Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
30. BAYI DI DEPAN RUMAH FAHRI


__ADS_3

Tujuh bulan sudah, Fahri dan Ana bercerai dengan berbagai pertimbangan akhirnya hakim menerima permohonan Fahri, karena waktu itu Ana dengan keadaan berbadan dua.


Sekarang Fahri sudah menjadi seorang duda, namun kini ia mulai mendekati Yuni, dan berharap sebelum usianya semakin tua dirinya sudah memiliki pasangan. Namun, rupanya Yuni masih belum bisa menjadi teman dekat Fahri, karena semua itu karena kasta.


Sedangkan di lain tempat, seseorang tengah berjuang melahirkan seorang bayi di rumah bidan karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Tak ada lagi penghasilan karena tak ada yang mau menerimanya. Hanya karena dirinya sedang hamil besar akibat dosa yang pernah dilakukannya kala itu.


Di dalam hati, Ana bersumpah akan membalas sakit hatinya. Fahri yang tak mau memberikan kesempatan, dan Leo pada akhirnya mati karena sengaja ia bunuh. Hanya tinggal satu orang dan akan membuatnya bisa bernafas lega setelah, apa yang diinginkannya tercapai.


Aaaaaaaaa.


"Sakitttt … Argggg!" Ana mengerang kesakitan saat sang jabang bayi akan di keluarkan dari dalam rahimnya, untuk melihat indahnya dunia ini.


"Tahan Bu, ini memang sedikit sakit." Ucapan bidan itu tidak dihiraukan oleh Ana, karena ia terus mengerang hingga.


Oeee.


Oeee.


Oeee.


"Alhamdulillah, selamat Bu, anak nya sehat dan sangat cantik." Lalu sang bidan pun ingin meletakkan bayi mungil itu atas tubuh Ana, namun justru di luar dugaan. Kalau kebanyakan seorang ibu akan memberikan kehangatan bagi sang malaikat kecil itu, berbeda dengannya yang menolak mentah-mentah dan tidak mau bayi cantik itu diletakkan ke atas tubuhnya.


"Saya tidak mau melihat bayi itu, dan jauhkan dari hadapanku sekarang juga!" Ana berucap dengan penuh penekanan. Membuat suster dan juga bidan, hanya bisa menggeleng karena perilaku dari pasiennya, yang tak mau melihat sang anak.


………


Seminggu sudah Ana melahirkan, dan sekarang dia akan bebas ke mana saja akan pergi, tanpa harus melihat bayi itu lagi.


Hahahahaha.


"Lihat nanti jika aku sudah kaya dan menjadi sukses, maka saat itulah tak ada Ana yang yang sekarang, yang ada nyonya Ana! Hahaha." Dengan penuh kemenangan Ana sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan kota ini, dan akan mencari peruntungan di kota yang jauh lebih besar.

__ADS_1


Ana pun bersumpah akan menjadi orang kaya, karena sudah lelah menjadi orang miskin, dan dia juga nantinya akan membalaskan dendamnya pada sosok laki-laki, yang sudah membuat orang tuanya meninggal.


Ana sudah bersiap dengan tas nya meninggalkan kontrakan kecil yang ia tinggali selama ini. Berharap kelak ada lelaki yang akan menjadikannya nyonya, dengan segudang kekayaan.


Sedangkan di tempat lain. Saat Fahri masih terpejam setelah menjalankan sholat subuh. Samar-samar mendengarkan suara bayi dari arah luar.


Suara yang sangat kencang hingga membuat Fahri tak lagi bisa memejamkan mata.


"Itu kira-kira bayi siapa? Apa ada sanak saudara orang sebelah yang sedang berkunjung, dan si baby merasa asing di tempat barunya?" Fahri yang mulai bising akhirnya memilih bangun, karena ini juga sudah jam 06:00 pagi, harusnya ia bangun jam tujuh.


Suara tangisan dari bayi itu mulai bertambah keras, hingga membuatnya benar-benar merasa berisik.


"Apa orang tuanya tidak bisa mendiamkan orang bayi yang sedang menangis, sampai-sampai suaranya seperti anak yang sedang kehausan?" dalan hati Fahri terus bertanya-tanya akan suara tangisan tersebut, karena sepertinya tidak ada perjuangan untuk orang tuanya. Demi si bayi bisa diam.


