
"Maksud Mama, Apa?" Fahri akhirnya bertanya soal perkataan dari bu Nani, dan sesungguhnya ia tahu apa maksud dari semua itu namun dirinya hanya berpura-pura bodoh saja, di depan bu Nani.
"Kalian menikah sudah tiga tahun, dan itu tandanya harus ada anak di tengah-tengah kalian. Apa jangan-jangan memang kalian berdua tidak menginginkan anak?" ucap bu Nani dengan menatap mereka berdua secara bergantian dan bu Nani melihat ada sorot berbeda dari keduanya.
Sejenak Fahri mengatur nafas dalam-dalam karena saat ini dirinya betul-betul membutuhkan ruang bernafas yang amat luas. Untuk menghirup udara, karena sekarang dirinya bingung harus menjawab apa? Sedangkan dari sudut bibir Ana tercetak jelas sebuah senyuman. Yang membuat muak Fahri. Tatapan penuh percaya diri bahwa suaminya tidak akan menolak dan menerimanya lagi, karena Ana yakin kalau Fahri masih sangat mencintainya.
"An, apa rahimmu ada masalah?" tanya bu Nani pada Ana yang saat itu tengah memainkan cincinnya yang berada di jari manisnya.
"Eum ... Kurasa tidak, Ma. Rahimku aman mungkin saja Tuhan belum memberikannya," ujar Ana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Apa kamu sudah pernah membawanya ke dokter?" pertanyaan yang diajukan oleh mertuanya. Membuat senyuman Ana langsung pudar.
"Sudah dua kali aku memeriksakannya, dan hasilnya tetap sama. Tidak ada yang serius dan semua juga baik, mungkin Tuhan masih belum memberikannya, mungkin nanti." Ana dengan jawaban ngawur sepertinya sudah cukup untuk menyakinkan mertuanya.
Sekarang bu Nani yang bertanya pada Fahri mengenai kesuburannya.
"Fahri apa kamu juga sudah cek kesuburan?" sekarang giliran Fahri yang mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Semua baik Ma, hanya saja memang belum saatnya." Jawab Fahri lirih.
"Ana, Mama ingin kamu segera hamil."
Sekarang bu Nani beralih menatap Fahri yang terlihat gusar setelah berbicara dengan Ana.
"Nak," panggil bu Nani pada Fahri, dan saat itulah lelaki tampan itu langsung menatap sang mama.
__ADS_1
"Ma, apa yang dikatakan oleh Ana benar. Mungkin saat ini Tuhan masih enggan memberikan anak pada kami. Mengingat itu, kami juga tidak berhenti meminta pada sang khalik agar segera menitipkan benih pada Ana." Fahri membalas ucapan sang mama dengan begitu tenang. Meski raut wajahnya memperlihatkan kegusaran yang tercetak jelas.
Huh.
Bu Nami menghembuskan nafas berat, karena apa yang dikatakan sang anak ada benarnya juga. Ia sebagai ibu tidak bisa menghakiminya karena semua ketentuan Tuhan, dan manusia hanya bisa berencana.
"Baiklah, Ibu akan sabar menunggu kehadiran malaikat kecil itu. Namun, kalian harus juga berusaha dan jangan bergantung dengan sebuah doa." Bu Nani berdiri setelah mengeluarkan isi hatinya pada anak dan menantunya.
Keadaan menjadi hening seketika karena bu Nani sudah beranjak dari ruang tengah. Sepertinya beliau sedang menelan kekecewaan dari Fahri maupun Ana. Tanpa tahu jika keduanya sedang perang dingin.
"Mas, kita bisa memperbaiki semuanya. Jadi, kita bisa memulainya dari sekarang." Ucapan Ana memecah keheningan untuk saat ini. Sedetik Fahri menoleh lalu tanpa menjawab ia langsung berdiri dan meninggalkannya sendiri.
"Dasar laki-laki bedebah. Lihat saja aku akan membuat kamu mencintaiku lagi mas, dan ku buat kamu bertekuk lutut padaku." Dalam hati Ana berjanji jika akan membuat Fahri kembali mencintainya dan mengemis cintanya lagi.
