
"Kau!" Sungguh Fahri tidak menyangka dengan kemunculan wanita, di masa lalunya itu. Yang sekarang tengah berdiri dan berbicara pada pembantunya.
"Hai Mas, apa kabarmu." Wanita itu tersenyum seraya,menampilkan jika dirinya sekarang bukanlah yang dulu. Dengan baju berwarna coklat, dan dipadukan dengan rok span berwarna putih. Dengan belahan yang hampir memperlihatkan lekuk tubuhnya, sungguh itu membuat Fahri risih.
"Jangan banyak tanya, sekarang katakan apa mau. Lepas itu segera pergi dari rumahku," kata Fahri penuh penekanan karena ia sudah tidak ingin mencari masalah dengan wanita ulat tersebut.
"Ingat umur, dan jangan marah-marah." Perempuan itu lantas tersenyum dan menanggapi ucapan dari lelaki yang sekarang tengah menatapnya tajam, meski begitu ia tetap tenang.
"Apa maumu?" kata Fahri yang berusaha tidak terpancing emosi.
"Yang pasti aku punya tujuan, jika tidak. Mana mungkin jauh-jauh aku datang dan menginjakkan kaki di rumahmu ini," kata wanita itu yang tak lain adalah Ana. Dengan tatapan bak busur panah, Ana berucap tanpa punya rasa takut sama sekali.
__ADS_1
"Apa maksudmu! Jangan mempersulitku dengan kedatanganmu ini yang secara tiba-tiba dan tak pernah aku harapkan."
"Tenanglah, jangan berpikir macam-macam karena aku tidak ingin mengusik kehidupanmu itu. Yang aku mau serahkan anakku sekarang juga? Dengan begitu aku akan segera pergi," ucap Ana dan itu membuat Fahri bingung.
"Jangan main-main, dia anakku dan itu bukan anakmu. Kamu mengerti!" sergah Fahri dengan menatap tajam ke arah Ana. Dengan sejuta kemarahan yang kian tak terbendung lagi.
"Kapan kamu melahirkan, bukannya bayi itu kamu temukan di depan gerbang?" Ana tersenyum saat berbicara dengan Fahri. Sedangkan lelaki itu pun diam dan tak berkutik sama sekali, karena apa yang dikatakan oleh wanita itu memang benar.
"Iya, itu aku yang meletakkannya. Maaf ya sudah merepotkanmu," ucap Ana dengan sebuah senyuman, dan sama sekali tidak menunjukkan akan rasa bersalahnya, pada mantan suaminya.
Sekarang yang ada di pikiran Fahri adalah. Tetap mempertahankan Nabila apapun yang terjadi. Tidak peduli walau Ana adalah ibu kandungnya.
__ADS_1
"Meski dia adalah darah dagingmu. Kamu pun tidak berhak untuk membawanya, karena aku yang membesarkannya. Bukan kamu, paham!" dengan amarah yang menggebu. Fahri pun berbicara dengan nada tinggi. Tidak peduli walau sekarang yang ada di depannya adalah orang tua kandungnya.
"Dia adalah anakku. Kalau kamu tidak mau memberikan padaku. Maka, jalan satu-satunya aku akan menyeretmu ke rana hukum. Dengan alasan jika Bila di culik olehmu," ancam Ana dengan bangga. Ia yakin setelah ini Fahri pasti akan memberikan Bila kepadanya.
"Jika Bila benar anakmu. Kenapa baru ingat setelah lima tahun sekarang. Lalu jika memang kamu adalah ibunya. Kemana saja selama ini, sampai-sampai membuang anak kandung sendiri demi harta, tapi sekarang lihatlah. Setelah anak itu tumbuh dan merasa bahagia. Kamu datang dan menghancurkan hati anak yang tak berdosa," Fahri berbicara panjang lebar karena kesabaran yang ia miliki telah habis.
"Untuk saat ini. Ibu macam apa kamu ini! Apa masih pantas kelakuanmu di sebut seorang Ibu. Kurasa tidak, karena kamu sama sekali tidak pantas disebut seorang 'Ibu' sekarang katakan berapa banyak alasan yang ucapkan.
" Kamu tidak bisa seperti ini! Nyatanya Bila adalah anakku, anak kandungku." Lagi-lagi Ana berbicara seakan dirinyalah yang akan memenangkan perang dingin ini dengan sangat bangga.
"Tidak, ibu Bila sudah lama mati.
__ADS_1
" Ibu."