Saat Fahri akan melangkah dan bersiap membuka pintu, suara bel membuatnya terdiam sejenak.


Semakin lama suara bel itu semakin sering, di bunyikan. Hingga memutuskan Fahri keluar dengan langkah sedikit tergesa-gesa tanpa mengecek kamera pengintai.


"Ada apa ini?" dengan wajah bingung sekaligus muka khas orang bangun tidur. Fahri bertanya pada beberapa orang yang berada di hadapannya sekarang, dan saat ini jumlah orang bertambah dua lagi sekaligus ketua RT, yang di datangkannya.


"Pak, jika tidak mau punya anak jangan menghamili anak orang." Ucapan dari salah satu warga semakin membuatnya pusing, karena merasa jika dirinya tidak mengerti dari ucapan orang-orang tersebut.


"Saya tidak pernah menghamili siapapun, lantas bagaimana bisa saya punya anak?" Fahri semakin tidak mengerti dengan semua ini, dan mengapa ia tiba-tiba sudah dituduh menghamili anak orang.


"Jika tidak menghamili, lantas ini apa!" tunjuk salah satu warga lagi yang merasa geram, karena mau berbuat tidak mau bertanggung jawab.


"Tapi saya berani bersumpah kalau tidak pernah menghamili anak orang, apalagi sampai mempunyai anak? Itu sungguh mustahil." Jawab Fahri yang tak mau kalah dari orang-orang dan sebisanya membela diri.


"Kalau tidak, mengapa ada bayi di depan rumah kamu?" tanya warga lagi.


"Sa-saya ti-dak tahu soal itu, Pak." Jawab Fahri yang kebingungan karena merasa jika selama ini memang tidak menghamili anak orang.

__ADS_1


"Baiklah, begini saja Pak Fahri, apa Bapak mempunyai seorang teman atau lain sebagainya yang sedang mengandung. Bahkan mencurigai seseorang yang tengah mengintai rumah Bapak?" akhirnya pak RT, menengahi perdebatan ini agar semuanya bisa segera di urus.


"Tidak Pak, tapi kalau untuk seseorang yang mondar-mandir di depan rumah saya. Itu pun kurang tahu, secara setiap hari saya kerja jadi tidak mungkin tahu menahu soal itu." Fahri pun mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi sekarang, karena merasa jika dirinya betul-betul tidak tahu soal itu.


"Tapi, tunggu!"


Akhirnya Fahri merogoh saku dan mengambil gawai untuk melihat siapa yang sudah tega membuang bayi yang tidak berdosa.


"Sepertinya ini di sengaja Pak, karena kamera yang berada di atas kalian sama sekali tidak berfungsi." Fahri mengira ibu dari anak ini cukup cerdik karena bisa membuat Cctv, tidak bisa memperlihatkan setiap gerak, geriknya dan sekarang Fahri juga merasa rugi karena kamera yang terpasang di depan gerbang tepatnya di atas tembok rusak.


Oeee.


Oeee.


Oeee.


Bayi itu menangis lagi, dan sepertinya terlihat sangat kelaparan, karena mungkin sekarang waktunya untuk minum.


"Baiklah, kita akan membawanya ke panti asuhan agar bayi ini bisa segera di urusi oleh pihak yayasan." Mendengar ucapan itu, membuat Fahri merasa tak tega kala melihat bayi yang masih merah itu, di serahkan ke panti.


"Tunggu!" semua orang menoleh karena panggilan dari Fahri.


"Ada apa? Bukannya kamu bukan dari anak ini kan," kata ketua RT, yang langsung menjawab.


"Memang bukan saya Pak, tapi izinkan saya merawatnya. Saya tidak tega melihat bayi itu kelaparan," kata Fahri penuh permohonan, karena entah mengapa dirinya ingin sekali merawat bayi tersebut.


"Baiklah, tapi jika orang tuanya sudah di temukan maka anda harus memberikannya ke dinas sosial. Agar semua tak ada lagi kesalahpahaman, dan anda tau kan kalau orang yang akan merawat bayi ini menduda sejak lama."


Kata-kata yang menyedihkan, kenapa pula harus ia dengar. Apa mereka tidak tahu kalau ucapannya membuat Fahri sedikit risih?


Akhirnya semua bubar dan sekarang ia hanya membutuhkan seseorang, yang bisa membuat bayi ini tenang.

__ADS_1


__ADS_2