Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
8. PENUH DENGAN SANDIWARA


__ADS_3

Sejenak Fahri menatap wanita yang ada di depannya itu. Dalam hati ia bertanya-tanya akan sikap Ana barusan, perubahan yang drastis membuat Fahri mengerutkan keningnya.


“Kenapa nada suaranya tidak seperti biasanya?” ada yang aneh dalam kalimat yang dilontarkannya barusan, karena menurut Fahri. Baru kali ini Ana berkata lirih dan sedikit lembut dan itu membuatnya terus


“Orang tuaku akan datang besok, dan aku harap kamu bisa bersikap layaknya seorang istri.” Fahri pun langsung mengungkapkan perihal kedatangan orang tuanya besok, dan harapan Fahri jika Ana tidak akan membuat ulah seperti hari-hari seperti biasanya.


“Tentu, Mas tenang saja.” Jawaban Ana seketika membuat bola mata Fahri seakan ingin loncat dari tempatnya.


Karena perubahan Ana yang begitu cepat, dan itu mengundang rasa curiga akan wanita yang masih berstatus istrinya saat ini.


“Sepertinya aku harus hati-hati dan sekarang, akan aku ikuti permainanmu, Ana.” Dalam hati Fahri tersenyum dan sudah siap dengan peperangan batin yang akan segera dimulai.


“Baiklah, sudah tidak ada yang dibahas lagi bukan.” Setelah mengatakan semuanya Fahri langsung melenggang pergi meninggalkan Ana, yang saat ini masih berada di depan pintu kamarnya.


“Lihatlah apa yang akan terjadi besok, bisa kupastikan kalau kamu akan jatuh ke pelukanku.” Ana berkata lirih dengan senyuman liciknya, sekarang ia berjalan untuk mengambil air minum.


...----------------...


Keesokan paginya, Fahri yang tak berniat untuk menyapa Ana karena memang itu semuanya sudah tidak penting untuknya.


Fahri yang sudah rapi dengan setelan jas dan tas, sudah ingin keluar. Namun, tiba-tiba saja saat dirinya sudah berada di bawah tangga. Ana menyambutnya dengan senyuman yang sangat manis, namun itu berbeda dalam hatinya yang merasa, jika itu sangat menjijikkan untuknya.


“Mas, sarapan dulu.” Rencana sudah dimulai dan sekarang waktunya Ana untuk menyakinkan sang suami, jika dirinya benar-benar sudah berubah.


“Aku makan di kantor saja,” ucap Fahri datar dan sama sekali tidak menoleh ke arah istrinya.


“Aku minta maaf, dan aku akui bahwa kekhilafanku sudah diluar batas. Jadi, aku ingin berubah dan menjadi istri yang jauh lebih baik.” Dengan air mata buaya, Ana meminta maaf pada Fahri dan ingin memperbaiki hubungannya lagi dengan sang suami, karena itulah salah satu dari rencana yang harus dijalankan.


"Tidak mungkin dengan tiba-tiba, Ana berubah kan?" dalam hati Fahri bertanya-tanya lagi, ia pikir semalam hanyalah sebuah lelucon. Akan tetapi, pagi ini istrinya berulah lagi.

__ADS_1


"Nanti jika ada waktu, karena aku sudah sangat buru-buru." Jawab Fahri, lalu meninggalkan Ana di ruang tamu.


Dalam perjalanan Fahri tidak habis pikir, dengan mudahnya seseorang meminta maaf tanpa mengakui semua perbuatannya. Apa ini adil untuknya? Tidak! Ana hanya perlu hartanya bukan dirinya. Ya, sekarang Fahri baru ingat setelah mengatakan jika tidak ada pembagian harta dan ditambah mereka juga belum punya anak. Maka sepersekian waktu keadaan berubah.


Saat ini, Fahri hanya butuh sosok Danu, karena ia sangat bodoh. Makanya setelah sampai kantor dirinya akan mengatakan semua ini pada sahabatnya itu.


