Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
23. ANA BERULAH LAGI


__ADS_3

"Sekarang lebih baik kamu pergi, dan jangan menganggu saya." Fahri sedikit geram karena Ana terus saja menahannya. Untuk tidak pergi dari rumah.


"Tapi, Mas. Kamu gak bisa giniin aku seperti ini dong." Fahri tidak menggubris teriakan Ana, dan langsung memilih untuk meninggalkan wanita itu.


Dengan hati yang dongkol, pada akhirnya Ana menyerah dan kembali masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya aku butuh Leo, karena aku sudah tidak tahan dengan sikap laki-laki itu." Ana bergumam seraya membuka pintu. Ia sudah merindukan belaian Leo. Namun, sebisanya semua itu hanya bisa di tahannya. Untuk sementara ia akan menghubungi kekasihnya itu. Walau hanya lewat sambungan seluler, tapi paling tidak. Sedikut bisa mengobati akan rasa rindunya.


📞"Halo, sayang. Kamu sedang apa?" Ana pun bertanya saat sambungan mulai terhubung.


📞"Aku sedang berada di luar, tumben kamu menghubungiku, dan jangan bilang kalau kamu sedang kangen." Jawab Leo, nyatanya sekarang ia berada di kamar dengan seorang perempuan, dan memberikan alasan yang tepat agar Ana percaya.


📞"Aku sangat sebal, karena sikapnya makin menjadi, dan tentunya aku juga rindu sama kamu." Jawab Ana saat wanita itu mencoba mengungkapkan, perihal suaminya.


📞"Kamu sabarlah sebentar, karena rencana kita sebentar lagi akan berhasil." Leo pun mencoba menenangkan Ana, dan memberinya semangat. Agar rencana yang sudah di susunnya akan berjalan dengan lancar.


📞"Baiklah. Aku akan sabar untuk semua itu," ucap Ana lagi.


Dirasa rasa rindunya sudah sedikit terobati. Ana pun menutup panggilan teleponnya.


Huff.


"Sampai kapan aku harus bersikap manis," keluh Ana yang sudah tidak sabar karena terus berpura-pura baik.


.....


Keesokan paginya. Pukul tujuh pagi. Ana tidak melihat Fahri, karena jam segini suaminya itu sudah bersiap untuk berangkat kerja.


"Tumben laki-laki itu tidak terlihat, bukannya jam segini dia sudah siap dengan tas kerjanya?" Ana bertanya-tanya dalam hatinya. Kira-kira ke mana laki-laki itu.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya. Ana membuka pintu kamar Fahri, untuk memastikan jika orangnya ada atau pergi.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


"Mas, kamu gak berangkat kerja." Tidak ada sahutan dari dalam, dan Ana pun mencoba mengetuk pintu itu lagi.


Tok.


Tok.


Tok.


Untuk kedua kalinya. Ana mengetuk dan lagi-lagi tidak ada jawaban.


Ceklek.


Ana mengerutkan keningnya, karena tidak seperti biasanya. Pintu kamar tidak di kunci.


Ana baru saja teringat, dan melupakan akan sesuatu.


"Duh, dasar bodoh kamu, Ana." Ana pun menepuk jidatnya karena dirinya melupakan, jika Fahri kemarin sudah bilang akan keluar kota.


"Bodoh, bisa-bisa aku melupakan itu." Ana berkata dalam hati, kepergian Fahri tiba-tiba membuatnya menyunggingkan senyuman, pasalnya Ana bisa bersenang-senang tanpa merasa terganggu, karena adanya sang suami yang berada di rumah.


"Hari ini aku akan merayakan kemenganku, karena suami bodoh ku tidak ada." Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, Ana tiba-tiba teringat dengan gawai nya.


"Sepertinya Leo bisa membuatku terbang, akan kejantanannya." Setelah berucap Ana langsung menghubungi Leo. Untuk memintanya datang.


Tuuuut. Suara panggilan terhubung, dengan hati yang gembira Ana sudah siap untuk berbicara.

__ADS_1


📞"Halo, Leo!"


📞"Iya, ada apa sayang." Jawab seseorang di sebrang telepon.


📞"Kamu datang ke rumah, ya. Aku sangat menginginkamu." Ucapan Ana mendapat sambutan respon yang baik.


📞"Apa kamu sengaja memancingku, kamu tahu kan kalau aku sangat merindukanmu." Leo pun menjawan ucapan Ana dengan penuh kegirangan. Dengan sesekali mengatur nafas, agar Ana tidak curiga.


📞"Aku justru lebih merindukanmu," ucap Ana pada Leo.


📞"Sabarlah aku akan datang. Memberikan apa yang kamu butuhkan," kata Leo dengan sesekali menahan akan sesuatu karena seseorang, tengah membuatnya bagai tersengat lebah.


📞"Sayang, kamu habis lari-lari ya? Terus itu suara apa?" Ana sedikit merasa aneh, untuk memastikan ia pun langsung bertanya.


📞"Ah iya, aku sedang berlari. Terus nafasku sedikit ngos-ngosan, ya sudah aku matikan ya." Tidak mau Ana semakin curiga, hingga memilih untuk mengakhiri panggilannya.


📞"Ya sudah kalau begitu, dan jangan lupa untuk memuaskanku." Jawab Ana dengan rasa yang tidak sabar.


"Sayang, apa itu perempuan yang kamu maksud." Perempuan itu semakin bergelayut manja, pada Leo.


"Iya, dan sebentar lagi kita akan menjadi orang kaya." Jawab Leo, lalu langsung menghempaskan tubuh wanita itu, dan dengan segera memelucutinya lalu melahapnya, dengan sangat rakus.


Pergumulan dua manusia membuat keadaan sedikit panas, meski hawa untuk sekarang terbilang dingin.


Ughhh.


"Sayang, aku sangat puas karena kamu bisa membuat permainan menjadi, sangat indah." Ucapan Leo di balas senyuman oleh wanita itu.


Wanita yang sudah beberapa tahun pergi meninggalkannya, dan sekarang sudah kembali.


"Kamu memang lelaki yang luar biasa, punyamu begitu membuat berdenyut sesuatu di dalam. Hingga aku tidak ingin menghentikan permainan ini," balas perempuan itu.

__ADS_1


"Tapi perutku sudah lapar, untuk mengembalikan tenaga. Membutuhkan makan agar pertarungan kita nanti biar makin sengit." Jawab Leo yang ingin menyudahi permainannya di atas ranjang, dan memilih untuk mengisi perutnya agar dirinya semakin kuat, untuk menggempor perempuan itu, dan juga Ana nantinya.


Entah Leo pria seperti apa karena tidak puas hanya dengan satu wanita saja, dan terus mencari mangsa hanya demi kebutuhan hidup. Tanpa harus bersusah payah untuk bekerja, mungkin bisa jadi itulah alasannya.


__ADS_2