Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
33. BELANJA KEBUTUHAN BABY


__ADS_3

"Kenapa jadi balik bertanya," seru Yuni.


Tidak ada lagi jawaban dari Fahri, namun ia langsung melihat keadaan di luar, karena ia penasaran. Bukankah dirinya sedang tidak memesan apa-apa? Lalu itu mobil box berisikan apa?


Saat Fahri sudah berada di ambang pintu, terlihat mobil milik Danu juga baru saja berhenti.


"Danu," gumam Fahri kalah melihat temannya itu keluar dari dalam mobil dan menuju ke mobil box.


Fahri tidak keluar dan tetap mengamati di teras rumah, untuk mengetahui. Apa yang sedang dilakukan oleh Danu dan juga Sintia.


Perlahan, para kernet dan sopir mulai membuka dan mengeluarkan isi di dalamnya.


"Astagfirullah! Kenapa bisa sebanyak itu? Apa rumahku akan dijadikan grosir perlengkapan toko bayi? Dasar di suruh beli begitu saja tidak becus," umpat Fahri yang tak habis pikir. Kenapa bisa semua isi toko bisa berpindah di rumahnya.


"Bagaimana kau suka?" Danu yang saat ini sudah masuk ke dalam rumah lalu melebarkan kedua tangannya. Seolah-olah dirinya adalah lelaki hebat karena bisa diandalkan.


"Apa kamu tidak salah? Terus mau kamu aku membuka toko di sini?" sungguh Fahri tak habis pikir kenapa Danu sebodoh itu.

__ADS_1


"Apa ada yang salah?" tanya Danu dengan dahi yang mengkerut.


"Menurutmu."


"Bukannya seorang bayi itu membutuhkan perlengkapan yang lebih banyak. Lalu mengapa kau justru menyalahkanku," kata Danu yang merasa jika dirinya tidak salah, namun tetap saja bagi Fahri Danu seorang yang bodoh.


"Pak, semua sudah saya turunkan dan kami mohon pamit." Saat keduanya saling menyalahkan dan mencari kebenaran, tukang angkut barang itu pun lantas pamit.


Namun, sayangnya Danu dan Fahri sibuk sendiri tanpa menghiraukan pemilik dari mobil box.


"Jika kalian tidak bisa berhenti maka sekarang saya akan pulang, dan jaga ini bayi!" geram Yuni karena bayi yang sedari tadi diam kini menangis kencang, hingga membuat perempuan berusia 21 tahun, itu marah karena para lelaki berisik.


Seketika Danu dan Fahri diam tatkala, Yuni marah karena telah membuat bayi itu menangis.


"Sekarang gendong," seru Yuni lagi yang kini sudah lelah. Baru saja ia bisa istirahat namun karena ulah para lelaki, membuatnya harus cepat-cepat mengangkat bayi tersebut.


"Fahri, anak selingkuhanmu sepertinya minta kau gendong—."

__ADS_1


Plakh.


"Itu mulut jaga ya, aku tidak semurah itu. Lagian sampai kapanpun aku tidak tertarik dengan penitipan benih, di rahim seseorang." Dengan cepat Fahri memotong perkataan Danu, dan menolak tuduhan tersebut.


"Lantas ini anak siapa?"


"Jika kalian terus bertanya ini adalah anak siapa? Maka jawabannya adalah anak manusia. Sekarang kalian diam lah karena suara yang kalian keluarkan sangat berisik," ucap Yuni dengan sangat geram.


Tidak ada lagi perdebatan, karena Fahri langsung mengambil alih bayi. Yang ada di gendongan Yuni sekarang ini, dengan tangan yang kaku Fahri mencoba menimang-nimang bayi lucu tersebut dengan penuh sayang.


"Pak Fahri, apakah di kulkas ada makanan?" tanya Yuni karena sekarang perutnya merasakan lapar, dan cacing-cacing yang berada di dalamnya butuh asupan gizi.


"Ada, buat saja makanan. Saya jug lapar karena sekarang sudah pukul 10 pagi, menjelang siang." Jawab Fahri yang memang merasa jika perutnya memanglah sangat lapar.


Namun sesampainya di dapur.


HUAAAAAAAA!!

__ADS_1


__ADS_2