Tidak lama kemudian, di bangunan pencakar langit Fahri baru saja turun dari mobil. Kacamata hitam yang bertengger membuat pesonanya semakin terlihat.


Brak.


Suara pintu mobil tertutup setelah memberikan kunci pada satpam yang berjaga di gedung membentang tinggi.


Saat Fahri berjalan dengan tangan memegang ponsel, sedikit langkah yang tergesa-gesa membuatnya tidak fokus pada jalan hingga.


Awasss.


Gubrak.


Fahri meringis kesakitan kari habis terjatuh.


"Kenapa kamu diam disitu dan tidak menolongku. Apa kamu sengaja!" Fahri mengumpat pada gadis itu, siapa lagi kalau bukan Yuni. Takut jika ada seseorang sedang melihatnya, maka jatuhlah harga dirinya karena ditertawakan.


Setelah dibantu berdiri oleh Yuni, lekas Fahri mengelus lagi pantatnya karena itu benar-benar sakit.


"Jika sedang mengepel usahakan memakai portal sebagai peringatan!" sedikit tinggi suara yang dikeluarkan oleh Fahri, membuat Yuni ketakutan. Namun, telunjuknya mengarah ke belakang dimana Fahri terpeleset tadi.


"Astaga." Fahri menghela nafas berat karena tidak melihat ada tulisan 'Awas licin' di portal yang dipasang oleh Yuni, mungkin saja karena saking seriusnya maka netra nya tidak melihat akan peringatan tersebut.


"Harusnya kan kamu bilang, Yuni." Fahri menatap Yuni dengan tatapan sengit seakan ingin melahap nya habis.

__ADS_1


"Tadi saya sudah memberitahu Bapak, tapi Bapak tidak mendengarkan suara saya yang hampir habis. Jadilah anda terjatuh," ucap Yuni mengungkapkan jika apa yang dituduhkan bosnya itu tidak benar.


"Ya sudah, pel lagi itu masih kotor." Tidak ada jawaban dari Yuni, karena Fahri langsung meninggalkannya di lobby.


"Kenapa aku yang dimarahi, dia yang salah tapi yang kena semprot aku. Sungguh menjengkelkan," gerutu Yuni namun tangannya tetap mengerjakan apa yang sudah diperintahkan oleh bos nya itu.


Di ruang kerja.


Fahri yang duduk dengan meletakkan satu jemarinya di dagu, memikirkan akan perubahan istrinya yang tiba-tiba. Sekarang ia juga sedang menunggu kedatangan Danu, tentang apa yang sudah dialaminya semalam dan tadi pagi tentunya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara derap kaki dari arah luar. Fahri yakin jika itu adalah Danu.


Ceklek.


Benar saja itu Danu, karena hanya Danu yang berani membuka pintu secara langsung, tanpa mengetuk terlebih dulu.


"Ada apa kamu menyuruhku untuk ke sini?" tanya Danu dengan posisi berdiri namun tangan diletakkan di atas kursi.


"Ini soal sikap Ana," kata Fahri memberitahu Danu.


"Kenapa dengan istrimu? Apa dia sudah insyaf," ujar Danu dengan tatapan mengintimidasi.


"Itu nanti dulu, ada hal yang aku ingin tanyakan."


"Soal apa?"


"Apa kamu yang menyuruh Yuni untuk mengantar makanan ke rumah?" tanya Fahri karena ia yakin jika semua sudah direncanakan oleh Danu.


"Soal itu, memangnya ada masalah?" tanya Danu lagi yang menanggapinya biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Kenapa kamu menyuruhnya mengirimkan makanan padaku, apa kamu pikir aku tidak mampu membeli makanan." Fahri sungguh tidak mengerti dengan temannya itu, bisa-bisanya mengirim seseorang hanya untuk sebuah makanan.


"Tidak usah munafik, kamu pun menikmatinya bukan." Danu tersenyum tipis, menggambarkan jika dirinya tahu dengan apa yang sudah terjadi, pura-pura kesal namun pada akhirnya menghabiskannya.


__ADS_2