakit.” Yuni mencoba melepaskan diri dari tangan seseorang.


“Saya akan mengantarmu, tapi kamu juga harus tenang.” Laki-laki itu pun tidak tega daan memilih mengantarkan sosok wanita itu.


Niat ingin makan siang namun tiba-tiba dirinya harus menjadi sosok pahlawan kesiangan.


“Sin, nanti kalau pak Danu datang. suruh dia langsung ke ruangan saya, dan bilang kalau saya sedang mengantarkan Yuni ke rumah sakit.”


“Baik Pak, nanti akan saya sampaikan.” Jawab Sintia yang ikut kuatir terhadap temannya itu.


Tidak membutuhkan waktu lama.


Setibanya di rumah sakit, Yuni langsung menuju ruangan dimana ayahnya di rawat, dan kebetulan ada dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut.


“Dok, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah saya?” tanya yuni dengan buliran bening yang sudah menghiasi wajahnya.


“Tadi beliau sempat drop lagi, namun sekarang sudah stabil. Menurut saksi ada seseorang yang masuk sebanyak dua orang, dan terdiri dari satu pria dan satu wanita.”


"Setelah mereka pergi, pada saat suster akan memeriksa. Ayah anda kejang," tambah dokter itu lagi pada Yuni.


"Boleh saya melihatnya, Dok?"


"Silahkan." Dokter itu pun langsung mempersilahkan Yuni untuk masuk untuk melihat keadaan sang ayah.


"Yah, cepatlah sadar. Agar tidak ada lagi yang menyakiti Ayah," ucap Yuni dengan air mata yang tak terbendung lagi.

__ADS_1


"Siapa yang berani menyakiti ayahku? Sungguh kejam mereka, ayahku tidak sekalipun menyakiti orang tapi mengapa. Ayahku harus mengalami semua ini," gumam Yuni.


__ADS_2