
"Bu, Ibu tidak apa-apa?" kata guru tersebut karena ia juga tidak tahu jika Billa di jemput dengan orang yang mengaku sebagai supirnya.
"Tidak Bu, tolong beritahu saya ciri-cirinya orang itu seperti apa." Dengan hati yang bergetar Yuni mencoba menegarkan hatinya. Meski tidak bisa dipungkiri kalau Yuni juga sangat khawatir terhadap keadaan Nabilla.
"Ya Allah, semoga Billa baik-baik dan engkau akan melindunginya dimanapun dia berada." Yuni berdoa dan meminta agar Billa baik-baik saja.
"Kalau gak gitu segera hubungi Pak Fahri saja Bu, supaya bisa segera di cari." Gurunya Billa pun lantas mengusulkan untuk segera menghubungi Fahri.
"Ya Tuhan kenapa aku tidak berpikir seperti itu," gumam Yuni.
Mungkin saja Yuni terlalu panik karena mendengar kabar dari gurunya Billa, yang sudah membuatnya tidak berdaya.
Yuni pun tanpa menjawab ucapan guru tersebut langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Tuuuut.
Tuuuut.
π²"Halo, Assalamualaikum."
π²"Waalaikumsalam Yuni, apa kamu sudah menjemput Billa?" tanya Fahri di ujung telepon.
π²"Maaf Pak, Billa katanya sudah di jemput oleh supir. Yang pasti bukan kita dan sekarang lebih baik Bapak ke sini," kata Yuni dengan suara gemetar.
π²"Apa! Bagaimana bisa ini terjadi. Baiklah saya akan ke sana dan menyusul kamu," ucap Fahri yang langsung meloncat dari kursi saat mendengar bahwa Billa di culik.
π²"Baik Pak," jawab Yuni dan setelah itu tombol warna merah di geser.
Beberapa menit kemudian.
"Yuni, bagaimana bisa Billa di culik?" tanya Fahri penuh rasa khawatir.
"Gurunya Billa bilang jika ada yang menjemput dengan dalih, sebagai supir Bapak." Jawab Yuni.
Tak berselang lama, suara getaran ponsel milik Fahri bergetar.
Drrrrt.
Drrrrt.
"Ana! Mau apa dia?" pada saat Fahri membuka layar ponsel. Tertera nama Ana.
"Angkat saja, siapa tahu ada hubungannya dengan Billa." Yuni pun gegas menyuruh Fahri untuk mengangkatnya.
"Baiklah." Jawab Fahri.
Detik kemudian.
π²"Haloβ."
Belum sempat Fahri mengucap salam, tapi sudah di potong oleh Ana.
π²"Billa baik-baik saja, karena aku yang meminta orang suruhanku untuk menjemputnya." Di ujung sana Ana tertawa puas karena dengan begitu ia akan mendapatkan uang.
π²"Wanita gila! Apa mau kamu sampai tega membawa kabur Billa.
π²"Siapa yang membawa kabur! Dia anakku dan aku berhak membawanya," tekan Ana dengan nada serius.
π²"Kembalikan Billa padaku, karena kamu tidak berhak menjadi seorang Ibu, dan membawanya kabur!" seru Fahri yang terlanjur emosi.
π²"Aku akan mengembalikan tapi beri aku imbalan!" kata Ana dan inilah kesempatan untuk memeras Fahri.
π²"Berapa yang kamu minta, tapi kembalikan Billa padaku." Fahri tak akan berpikir panjang, jika itu menyangkut Billa.
π²"100 juta, bagaimana?"
__ADS_1
π²"Apa kamu gila, meminta dengan jumlah sebesar itu?"
π²"Kembali atau tidak sama sekali, aku tidak butuh negosiasi. Ingat Mas, aku bisa tes DNA dan Billa sepenuhnya jadi hakku."
Tidak, Fahri tidak akan membiarkan Billa berada di tangan seorang wanita ular. Ia tidak akan pernah memberikan kesempatan untuk Ana. Walau dia adalah Ibu kandung Billa sekaligus.
π²"Baik, dimana aku bisa bertemu dengan Billa, dan aku harap setelah ini jangan pernah mengganggu keluargaku."
Tut.
Tut.
Tut.
"Oh, ****."
Fahri yang tengah emosi hingga melampiaskan tangannya ke pada mobil.
Klunting.
Mendengar pesan masuk, Fahri buru-buru membuka.
π"Datanglah ke gudang xxxx, ingat jangan pernah membawa orang selain kamu, paham." Itulah Bunyi pesan yang dikirim oleh Ana.
π"Ingat! Jangan lupa uangnya 100 juta, jika kamu bohong maka tau akibatnya." Bunyi pesan kedua dari Ana.
"Yun, aku mau mengambil Billa, kamu saya antar pulang ya." Fahri tidak mau melibatkan Yuni dengan situasi serius seperti sekarang.
"Saya tetap ikut, dan tolong ijinkan saya." Jawab Yuni yang tak mau dipulangkan dan memilih untuk ikut.
Huff.
Untuk sesaat Fahri menghela nafas, sebelum mengiyakan permintaan Yuni.
"Baiklah."
Akhirnya Fahri dan Yuni menuju ke tempat di mana Billa di bawa. Sesuai kesepakan jika Fahri akan menyerahkan 100 juta, demi menebus Billa orang yang sangat berharga untuknya.
