
Apa itu penting, kurasa tidak. Itu karena semuanya tidak ada hubungannya dengan kamu. Jadi, segera pergi dan jangan menggangguku lagi.” Ucapan tegas dari Fahri membuat Ana takut, karena baru kali ini ia melihat wajah dingin dan menyeramkan, yang terlihat jelas di matanya.
“Aku kan hanya bertanya, mengapa kamu marah. Meski itu benar sepertinya kamu dengan gadis gembel ini cocok denganmu,” kata Ana dengan senyuman mengejek.
Sepertinya Ana lupa, darimana dirinya berasal. Ia juga lupa terlahir dari keluarga seperti apa! Sekarang, justru dirinya lupa bak kacang lupa kulitnya seperti itulah julukan yang cocok untuk Ana. Wanita yang tidak tahu diri, sudah diangkat derajatnya namun lupa sebetulnya siapa dirinya sendiri.
“Itu tidak penting, cocok tidaknya kamu tidak berhak mengecam aku.”
“Ya sudah nikmatilah kebersamaan kalian berdua, untuk saat ini aku tidak akan mengganggu kamu. Bye-bye sayang, salam kecup jauh.”
“Sungguh memalukan,” gumam Yuni lalu memandangnya penuh rasa jijik.
Sekarang, di ruang tamu hanya ada mereka berdua. Fahri dan Yuni, terasa canggung namun itulah yang terjadi saat ini.
Ekhem.
Yuni berdehem untuk meredakan rasa canggung itu, yang tiba-tiba datang saat istri dari bos nya pergi.
“Eum, maaf karena saya anda dan istri bertengkar.” Dengan keadaan menunduk, Yuni meminta maaf karena sudah membuat suasana menjadi kacau.
“Tidak, memang beginilah kehidupan kami berdua. Ah maaf, karena sudah curhat dengan kamu.” Ucapan Fahri membuat Yuni langsung mendongakkan kepala, sungguh tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh bos nya itu.
Terkejut, pasti.
__ADS_1
Tidak menyangka, itu tentu. Pasalnya Yuni selama ini tidak mendengar tentang desas desus soal bos nya itu, dimana selama ini mereka selalu bertengkar seperti apa yaang sudah disaksikannya barusan.
“Terus kamu bawa apa? Lantas bagaimana bisa kamu ke sini dan tentunya mendapatkan alamat rumah saya darimana?” cercah Fahri dan semua itu membuat Yuni bingung, karena harus menjawab yang mana dulu.
“Pak, bisakah tanyanya satu-satu. Saya bingung mau jawabnya,” ucap Yuni dengan badan yang sudah gemetar, namun berusaha tenang untuk menghadapi bos nya kini.
“Kamu ke sini di suruh Danu, bukan?" tanya Fahri yang yakin jika semua ini ulah sahabatnya itu.
"Be-tul, Pak. Saya hanya disuruh karena kata pak Danu bilang kalau nyonya Ana sedang pergi, dan Bapak butuh makan. Jadi, saya di suruh untuk mengantar makanan ke rumah ini." Mendengar penuturan dari Yuni, membuat Fahri menghela nafas.
Huff.
"Dasar Danu, bikin malu aku saja," gerutu Fahri dalam hati
Setelah diberitahu dimana dapurnya berada, dengan segera Yuni langsung ke tempat yang di tuju.
"Benar-benar keterlaluan Danu, bisa-bisanya menyuruh orang hanya demi sebuah makanan. Apa dia kira aku tidak mampu membelinya?" di dalam keadaan kesal yang sudah mulai reda, justru sekarang malah ditambah kekesalan karena ulah Danu yang semaunya sendiri.
Fahri bukan orang miskin, jika hanya membeli makanan saja, dia masih mampu. Akan tetapi, kejadian ini sungguh memalukan. Membuatnya bertambah tidak punya harga diri, karena Yuni mengira jika Fahri adalah lelaki pelit meskipun kaya.
"Awas saja kau, Danu." Fahri mengumpat tanpa henti karena masalah ini.
Tidak begitu lama, Yuni keluar dari arah ruang tengah. Sedangkan Fahri berpura-pura merapikan bajunya.
__ADS_1
"Pak, kalau begitu saya langsung pamit." Fahri menoleh dan menatap wanita itu.
"Silahkan, terimakasih untuk kirimannya." Jawab Fahri datar.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain.
Seseorang berjalan angkuhnya. Seakan-akan dirinyalah yang paling kaya di dunia ini, berlenggak-lenggok bak model. Menampilkan paha yang putih mulus, idaman para pria. Tanpa peduli jika dirinya sudah bersuami, namun masih tidak mengakui.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" Ana berjalan menuju sofa dan bertanya soal keadaan kekasihnya yang sudah dihajar oleh Fahri.
"Apa mata kamu buta, dan tidak berfungsi lagi." Leo mendengus kesal karena Ana masih saja bertanya soal luka memarnya.
"Maaf, sayang. Semua ini terjadi tanpa aku tahu," ucap Ana berulang kali meminta maaf karena sudah membuat keadaan menjadi kacau.
"Sudahlah, mau apa kamu kemari. Apa kamu ingin memberiku ganti rugi karena ulah mu seluruh badanku remuk," ujar Leo dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Nanti aku akan mentransfer uangnya, karena masalah ini jauh lebih penting. Maka dari itu aku buru-buru ke sini memang ada yang ingin aku sampaikan," ucap Ana dengan meremas bajunya dengan begitu erat.
"Soal apa?" Leo pun tak kalah penasarannya dan bertanya dengan mata tidak berhenti menatap.
"Ini soal...."
__ADS_1
"Soal apa!"