
"Masuklah, jangan kau buang tenagamu dengan sia-sia." Danu pun langsung menyuruh Fahri untuk segera masuk karena dia tidak mau, ada pertengkaran di depan umum. Apalagi yang ia kunjungi adalah rumah sakit.
"Ana hamil." Setelah berada di dalam mobil, Fahri mengatakan akan kehamilan Ana pada Danu.
"Terus kamu yakin jika itu adalah benihmu?" kata Danu dan sekarang ia ingin mendengarkan jawaban dari pertanyaan itu, pada Fari.
"Apa aku harus mengatakan hal yang tidak mungin aku perbuat kepadanya," ujar Fahri, dengan nada sedikit penekanan. Pemandangan yang baru saja ia lihat. Membuat darahnya mendidih. Namun, nyatanya Danu mencegahnya untuk tidak membuat masalah.
"Sekarang kamu perlu es batu," ujar Danu.
"Untuk apa?"
"Biar otak kamu sedikit dingin dan bisa berpikir, kalau membalas itu tidak harus dengan kekerasan. Ada banyak cara halus yang kita bisa lakukan," terang Danu pada Fahri, karena sepertinya Fahri sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
Fahri yang mendengar jawaban tersebut, langsung terdiam. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Danu adalah benar.
"Maaf, itu karena aku sudah lelah dengan permainannya." Jawab Fahri, yang kini mulai tenang.
"Bermainlah dengan cara tampan, ok."
...----------------...
Keesokan paginya saat Fahri bangun tidur. Samar-samar terdengar suara bel yang sedari tadi terus berbunyi.
"Siapa pagi-pagi sudah bertamu, apa orang penting?" dalam keadaan yang masih lesu. Fahri bertanya-tanya akan siapa yang pagi-pagi bertamu.
Dengan keadaan yang masih menggunakan baju tidur. Fahri akhirnya turun untuk melihat seseorang itu.
Ceklek.
Dari arah pintu, terlihat sosok wanita dengan pakaian biru laut tengah sesekali celingukan karena sedari tadi belum juga ada yang membukakan pintu untuknya.
"Kenapa dia lagi yang datang," gumam Fahri saat ingin membukakan gerbang untuk Yuni.
Saat Fahri sudah keluar dan membuka gerbang, Yuni mengerutkan keningnya. Kepalanya sudah dipenuhi oleh tanda tanya, karena melihat keadaan laki-laki itu dengan keadaan sehat dan bugar.
__ADS_1
"Bukannya pak Danu bilang kalau pak Fahri sedang sakit, tapi kok kelihatan sehat ya?" tanya Yuni di dalam hatinya.
Untuk beberapa saat Yuni menyunggingkan senyuman, agar tidak terlihat kaku di depan bos nya itu.
"Pagi, Pak." Yuni pun langsung menyambut Fahri dengan wajah tertunduk. Sebagai penghormatan antara bos dan bawahan.
"Pagi juga, kamu ngapain pagi-pagi udah main ke sin?" tanya Fahri.
"Kata pak Danu Bapak demam, dan saya di suruh ke sini untuk membawakan makanan untuk Bapak." Jawab Yuni dengan mengangkat rantang yang berada di tangannya kini.
"Pasti Danu yang mengatakan seperti itu padamu?" tanya Fahri pada Yuni, untuk memastikan jika ucapannya adalah benar.
"I-ya Pak, pak Danu pagi-pagi buta mengabari saya untuk membuatkan sup untuk Bapak, lalu di suruh sekalian untuk mengantarkannya kemari." Jawab Yuni sedikit takut jika saja bos nya itu akan memarahinya.
"Memangnya kamu di bayar berapa sama Danu? Makanya mau di suruh-suruh sama orang itu," ujar Fahri karena sepertinya Yuni selalu tunduk pada Danu, dan apa yang dikatakan oleh Danu Juga Yuni menurutinya.
"Kenapa Bapak bertanya seperti itu," kata Yuni sedikit merasa terpojok akan kata-kata dari bos nya itu.
