Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
19. JANGAN MENYAKITI HATI JIKA TIDAK INGIN TERLUKA SENDIRI


__ADS_3

"Mas, kenapa kamu justru menyuruh orang asing untuk membenarkan dasi kamu! Aku ini istrimu dan seharusnya aku yang berhak." Ana berkata dengan nada kesal.


"Siapa yang orang asing?" lantas Fahri mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan Ana


"Dia itu penggoda dan pelakor, kamu mau rumah tangga kita bertambah rusak! Dia itu orang luar dan orang asing kamu masih bertanya seperti itu." Ana benar-benar tidak mengerti kenapa suaminya bisa seperti itu kepadanya. Seakan-akan dirinyalah yang paling tersakiti.


"Memangnya apa bedanya denganmu, oh tentu jelas beda. Maaf ralat ulang," ucap Fahri dengan menepuk mulutnya menggunakan telapak tangannya. Entah apa maksud dari ucapan Fahri, yang memang disengaja.


"Hye pelakor, jangan sentuh suamiku." Ana yang kesal lalu membentak Yuni, sedangkan Yuni masih fokus dengan dasi milik Fahri.


"Kalau saya pelakor terus anda istri durhaka dong. Ups ... Maaf," ucap Yuni lalu kembali membenarkan dasi laki-laki yang sekarang berada di depannya.


Sejenak keduanya saling menatap satu sama lain, menatap dalam-dalam wajah dari masing-masing, dan disitulah terdapat debaran yang luar biasa.


"Tutup mulutmu!" dengan keras Ana membentak Yuni, berharap mendapat pembelaan dari Fahri. Nyatanya suaminya justru berpihak pada Yuni yang notabenenya hanya orang luar.


"Harusnya kamu sadar diri jika yang berada di depanmu itu suami orang. Harusnya kamu punya rasa malu sebagai pelakor rendahan...,"


"Cukup!" sentak Fahri karena sudah muak dengan kejadian pagi ini.


Sedetik kemudian, Fahri menoleh ke arah Yuni.


"Terimakasih Yun, sekarang aku ingin sarapan dan berharap tidak ada yang menggangguku. Kalian paham kan, jika masih ada yang berantem maka siap-siap kalian kulempar ke luar."


Saat Fahri mulai melahap makan tiba-tiba saja Ana mendekati Fahri, dengan gaya manjanya.


Fahri yang merasa risih dan tidak nyaman karena Ana terus memegang pundaknya, akhirnya memilih buka suara.


"Bisakah kamu tidak menggangguku," kata Fahri menatap tidak suka pada Ana, dan menghempaskan tangannya sedikit kasar.


“Mas, aku lapar.” terdengar suara manja Ana, dan itu sangat mengganggu Fahri yang sedang menikmati sarapannya.


“Cih, dasar ulat bulu tidak punya malu. Bisa-bisanya mau makan masakanku,” oceh Yuni dalam hati saat melihat Ana merengek meminta menu yang dibawanya tadi.


“Tinggal makan kan,” sungut Fahri tanpa menoleh dan masih dengan tangan yang memegang sendok dan garpunya.


“Sepertinya anak kamu minta disuapin sama Papanya,” kata Ana yang terus meminta sesuatu pada Fahri dan itu sangat membuatnya kesal.

__ADS_1


“Maaf, aku terlalu terburu-buru. Usahakan makan sendiri karena hari ini aku sudah hampir telat,” ujar Fahri dan itu membuat Ana merasa malu, karena Yuni terus menatapnya dengan penuh kemenangan.


“Satu suap saja,” rengeknya lagi, berharap Fahri mau menyuapinya.


“Yun,” panggil Fahri.


“Tolong suapin istri saya, katanya anak saya minta di suapi. Bisa kan kamu menyuapinya?” Fahri menatap ke arah Yuni, dan menyampaikan apa yang di ingin oleh Ana.


Belum sempat Yuni menjawab namun Ana sudah lebih dulu menyahut.


“Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri,” sahutnya pada Fahri. Dengan hati yang dongkol, serta rasa amarah yang kian membuncah. Ana mencoba menahannya dan segera duduk, karena perutnya sudah amat lapar.


“Kenapa, saya bisa kok menyuapi anda … Nona,” kata-kata penuh penekanan, dan senyuman yang menakutkan membuat Ana dengan segera menolak.


“Saya bilang tidak perlu, saya punya tangan dan itu artinya tidak butuh bantuan.” Ana menegaskan akan kata-katanya.


“Oh, ya sudah. Lagian saya tadi hanya pura-pura karena saya tidak sudi jika terkena racun, yang ada di mulut anda. Menulari hati saya,” kata Yuni. dengan suara datar tanpa ekspresi semakin membuat Ana bertambah kesal.


“Yun, jangan bicara lagi. Sekarang lebih baik kita berangkat karena saya sudah hampir kesiangan,” oceh Fahri dan Yuni pun mengangguk patuh.


