Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
29. AKHIR DARI SEGALA PERBUATAN


__ADS_3

Pergilah, jangan pernah memperlihatkan wajahmu di depanku, karena kita tak lagi saling kenal. Cintamu sudah tak ingin ku gapai dan biarkan hati ini tenang tanpa mengenalmu lagi.


🍁🍁


"Fah-ri!"


"Ternyata kau menguping ya? Kenapa tidak bersama selingkuhan mu itu? Apa dia sudah membuangmu setelah kau tak lagi bersamaku, karena tak ada lagi harta, yang kau berikan padanya? Aku tahu berapa uang yang kau ambil dari perusahaanku demi selingkuhanmu itu." Fahri menatap tajam ke arah Ana karena perempuan itu telah mencoba menguping percakapan antara dirinya dan sang ibu.


"An, Fahri akan mengantarkan kamu pulang. Ibu percaya jika Fahri tak pernah menyakiti kamu? Sudah cukup sandiwara yang kamu mainkan jadi, tunggu apalagi." Bu Nani datang wajah yang penuh kekecewaan pada Ana. Mengatakan jika wanita itu harus pergi karena rumah tangga anaknya telah usai untuk saat ini.


"Bu, tolong bilang sama mas Fahri. Jangan pulangkan aku karena aku tidak mau kalau ibu dan bapak akan marah," ucap Ana dengan entengnya tanpa memikirkan soal kesalahannya.


"Itu semua ada konsekuensinya, lagipula orang tuamu sudah mengetahui kelakuan bejat anaknya, yang terlihat lugu namun ternyata seekor ulat bulu." Fahri dengan cepat langsung menyahut karena semua itu menurutnya, bukan lagi urusannya.


Jika Ana sekarang diadili oleh Fahri dan ibunya. Lain halnya dengan sosok lelaki yang kini tengah tertawa terbahak-bahak.


……


"Leo, kamu sungguh pintar kalau urusan uang."


Hahahaha.


Keduanya tertawa di depan bartender.


"Cla, aku bukan laki-laki bodoh seperti Fahri, dan bukan juga seorang yang terlalu mendalami sesuatu apalagi demi cinta. Hanya saja Ana terlalu bodoh karena percaya dengan aku," ucap Leo dengan tangan yang sudah memegang gelas. Berisikan air setan yang di teguknya saat ini.


"Lantas apa rencana kamu?" tanya kekasih Leo yang bernama Clara.


"Kita gadaikan surat ini, dan pastinya orang rumah itu akan dibayar mahal dan kita akan menjadi kaya." Jawab Leo dengan wajah yang sudah merah padam akibat minuman yang ia teguk bersama wanitanya.


"Kamu memang kekasihku yang berbakat sayang."


Lalu keduanya tanpa punya rasa malu berciuman seakan tak ada tempat lagi untuk menuntaskan nafsu diantara mereka.


"Sangat menjijikkan," batin seseorang yang tidak jauh dari mereka, lelaki itu juga sedang berada di meja bartender. Dengan jelas bisa melihat gerakan dari Leo, namun sayangnya mereka tak menyadari itu.

__ADS_1


Yah, lelaki itu adalah Danu. Ia sengaja membuntuti Leo karena ia tahu niat busuk yang akan dilakukan olehnya. Dengan rencana yang sudah Danu susun, semua itu akan membuatnya mudah untuk mengambil apa yang menjadi hak Fahri.


Perlahan Leo yang saat itu tengah di intai oleh Danu, terlihat sudah mulai tak berdaya. Begitu pula dengan Clara.


Blek.


Akhirnya jatuh juga kepala Leo di meja, dan Clara juga.


"Bawa dia ke gudang," Danu memerintahkan anak buahnya untuk membawa keduanya dimana para penjahat itu harusnya berada.


"Baik Bos, kami akan segera membawanya." Jawab anak buah Danu.


Di rumah yang tak begitu besar, namun sangat menyeramkan, karena lokasinya berada di tengah hutan belantara yang tak terhuni. Sengaja di bangun untuk menyekap para musuh.


Sebetulnya Leo bukanlah musuh besarnya, karena dia hanyalah sosok kecoa kecil bagi Danu.


Byurrr.


Ahhhhh.


