
"Coba katakan yang jelas, dan jangan bertele-tele!" seru Danu karena Fahri tak kunjung bicara perihal masalahnya.
"Atur nafas terlebih dulu."
"Ana, Ana kembali dan ingin mengambil bila dariku." Fahri yang sudah mulai tenang, lantas ia pun mulai menjelaskan akan maksud dan tujuannya datang ke tempat Danu.
Danu diam sejenak, mencerna tiap kata yang diucapkan oleh Fahri. Ia masih tidak bisa mengerti apa maksud dari semua ini.
Ana, Bila. Apa maksudnya?
Sedikit lama untuk mencerna hingga Danu memilih bertanya. Mengenai kedatangan Ana, yang ingin mengambil Nabilla.
"Bisa lebih dijelaskan. Aku masih belum mengerti dengan yang kamu maksud," kata Dani sambil menopangkan dagunya di antara buku yang ia pegang.
"Ana datang, dan kamu tahu kalau ternyata Nabilla adalah anaknya." Fahri pun mencoba menceritakan tentang kedatangan Ana, pada Danu.
"Tunggu-tunggu, kamu yakin jika Billa adalah anak Ana?" kata Danu karena sedikit tidak percaya dengan apa yang di beberkan oleh Fahri.
"Ana mengakui itu, dan dia sengaja meletakkan bayi mungil di depan gerbang!" ucap Fahri bersungguh-sungguh.
"Jadi ... benar kalau Billa adalah anaknya Ana, lantas alasan apa sehingga tega berbuat seperti itu? Bukannya dia juga dulunya punya kekasih?" Danu pun bertanya-tanya tentang alasan Ana yang tega membuang Billa, dan entah apa alasannya.
"Aku tidak tahu, yang aku pikirkan sekarang. Adalah mempertahankan Billa, agar tidak jatuh di tangan Ana." Dengan tangan terkepal, Fahri berkata dan akan terus memperjuangkan Billa sampai kapanpun.
__ADS_1
Saat ini Fahri tak bisa bekerja dengan perasan bebas. Semua itu hanya karena Billa, Fahri sedikit takut karena biar bagaimanapun, bocah yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, akan meninggalkannya.
"Fahri, kamu juga ingat. Yuni membutuhkan mu jadi, jangan pernah mengabaikan dia." Danu yang langsung menyadari bahwa Fahri tidak mau kehilangan Billa, tapi dia juga harusnya tak juga melupakannya.
"Iya aku tahu, terimakasih buat curhatan hari ini." Fahri saat ini sedikit merasa lega karena bisa berkeluh kesah pada Danu, karena ia tahu bahwa tidak bisa mengatasi masalah sendiri jika tidak ada campur tangan dari Danu.
.............
Keesokan paginya.
Billa yang sudah siap untuk berangkat sekolah, dan Fahri juga sudah siap untuk mengantarnya. Tidak lupa pagi ini dirinya akan menjemput Yuni agar keduanya bisa berangkat bersama.
"Hye, my princess. Sudah siap?" tanya Fahri saat melihat Billa baru saja turun dari tangga.
"Ya sudah sekarang sarapan, sembari menunggu bekal Billa di siapkan." Fahri lantas menyuruh Billa untuk duduk, lekas itu sarapan karena Bibi masih menyiapkan bekal untuk di bawanya ke sekolah.
"Billa, siap?"
"Udah Yah, yuk kita berangkat." Billa yang sudah siap lantas mengajak Ayah nya untuk segera berangkat.
Beberapa menit kemudian.
Tin.
__ADS_1
Tin.
Di dalam rumah seorang wanita mengernyitkan dahinya, karena mendengar suara klakson dari luar rumah.
"Mobil siapa itu?" tanya Yuni pada dirinya sendiri.
"Siapa Yun?" ternyata Ayah nya Yuni juga mendengar suara klakson juga.
Yuni tidak menjawab, hanya kedua bahu yang terangkat sebagai kode. Bahwa dirinya juga tidak tahu.
Di luar.
"Aunty!" panggil Billa.
Tok.
Tok.
"Lho Kamu."
Yuni pun gegas melirik ke arah mobil tersebut, karena ia yakin kalau bocah manis itu tidaklah sendiri.
"Yuk, berangkat." Mendengar teriakan tersebut. Yuni lantas berjalan menuju dimana mobil itu berada.
__ADS_1