“Bak Pak, kebetulan saya tadi naik angkot, jadi bisa dong saya nebeng.” Jawab Yuni sesekali tersenyum.


Setelah beberapa menit di saat suaminya dan juga Yuni sudah keluar.


Prank.


“Sialan.”


“Bedebah!”


“Kalian sudah membuatku marah … Argh, aku tidak bisa terima.” Ana berteriak melampiaskan kemarahan di meja makan, dan melempar semua barang yang ada di atasnya.


“Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, Fahri. Sekarang aku sedang mengandung dan itu tandanya, kamu tidak akan bisa menceraikan aku.”


Hahahaha.


Setelah meluapkan emosinya. Ana tertawa terbahak-bahak karena sebentar lagi, semua yang diinginkannya akan terkabul.

__ADS_1


Jika Ana sedang tertawa menanti detik-detik akan kemenangannya.


Fahri yang berada di dalam mobil sedari tidak berkata apapun. Ia hanya bisa berkata dalam hati, menyesali perbuatannya pada Ana, biar bagaimanapun perempuan itu masih sah istrinya. Namun, semuanya terpaksa ia lakukan karena ingin melihat. Seberapa kesalnya jika kita disakiti dengan terang-terangan. Nyatanya Ana marah, lantas mengapa ia sampai tega menyakitinya yang amat terlalu dalam.


“Ya Allah. Maafkan hamba yang sudah khilaf dengan bertatapan dengan wanita lain,” ucap Fahri dalam hati, karena ia memang tidak melepaskan pandangannya dari Yuni.


Begitu juga Yuni yang merasa jika dirinya adalah orang ketiga. Pikirannya tak jauh berbeda dengan Fahri. Ada rasa berbeda saat dirinya tanpa sengaja bersentuhan kulit, saat membenarkan dasinya. Perasaan yang tak bisa dicegah. Rasa kagum dan rasa ingin memiliki tiba-tiba datang, menyerbu akal sehat Yuni.


………………..


Pukul delapan pagi, sesampainya di kantor.


Saat Yuni turun dari dalam mobil Fahri. Semua mata tak luput dari pandangannya.


“Duh, kenapa aku sangat bodoh! Pasti nanti bakal heboh dan bisa-bisa aku dibilang pelakor.” Yuni merutuki kebodohannya karena ia ikut turun di parkiran kantor, tanpa melihat situasi dan itu pasti akan membuat kehebohan semua orang.


“Kamu kenapa? Bukannya jalan malah terlihat seperti maling saja,” kata Fahri saat melihat gelagat aneh dari Yuni.


“Apa Bapak tidak bisa melihat, lihatlah semua orang menatap kita dengan aneh.” Yuni lantas mengatakan sekaligus menunjukkan mata aneh dari para karyawan.


“Apa pedulinya, jangan terlalu mengurusi orang.” Jawab Fahri yang sangat santai.


“Bukan itu yang saya maksud, Pak.”


“Lantas.”


“Mereka mengira jika kita punya hubungan, dan tentunya semua orang akan menjadikan ini fitnah.” Yuni akhirnya mengatakan apa yang mengganjal di hatinya saat ini.


“Benar juga apa yang dikatakan oleh Yuni, dan kasian jika Yuni harus menerima fitnaan itu. Sepertinya aku harus berbuat sesuatu,” kata Fahri dalam hati, dengan begitu tidak ada satu orang pun yang nantinya akan mencemoohnya.


“Sudahlah jangan dipikir. Sekarang lebih baik kamu kembali bekerja, kalau tidak saya akan memecat kamu.” Ucapan tegas dari bibir Fahri, membuat Yuni langsung merinding, karena ia tidak mau sampai semua itu harus terjadi kepadanya.


Akhirnya dengan perintah Fahri, Yuni mengikuti langkah kaki lelaki dengan ukuran tinggi dan tegap. Meski sedikit agak sulit karena tinggi Yuni tidak sebanding dengan Fahri.


Saat berada di lobby. Barulah keduanya berpisah karena Yuni harus mulai bekerja, namun siapa sangka saat dirinya akan menuju ke arah tempat di mana senjata seperti sapu dan barang lainnya berada. Sintia langsung menghadangnya.


"Kamu apaan sih Sin, kenapa harus menghadangku seperti penjahat saja." Yuni berdecak kesal karena itu akan memperlambat pekerjaanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa pagi-pagi sudah berada dalam satu mobil dengan bos. Apa kamu mau dicap sebagai wanita penggoda oleh semua orang! Ingat kita itu hanya rakyat jelata jadi jangan bermimpi terlalu tinggi," pekik Sintia pada Yuni karena ia tidak mau jika temannya menjadi bahan gunjingan oleh orang-orang.


"Aku tahu akan hal itu, dan maaf. Aku melupakannya karena keasyikan melamun, sampai-sampai sudah berada depan."


__ADS_2