"Siapa kau, berani-beraninya menyekapku!" ucap Leo yang tak terima karena merasa jika Leo tidak mengenal sosok Danu.


"Siapa aku, tidak penting untukmu. Yang harus kamu tahu adalah, mana surat-surat yang kau curi waktu itu?" tanya Danu dengan nada halus, karena semua ini bukanlah hal sulit untuk memaksa seseorang, untuk mengembalikan apa yang sudah di ambilnya.


"Surat apa? Aku tidak mengβ€”,"


Plak.


"Apa kau gila!" satu tamparan mendarat di pipi Leo, hingga membuatnya mengerang kesakitan, dan memaki Danu.


"Katakan saja, dimana kau meletakkan surat-surat penting itu bersama perempuan bedebah itu!" geram Danu yang mulai menaikkan nada suaranya, karena Leo belum bisa mencerna apa yang sudah dikatakannya.


Cih.


Leo meludah tepat di hadapan Danu, karena ia baru sadar dengan perkataannya. Jika surat-surat penting milik Fahri lah yang dimaksud.

__ADS_1


"Apa kau ingin aku membaginya denganmu? Cih, itu tidak akan terjadi karena akulah yang berusaha mengambilnya dari istri bodohnya itu." Ucapan Leo membuat Danu murka hingga .


Bukh.


Pakh.


"Bedebah kau ya, aku tidak ingin mengambilnya hanya separuh! Yang aku mau semuanya dan sekarang dimana surat-surat itu."


Hahahaha.


Justru Leo semakin tertawa merasa jika semua ini adalah lelucon.


Uhhh.


Tidak berapa lama, Clara bangun dan sedikit meringis mungkin karena sedang menahan kesakitan, akibat kedua tangannya yang terikat di kursi kayu.


"Memberikan semua surat itu atau wanitamu yang akan menjadi korbannya, jawab!" bentak Danu yang tak ingin lama-lama berurusan dengan para kecoa, yang berada di tangannya sekarang.


"Baik, aku akan memberikannya tapi jangan apa-apakan Clara! Surat itu berada ruang bawah tanah dan tempatnya terletak di dapur." Jawab Leo dengan cepat, karena ia tidak mau kembali dengan keadaan sudah tidak bernyawa.


"Awas kau nanti, suatu saat aku bersumpah akan membalaskan dendamku ini padamu." Leo membatin dengan perasaan marah luar biasa, namun keadaannya sekarang tidak memungkinkan jika harus menghadapi Danu.


"Sekarang urus mereka, dan foto orang-orang tak berguna ini juga. Lantas kirim ke tuan kalian," kata Danu dengan beberapa anak buahnya.


"Siapa orang yang di maksud? Apa itu Fahri? Ya, aku yakin jika orang-orang ini adalah suruhan pria bodoh itu." Leo berkata dalam hati seraya memastikan jika dugaannya adalah benar. Kalau semua ini adalah orang-orangnya Fahri, yang sengaja menyergapnya. Hanya untuk meminta hartanya dikembalikan.


"Bawa dia dan segera masuk ke dalam mobil. Jangan lupa tutup matanya dengan kain," ucap salah satu anak buah Danu.


"Lepas, apa-apaan ini. Kenapa mataku harus di tutup, apa kalian sengaja ingin menjebakku? Jawab!" hardik Leo yang terus meronta saat matanya ditutup dengan kain hitam.


"Lepas, kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini." Clara juga meronta tak terima jika harus layaknya, buronan polisi.


"Diam! Jangan bacot mulut kalian, atau tidak kamu dan kamu, akan kami masukkan ke kandang ular." Seketika keduanya bungkam, saat mendengar bentakan dari salah satu orang suruhan Danu.


Sedangkan di tempat lain. Fahri yang baru saja mendapatkan kiriman vidio dan beberapa foto Leo, tengah keadaan terikat. Membuatnya menghela nafas berat karena tidak mengira kalau Danu, akan bertindak seperti itu.

__ADS_1


"Bukannya anak itu sudah berjanji tidak akan menyakiti orang lagi? Lantas sekarang apa ini," ucap Fahri yang terlihat frustasi dengan semua beban masalah yang sedang menimpanya, namun sekarang malah Danu berulah lagi.


__ADS_2