
Menyerah bukan berarti kalah. Hanya saja sudah terlalu lelah karena mengejar sosok yang tak pasti.
ππ
Fahri kini sudah sampai di desa, dimana orang tua Ana berada. Yah, memang sengaja Fahri tidak memberi tahu akan kedatangannya ke rumah mertuanya kini. Selama empat jam perjalanan. Tubuh yang lelah dan rasa capek, sejenak Fahri menghembuskan nafas lega karena melihat warteg, yang tidak jau dari mobilnya.
"Mas nya sepertinya bukan orang sini, ya?" tanya orang yang berada di warung tersebut, karena memang Fahri untuk memutuskan berhenti sejenak di warung. Yang terdapat di pedesaan tersebut. Untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Iya Bu, saya dari kota. Di sini saya ingin bertandang ke rumah mertua saya," jawab Fahri dengan sopan.
"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu saya tinggal masuk dulu." Ibu pemilik warung itu pun lantas masuk. Setelah melayani fahri yang memesan kopi dan nasih campur. Untuk mengisi perutnya yang sekarang meminta haknya.
Di desa Ramah Agung, dengan kondisi yang masih asri. Fahri menikmati sarapannya. Sebelum sampai di rumah orang tua Ana.
Sekitar setengah jam. Fahri pun melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke rumah mertuanya itu. Untuk menjelaskan maksud dan tujuannya, dan Fahri juga sudah menyiapkan bukti-bukti yang ia dapat.
Saat Fahri akan meninggalkan rumah. Tidak lupa ia sudah memasang alat pantau. Guna mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Ana. Setelah Fahri pergi, karena itu juga adalah barang bukti nantinya, jika suatu hari Ana menyangkal akan tuduhannya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Assalamualaikum," ucap Fahri setelah sesampainya di rumah.
Setelah Fahri mengucap salam dan mengetuk pintu. Terdengar suara derap langkah, dari seseorang yang berada di dalam.
Ceklek.
"Waalaikum salam." Jawab suara perempuan yang baru saja menimpali salam Fahri, terlihat berdiri diambang pintu.
"Nak Fahri!" sontak sosok perempuan yang sudah lapuk dimakan usia. Semakin jelas terlihat kerutan di seluruh kulitnya sedikit kaget, akan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Bu, apa kabar?" Fahri bertanya sembari mencium tangan keriput itu.
"Alhamdulillah sehat, Nak." Jawab sosok wanita itu, dengan netra yang sedang mencari sesuatu.
"Eum, Nakβ¦."
"Ana tidak ikut, Bu." Belum sempat wanita itu mengatakan. Namun, rupanya Fahri tahu apa yang sedang dipikirkannya, lalu dengan segara langsung menjawab.
__ADS_1
"Sebaiknya kita masuk. Udara dingin seperti ini, tidak baik untuk kesehatan Ibu." Agar bisa leluasa dalam berbicara, Fahri lantas mengajak masuk ke dalam rumah. Masih seperti yang dulu, rumah sederhana namun nampak bersih.
"Bagaimana keadaan bapak, Bu?" untuk memulai sebuah percakapan. Fahri pun tak lupa untuk menanyakan akan kabar mertua lelakinya itu, yang baru saja sembuh dan dalam masa penyembuhan.
"Bapak baru saja tidur, setelah meminum obat. Oh ya, bagaimana keadaan anak Ibu? Apa dia sehat dan baik-baik saja?"
"Ya Allah kuatkan hamba. Agar bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini," gumam Fahri dalam hati, sesungguhnya ia tidak tega untuk mengatakan apa yang terjadi, pada rumah tangganya. Namun, semua itu harus ia lakukan untuk bisa lepas dari jeratan yang terlalu menyakitkan itu.
"Bu β¦ Fahri ingin menyampaikan sesuatu, dan saya juga minta maaf jika sudah mengingkari janji. Yang sempat terucap dari mulut saya," ucap Fahri dengan bibir yang bergetar.
Sesaat mata wanita itu seperti sedang menelisik sesuatu, dari wajah Fahri.
Huuuf.
Fahri membuang nafas sedikit kasar, untuk bisa mengungkapkan semua masalahnya.
"Ibu akan menerima semua keputusan, jika memang dalam hal ini menyangkut Ana, karena mata kamu tidak bisa berbohong. Kalau kalian sedang tidak baik-baik saja," kata wanita itu dengan nada lirih, seakan menerima apapun yang akan terjadi pada anaknya.
