Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
31. HEBOH DENGAN BABY


__ADS_3

Oeee.


Oeee.


Oeee.


Bayi itu terus menangis hingga membuat Fahri frustasi. Menunggu kedatangan Yuni yang belum juga sampai. Entah sampai berapa jam lagi ia menunggu perempuan itu.


Fahri tidak tahu caranya menenangkan bayi ini dan itu membuatnya sangat pusing. Mengusap kasar wajahnya menandakan kalau dirinya lelah.


"Tenanglah sayang, sebentar lagi ibu asuhmu akan datang. Tenang ya," ucap Fahri yang terus menimang ke kanan dan ke kiri. Berusaha untuk membuat bayi itu diam.


Namun, usahanya sia-sia karena bayi yang berada di gendongannya tetap menangis hingga matanya melihat seseorang, tengah keberatan akan barang bawannya.


"Yuni, letakkan barang itu dan segera ambil alih!" teriak Fahri yang terpaksa menyuruh Yuni untuk menenangkannya.


"Makanya jangan macam-macam dengan kejantanan, ini kan akibatnya." Yuni bergumam dan Fahri sedikit mendengarnya namun tidak jelas Yuni berkata apa.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Fahri pada Yuni, dan seketika Yuni terlihat gugup.


"Ti-dak Pak, saya tidak mengatakan apa-apa." Jawab Yuni dengan perasaan yang amat takut.


"Ouh."


Sekarang tenangkan karena saya mau mandi," seru Fahri yang berbicara lagi, lalu meninggalkannya di ruang tengah.


Cup … Cup … Cup.


Yuni mencoba menenangkan bayi cantik itu, dan di baringkan untuk melihat keadaannya. Bisa jadi pengaruh dari popok makanya bayi mungil itu terus menangis.


Benar saja, ternyata bayi itu pup dan mungkin karena risih juga makanya menangis tanpa henti.


"Wahhh … Ternyata kamu pup, ya." Setelah berbicara dengan si baby Yuni dengan telaten mengganti popok yang baru, karena tadi sebelum ke sini Fahri menyuruh berbelanja keperluan bayi yang selalu di butuhkan.


Setelah menggantikan popok yang baru, Yuni berniat untuk membuat susu dan harus menyeterilkan botol dot terlebih dulu. Sebelum digunakan dan diberikan untuk bayi malang itu.


Tanpa Yuni sadari, Fahri yang mengamati dari pojok ruangan. Dengan tangan yang disilangkan menatap bangga pada sosok perempuan, yang sekarang tengah menggendong bayi yang ditemukan di depan rumahnya tadi pagi.


Ekhem.


Fahri sengaja berdehem karena sedari tadi Yuni sibuk dengan bayi mungil itu. Sampai-sampai tidak menyadari kedatangannya.


"Eh Pak Fahri, kebetulan anda datang." Sesaat setelah kedatangan Fahri, Yuni pun langsung ingin meminta bantuan karena bayi mungil ini, sekarang membutuhkan susu untuk mengganti makanan. Terlihat dari bibirnya yang terus di gerak-gerakkan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Fahri layaknya orang bodoh.


"Anak Bapak perlu susu, jadi bisakah anda membuatkannya." Lantas Yuni mengatakan maksudnya dan menyuruh membuatkan susu


"Tapi saya tidak bisa," kata Fahri dengan mengangkat kedua bahunya.


"Kalau begitu, tolong jaga ini. Biar saya yang membuatkannya," ucap Yuni yang tak mau membuang waktu lebih lama lagi.


Fahri mengangguk, tanda bahwa ia setuju untuk menjaga baby yang sekarang berpindah tangan kepadanya.


15 menit kemudian, Yuni sudah membawa susu untuk diberikan pada baby yang berada di gendongan Fahri.


"Tolong letakkan di sini," titah Yuni karena dirinya ingin memberikan susu agar bayi itu segera terlelap.


Tak berselang lama, bayi malang itu telah pergi ke dunia mimpi.


"Pak, sepertinya anda membutuhkan box untuk tempat tidur si mungil ini." Yuni pun mengingatkan bos nya itu agar membeli box, agar memudahkan bayi mungil itu untuk tidur.


"Begitu Ya, kalau begitu kita akan ke toko khusus perlengkapan bayi. Bagaimana?"


"Masa iya saya harus ikut," kata Yuni karena kondisi bayi tidak memungkinkan untuk diajak.


"Tidak mungkin kan kalau saya ke sana sendirian," ujar Fahri, karena di samping itu. Ia tidak tahu menahu soal kebutuhan bayi.