"Semoga Billa tidak apa-apa." Terlihat jika Yuni sedang cemas, dan Fahri pun menyadari akan hal itu.
Fahri memegang tangan Yuni dengan sangat erat, untuk menghilangkan rasa kekhawatirannya, dan memberikan sebuah senyuman agar rasa cemas perlahan hilang.
Setengah jam telah berlalu dan Fahri pun sudah sampai di tempat yang di berikan pada Ana lewat via Wa.
"Pak."
"Berhenti memanggilku seperti itu Yun, biasakan memanggil saya dengan sebutan 'Mas' kamu mengerti." Yuni tak menyangka jika pada akhirnya Fahri protes dengan nama panggilan yang seharusnya terjadi, antara bos dan bawahan.
"Taβ."
"Saya tidak menerima penolakan, Yun."
"Baiklah, Mas." Yuni sedikit kaku saat memanggil Fahri 'Mas' dan rasanya aneh di lidah menurut Yuni.
"Begitu lebih baikkan."
"Mas,"
"Apa, sayang." Jawab Fahri, sedangkan Yuni tersipu malu karena panggilan sayang yang diberikan oleh Fahri.
"Bukan waktunya untuk bercanda, lihat di depan ada mobil polisi!" kata Yuni sembari jarinya menunjuk ke arah luar.
"Iya, kenapa baru tahu saya."
"Ya sudah lebih baik kita segera turun," ajak Yuni.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua keluar dan melihat di dalam gudang apa yang sedang terjadi.
Di dalam gudang.
"Pak, hukum seberat-beratnya wanita ini! Karena sudah membuat saya miskin."
"Betul Pak, dia sengaja menghancurkan keluarga kami. Dengan menjadi pelakor," kata orang-orang yang berada di dalam sana.
"Beri hukuman yang seberat-beratnya karena wanita ini, telah menipu saya dengan sejumlah uang yang nominalnya tidak sedikit."
"Pak, ini bukan kemauan saya! Siapa suruh wanita-wanita bodoh ini mau saja menyerahkan uangnya pada saya." Rupanya Ana tidak mau disalahkan atas pelaporan yang dibuat oleh Ibu-ibu tersebut.
"Jelaskan nanti di kantor. Sekarang lebih baik ikut kami ke kantor polisi!" ucap polisi tersebut.
Fahri yang penasaran karena dari tadi ia hanya mendengarkan, lantas waktunya untuk bertanya apa yang terjadi.
"Tunggu, Pak!" cegah Fahri.
"Anak saya di sekap juga, dan saya ingin mengambilnya. Lalu apa yang sebenarnya dengan wanita ini?" tanya Fahri penuh tanda tanya.
"Saudari Ana telah menggelapkan sejumlah uang dan mengadakan investasi bodong, jadi saudari Ana harus mempertanggung jawabkan semua ini." Jawab polisi tersebut.
"Mas, tolong aku. Aku tidak mau dipenjara," kata Ana memohon.
"Terimalah apa yang sudah kamu perbuat, dengan begitu kamu bisa menjadikan semua ini pelajaran dan berubah jadi lebih baik lagi." Ucapan Fahri membuat Ana sadar, jika selama ini dirinya telah berbuat jahat dan sering menyakiti orang-orang.
Sedetik kemudian, sejurus mata memandang Ana, diam terpaku menatap gadis mungil itu.
"Billa sini Nak. Ini Ibu," ucap Ana saat berada di gendongan polisi.
"Billa, biar bagaimanapun dia Ibu kamu. Jangan pernah menaruh dendam pada orang yang pernah bertaruh nyawa padamu," ucap Fahri mencoba memberi pengertian pada Nabilla.
Billa yang mendengar hal itu. Merosot dalam gendongan dan perlahan berjalan, menghampiri Ana.
"Ibu," panggil Billa, dan seketika Ana luruh saat dirinya dipanggil 'Ibu' oleh seorang anak yang pernah disia-siakan.
"Iya Nak, ini Ibu."
Pemandangan yang membuat orang menangis karena keduanya saling berpelukan. Melepaskan rindu yang tertunda.
"Billa, Ibu bangga padamu karena kamu anak yang baik."
"Mas, terimakasih sudah mendidik Nabilla penuh kasih sayang, dan aku titipkan dia padamu hingga dewasa kelak."
"Untuk kamu Yuni, jadilah Ibu sambung untuk Billa. Aku yakin jika kamu bisa melakukan peran sebagai seorang Ibu," ucap Ana pada orang satu persatu. Sebelum dirinya di bawah untuk menebus kesalahannya yang tak terhitung.
Akhirnya Ana pun di bawa dan Billa sudah kembali ke pelukan Fahri.
Seminggu kemudian.
"Yun, terimakasih telah menerima saya sebagai suami kamu."
Fahri dan Ana, baru saja merayakan acara pernikahannya dan keduanya resmi menjadi suami istri.
"Aku yang harusnya terimakasih Mas, karena Mas sudah memilih aku untuk menjadi teman hidup Mas." Tidak ada yang perlu di bahas, sekarang kita nikmati malam pernikahan kita dan segera memberikan adik untuk Billa.
Yuni tersipu malu, saat Fahri memberi kode padanya.
.........
Akhirnya semuanya selesai. Ana dipenjara karena penipuan dan Fahri tengah berbahagia, karena bisa menikahi Yuni.
Hidup itu sebuah pilihan, dan penyesalan itu selalu datang dari belakang.
Bersambung
__ADS_1