Fahri merogoh sakunya guna memperlihatkan apa yang sedang terjadi pada Ana, namun sebelum itu Fahri membuka rekaman yang sudah terhubung Cctv, yang kemarin sempat ia pasang di bagian tempat-tempat tertentu.
"Huh β¦ Astaghfirullah, Ana! Tega sekali kamu, Nak." Ibunya Ana sudah tidak bisa membendung air matanya, saat melihat anak satu-satunya itu. Tengah melakukan maksiat di ruang tamu.
Ditambah sudah bersuami juga? Tentu hancur bak serpihan kaca.
Dengan suara isakan, ibunya Ana mencoba untuk bertanya lagi pada Fahri. Meski dengan keadaan yang benar-benar kecewa.
"Apa ini yang membuat kamu ke sini, Nak?"
Fahri menangguk dan kembali mengambil gawai nya lagi, untuk memperlihatkan semuanya. Lalu Fahri menceritakan akan Ana, pada mertuanya.
"Ibu menerimanya jika Ana kamu kembalikan, dan kamu bisa menceraikannya." Ucapan dari mertuanya membuat Fahri semakin yakin untuk meninggalkan Ana.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain.
Ana dan Leo merayakan kepergian Fahri, karena momen itu yang ditunggu-tunggu.
Sudah dua hari Fahri tidak pulang, dan semakin leluasa untuk Ana melakukan sesuatu hal di rumah. Tanpa dirinya harus keluar atau sekedar menyewa kamar di hotel.
"Sayang, kita sedikit mendapat kebebasan di rumah ini." Dengan hati yang gembira Ana berbicara dengan cara memeluk Leo.
__ADS_1
"An, kamu tidak lupa kan untuk mencari barang berharga itu?" kata Leo kembali mengingatkan.
"Baiklah, aku akan mencarinya dan langsung memberikan padamu nanti." Jawab Ana tersenyum.
Setelah itu, keduanya tertawa terbahak-bahak dan orang yang paling bahagia di sini, adalah Leo. Leo berhasil menemukan barang berharga itu, dan sebentar lagi dirinya akan menjadi orang kaya.
"Sayang, jangan lupa anak yang ada di dalam kandunganmu itu, harus tetap bertahan sampai dia lahir, karena anak itu nantinya yang membawa kita menjadi kaya." Mendengar Leo berbicara, membuat Ana tersenyum simpul.
"Kamu tenang saja, setelah anak ini lahir. Dia akan menjadi pewaris di seluruh usaha milik mas Fahri, lalu dengan perlahan. Aku akan membuat dia membenciku, dan berujung perpisahan."
"Itu harus, karena kita sudah menjadi kaya."
Klunting.
Saat keduanya tengah asyik berbicara, setelah melakukan olahraga siang. Belum sempat mereka mengistirahatkan tubuh masing-masing.
Sebuah notifikasi masuk, jika Fahri hari ini akan pulang.
"Sayang, segera punguti bajumu, mas Fahri sore nanti akan pulang." Lantas Ana pun menyuruh Leo untuk segera pergi.
Namun, lelaki itu bukannya pergi dan memakai kembali bajunya. Melainkan menyerang Ana kembali dan.
Grep.
Eummm.
Menyerang tanpa aba-aba. Membuat Ana tidak bisa lagi menghindar, hanya suara lenguhan yang keluar dari bibirnya. Saat Leo menyergap gunung kembarnya. Leo yang sesekali melihat Ana bergeliat, dengan diiringi suara khas nya itu. Semakin membuat kejantanannya tak bisa lagi dikendalikan.
"Le-o, uhhhhh." Dengan nafas yang tersengal Ana terus menerus memanggil nama kekasihnya itu.
"Terus An, panggil namaku. Teruskanlah untuk mengeluarkan suara kamu yang merdu itu," ucap Leo yang semakin bersemangat menggagahi Ana.
"Ahhh β¦ Teruslah merintih karena suaramu terdengar indah," ucap Leo lagi yang semakin mempercepat waktu dan terus memaju mundurkan, pusakanya itu di dalam lembah surgawi milik Ana, yang mereka rengkuh untuk sekarang.
Keduanya sudah basah oleh keringat karena ini adalah permainan keduanya, dan inilah saatnya Leo mengeluarkan air surgawi dengan cara lebih mempercepat untuk memompanya, namun.
Prok.
Prok.
Prok.
__ADS_1