"Apa salahnya kalau saya bertanya, apa itu menyulitkanmu." Fahri berkata dengan tegas dan itu semakin membuat Yuni bertambah takut.
"Duh kok jadi begini ya," gerutu Yuni di dalam hatinya, karena ia juga tidak mungkin untuk berkata jujur. Soal apa yang sudah disepakati olehnya dan Danu.
"I-ya. Memang saya di bayar untuk ganti rugi apa yang saya masak untuk anda. Itu karena pak Danu melihat Bapak sakit, dan tidak mengontrol akan kesehatan anda sendiri." Entah kata-kata darimana sampai Yuni berani berkata demikian. Ia juga tidak mungkin di bayar 50 juta, hanya untuk memberi perhatian kepada sosok lelaku yang tengah berdiri di depannya itu.
Huff.
"Lagi-lagi berlaku seolah-olah memang aku sedang terpuruk. Cih, sangat menyebalkan." Dengan langkah berjalan masuk, setelah membukakan pagar untuk Yuni, Fahri langsung berjalan masuk ke rumah.
"Seperti biasa tata di meja makan, karena saya akan mandi terlebih dulu." Fahri gegas naik ke atas tangga setelah menyuruh Yuni, untuk menata apa yang di bawa olehnya.
Tidak lama kemudian. Sosok wanita cantik itu, kini sudah berada di dapur untuk mengambil minum. Namun, siapa sangka bahwa ia bertemu dengan Yuni dan itu membuat keduanya saling melempar kata-kata umpatan.
"Eh, ada OB, rendahan." Ana yang saat itu tengah menengguk air minum langsung mengatai Yuni.
"Eh, ada istri soleha. Ngapain Mbak disitu?" kata Yuni dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Apa maksud kamu," hardik Ana.
"Memangnya situ tidak dengar apa, masa saya harus mengulang. Sorry ya gak ada kata ulangi," ujar Yuni dengan tatapan sinisnya.
"Ini rumah saya. Kamu yang sopan pada pemilik rumah ini," kata Ana dengan wajah yang sudah merah padam.
"Yakin, anda yang punya rumah ini?"
"Memangnya siapa lagi kalau bukan saya. Apa kamu pikir ini rumah bakal menjadi milikmu, cih. Jangan harap dan jangan bermimpi tinggi-tinggi,"kata Ana dengan sebuah tawa yang menggelegar.
" Bermimpi dikit kan gak apa-apa. Anda juga kan sedang berkhayal akan menjadi ratu sedunia. Lantas kenapa saya tidak bisa," ujar Yuni.
Brakh.
Ana menggebrak meja dengan sangat keras, dan itu membuat Yuni sedikit kaget karena suaranya yang cukup keras.
Tatapan Ana yang tajam, tak membuat Yuni sedikitpun takut. Justru dirinya membalas tatapan itu dengan santai namun terlihat sangat dalam.
"Ingat, lelaki yang kamu sia-siakan dengan segera akan saya ambil, camkan itu!" tatapan bak elang santai namun bisa mematikan lawannya.
"Sampai kapanpun, saya tidak akan melepaskan burung yang berada di dalam sangkar, yang sudah saya siapkan." Ana membalas ucapan Yuni, tak kalah sengitnya.
"Silahkan, tapi sebentar lagi burung itu akan saya bawa pergi."
Hem.
Saat keduanya masih dengan keadaan panas. Tiba-tiba suara deheman membuyarkan antara perang dingin keduanya.
"Mas, kamu sudah mau berangkat."
"Stop, berhenti dan jangan mendekat." Ana tercekat saat mendengar penuturan dari Fahri.
Sedangkan Yuni tertawa karena pada akhirnya Ana jugalah yang malu, karena sudah mendapat penolakan dari bos nya itu.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh merapikan dasimu itu?" kata Ana dengan kening yang mengkerut.
__ADS_1
"Yun, tolong bantu saya." Fahri lantas menoleh dan ke arah Yuni, dan Yuni pun mencoba mencermati akan perintah Fahri.
"Tentu, dengan senang hati saya akan melakukannya." Jawab Yuni, meski ia mau namun sejujurnya di dalam hatinya amat grogi