Merasa sakit di acuhkan, Ana melempar buku-buku yang tertumpuk di meja.
"Sial," umpat Ana. Lalu ia ikut berdiri dan berniat mengambil tas untuk keluar rumah. Meninggalkan orang-orang yang tak penting untuknya karena sekarang yang dibutuhkan, adalah sebuah ketenangan.
Sedangkan di ruang kerja.
Sesungguhnya Fahri tidak tega melihat sang mama yang terlihat sangat kecewa, karena satu permintaan yang tidak bisa ia turuti.
"Ma, Fahri minta maaf karena tidak bisa menuruti permintaan mama yang satu ini. Bukan Fahri menolak, hanya saja semua itu tidak bisa aku lakukan." Fahri bergumam seraya menatap foto sang mama yang yang berada di tembok.
Selama tiga tahun. Fahri melakukan hubungan suami istri bisa terhitung oleh jari-jarinya.
__ADS_1
Saat keadaan Ana sadar maka saat itulah Fahri tidak akan mendapat haknya, dan sampai kapanpun istrinya tidak akan memberikannya. Yah, hanya saat Ana mabuklah dan itu pun bukan Fahri yang memulai lebih dulu, tapi Ana yang memintanya. Kebiasaan buruk Ana tak bisa di cegah yang suka mabuk dan ke diskotik. Dimana para wanita dan pria mencari kesenangan. Bukan Fahri tidak bisa mencegah, hanya saja dirinya sudah lelah kerap dipermalukan di depan umum.
Pada saat iman Fahri lemah, karena ia sadar yang hanya seorang manusia biasa, dan disitulah keduanya melakukan hubungan suami istri. Untuk pertama kalinya Fahri tidak menyangka jika Ana, istri yang sudah dinikahinya selama tiga tahun itu sudah tidak perawan lagi.
Fahri mencoba ikhlas dengan kenyataan yang ia terima. Mencintai istrinya apapun keadaannya, berharap bisa berubah, namun kenyataannya ia salah besar. Sampai di sini Fahri mengerti jika istrinya tidak butuh dirinya yang ia butuhkan hanya kesenangan, ditambah jika Ana bukanlah wanita baik-baik seperti yang dulu pernah ia jumpai saat pertama kalinya.
Fahri menghembuskan nafas kasarnya saat menerima kenyataan yang tidak seberuntung karirnya.
"Apa yang dikatakan Delon itu benar. Bahwa aku hanya terbawa oleh janji yang semakin membuat hidupku hancur," ucap Fari dalam hati karena beberapa kali temannya menasehatinya, namun tidak satupun yang ia terima.
Akan tetapi, untuk saat ini ia mencoba menerima saran dari Delon untuk tetap berhati-hati karena bisa saja ia termakan jebakan Ana.
...----------------...
Di sisi lain, Ana yang berada di jalan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tercintanya. Ia muak berada di rumah, maka dari itu tubuhnya perlu ketenangan dan itu hanya bisa didapatkan dari Leo.
Yah, tadi Ana pergi tanpa pamit dengan siapapun karena tidak mau mendapatkan pertanyaan yang membuatnya kesal. Jadi, ia memutuskan keluar dengan diam-diam.
"Aku harus bisa membuat suamiku jatuh cinta lagi, tapi sepertinya itu akan sedikit sulit karena mas Fahri sudah terlanjur marah padaku." Ana yang saat ini berada di mobil layaknya orang gila yang terus berbicara sendiri, karena dirinya merasa lelah harus bersandiwara terus.
"Sabar Ana, sabar. Sebentar lagi kamu akan mendapat apa yang kamu mau, tanpa harus susah seperti dulu." Dengan senyuman yang tak biasa. Ana berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan jatuh ke tangannya setelah ini.
Tidak berapa lama kemudian, sampailah Ana di depan rumah Leo. Ada yang aneh saat melihat mobil yang terparkir di pelataran rumahnya, namun Ana mencoba untuk tidak peduli. Mungkin saja itu mobil orang parkir pikirnya.
Ana langsung masuk ke dalam rumah dan langsung membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek.
"Leo! apa yang kamu lakukan."