"Apa ide kamu," kata Fahri.


"Pak Danu dan Sintia," ucap Yuni.


"Ide bagus." Jawab Fahri.


Akhirnya dengan usul yang sudah diberikan oleh Yuni, Fahri langsung menghubungi Danu dan meminta Sintia sebagai temannya.


Beberapa detik kemudian.


"Bagaimana, Pak? Apa mereka bisa dimintai tolong." Setelah Fahri usai mematikan ponsel, dengan segera Yuni bertanya.


"Sebentar lagi mereka akan ke sini. Biar mereka merinci apa yang dibutuhkan, karena saya tidak tahu apapun." Jawab Fahri pada Yuni, agar perempuan itu tidak banyak bertanya lagi.


Yuni diam, dan kini keduanya sedang menunggu kedatangan Danu dan juga Sintia.


Namun, saat keadaan hening. Tiba-tiba gawai milik Fahri bergetar karena ada pesan masuk. Lalu Fahri buru-buru mengambil untuk melihat dan ternyata pesan dari Danu, jika mereka tidak jadi datang karena itu akan membuang waktu saja.


"Mereka tidak jadi datang, karena katanya ia langsung akan pergi ke toko." Setelah meletakkan gawai, Fahri pun memberitahu Yuni.

__ADS_1


…………


Sedangkan di tempat lain.


"Nanti kau yang akan masuk, karena saya tidak tahu apa-apa soal apa yang akan dibeli." Sebelum masuk ke dalam mobil, Danu pun mengingatkan Sintia agar masuk ke dalam toko sendirian.


"Enak saja, memangnya kau pikir aku juga tahu. Ingat! Aku masih bujang jadi tidak tahu juga apa yang dibutuhkan," ucap Sintia yang menolak untuk masuk sendirian.


"Benar juga ya, yang dikatakan perempuan ini." Danu membatin dan membenarkan ucapan Sintia.


"Jadi, apa kau ingin menyuruhku untuk masuk!" imbuh Sintia lagi dengan nada sedikit tinggi.


"Yahhh … Baiklah, saya akan ikut kamu masuk." Dengan helaan nafas berat Danu pun akhirnya ikut menemani Sintia untuk masuk, ke dalam toko untuk membeli apa saja yang dibutuhkan bayi malang itu.


"Pak, kira-kira siapa ya. Yang tega meletakkan bayi di depan rumah Pak Fahri?" Sintia masih tidak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar. Terlihat kejam sebagai orang tua karena sudah tega membuang darah dagingnya sendiri.


"Entahlah, saya akan bertanya pada Fahri. Kenapa bisa rumahnya yang harus menjadi tempat pembuangan bayi," ucap Danu menimpali dan sepertinya ia harus turun tangan lagi, untuk melacak siapa yang tega menaruh bayi itu di depan rumah Fahri.


"Sampai, sekarang turun dan jangan membuat saya malu!" seru Danu yang tak ingin ada keributan seperti biasanya, yang selalu terjadi jika keduanya selalu bertemu.


"Malu-maluin tapi kok ngajak," gumam Sintia.


"Saya mendengar dan jangan membuat emosi," kata Danu, melirik sekilas ke arah Sintia. Lalu kembali berjalan untuk membuka pintu toko yang terbuat dari kaca.


"Selamat datang di toko kami, Nyonya dan Tuan." Pegawai toko menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.


"Saya mencari pelengkapan bayi yang baru lahir," kata Danu pada para pegawai.


"Boleh di jelaskan apa saja," timpal pegawai itu.


"Saya tidak tahu." Jawab Sintia dan itu membuat dua pegawai saling tatap.


Melihat wajah kebingungan dari para pegawai. Membuat Danu harus mencari alasan agar pegawai itu tak menatapnya aneh.


"Itu semua untuk keponakan kami, benarkan, Sin." Lalu Danu menyenggol siku Sintia sebagai kode agar dia juga ikut berbohong.


"Iya Mbak, semua ini untuk kado kelahiran keponakan saya. Jadi, Mbak ambilkan saja semuanya yang dibutuhkan." Tak lupa Sintia meminta pada para pegawai mengambil barang-barang tersebut, dan Danu akhirnya bisa bernafas lega, karena ia mengerti dengan kode yang diberikannya barusan.


"Baik lah, Nyonya dan Tuan bisa menunggu kalau begitu. Biar saya dan kawan saya yang akan mengambilnya," ujar pegawai itu.


Tidak berapa lama.


"Mbak, ini serius?"

__ADS_1


__ADS_2