Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
26. PERTENGKARAN ANTARA FAHRI DAN BU NANI


__ADS_3

Keesokan paginya.


Suara gawai milik Fahri terus berdering, dan tertera nama sang mama.


"Siapa?" tanya Danu saat melihat Fahri sedikit gemetar.


"Mama," jawab Fahri singkat.


"Angkat saja, sepertinya kamu harus kuat menghadapi sikap tante Nani saat ini." Ucapan Danu membuat Fahri mengerutkan keningnya, karena sepertinya Danu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.


"Maksud kamu, apa?" sungguh Fahri tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya. Apa ini soal Ana? Entahlah, sepertinya memang ada drama lagi nantinya.


Klik.


Akhirnya telepon pun terhubung, karena Danu langsung menyahut dan memencet tombol warna hijau, karena Fahri terlalu banyak bicara.


"Bicara," titah Danu dengan rasa tidak sabar.


📞"Halo assalamualaikum," sapa Fahri saat panggilan sudah terhubung.


📞"Waalaikumsalam, segera pulang! Karena Mama tidak mau urusanmu saat ini sedang berada dimana."

__ADS_1


Klik.


Lalu panggilan pun tiba-tiba diakhiri secara sepihak, dan itu membuat Fahri menyugar kasar rambutnya.


"Kenapa?" Danu yang tidak tahu tante Nami bicara apa, membuat dirinya bertanya pada Fahri.


"Mama nyuruh pulang. Sekarang sudah berada di rumah dan mematikan panggilan secara sepihak, dan sepertinya mama sedang marah denganku." Danu yang mendengar penuturan dari Fahri, itu membuat dirinya semakin yakin kalau ada hubungannya dengan Ana.


"Sebaiknya kamu pulang, selesaikan dan bicaralah pada tante dengan baik-baik." Mau tak mau Danu harus menyuruh pulang Fahri, karena ia tidak mau jika Fahri nantinya dipersalahkan oleh bu Nani, karena suatu hal yang tidak dilakukannya.


Tidak berapa lama kemudian. Fahri sudah sampai di halaman rumahnya dan bersiap untuk masuk.


Baru akan membuka pintu namu tiba-tiba saja.


"Apa kau gila Fahri!" Fahri tersentak saat kepulangannya di sambut oleh sebuah tamparan, yang sedikit menyakitkan itu. Dengan sesekali mengusap pipinya yang terasa panas, Fahri pun menghela nafas berat karena teringat akan Kata-kata Danu sewaktu tadi pagi.


"Kenapa Mama menamparku, di saat aku baru saja pulang?" Fahri pun langsung bertanya akan alasannya sang mama, yang tiba-tiba melayangkan sebuah tamparan untuk yang pertama kalinya, sepanjang hidupnya itu.


"Karena kamu pantas mendapatkannya! Lantas apa maksud kamu menyiksa Ana dan menyuruhnya pergi. Apa kamu sudah gila membiarkan wanita hamil luntang-lantung di jalanan, apa kamu sudah tidak waras." Bu Nani benar-benar murka pada Fahri, lagi-lagi perkataan Danu benar karena semua ini karena ulah Ana, mantan istri Fahri.


"Apa hanya karena rendahan itu, kamu tega menceraikan Ana, jawab Fahri jangan diam. Kamu tidak bisu kan," ucap bu Nani yang semakin memojokkannya, karena merasa jika dirinya sudah membuat Ana terlantar, dan sepertinya Ana juga tengah menuduhnya kalau seolah-olah dirinyalah yang sedang berselingkuh.

__ADS_1


"Apa Mama tidak percaya padaku, dan menuduh sedemikian rupa? Sampai-sampai Mama tega menamparku," kata Fahri membela diri karena meras jika dirinya sudah menjadi kambing hitam.


Bu Nani diam, karena tahu betul sifat putranya yang tak pernah berlaku kasar, karena ia sangat menghormati seorang wanita. Akan tetapi, menantunya bilang jika dirinya tengah mendapat siksaan dari Fahri.


Untuk sesaat bu Nani memutuskan untuk membuang rasa itu, karena melihat Ana yang kesakitan. Apalagi dengan keadaan hamil akan cucunya. Bu Nani tidak bisa menerima itu, karena Ana waktu itu sangat kesakitan.


"Tapi nyatanya Ana mengalami memar, dan perutnya juga ada bekas memar. Dia bilang kamu yang melakukan hanya karena membela OB, di kantor kamu itu." Ucapan bu Nani membuat Fahri menghela nafas, dan mengelus dadanya. Agar tidak timbul rasa emosi pada dirinya saat mendengar penjelasan sang mama.


"Apa Fahri sekejam itu, Ma? Pantang bagiku untuk menyakiti wanita apa lagi harus menyiksa mantan istriku."


"Apa!" bu Nani terlihat sangat syok, jika apa yan dikatakan oleh Ana semua itu benar. Kalau Fahri benar-benar menceraikannya hanya karena wanita lain.


"Apa yang dikatakan oleh Ana, hingga Mama bisa semarah ini padaku?" tanya Fahri dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, karena semuanya telah di mainkan sangat dengan apik.


"Yang jelas kamu telah menyakiti Ana, beserta cucu Mama!" bu Nani sekarang benar-benar percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Ana, dan itu membuat Fahri semakin percaya diri. Jika, Ana bukanlah sosok yang wanita yang kurang baik.


"Tapi kenyataan itu yang Mama Lihat. Kamu tahu jika Ana adalah mantu idamanku? Harusnya kamu tau akan itu.


"Baik, sekarang Fahri akan memberitahu Mama, dan inilah alasanku untuk berpisah." Fahri tidak habis pikir dengan Ana. Bisa-bisa malah memfitnah karena hal ini.


Lantas Fahri memberikan gawai miliknya dan sedang memutarkan isi di dalam ponsel tersebut dan.

__ADS_1


Jedarrrrr.


__ADS_2