
"Tenang saja, aku tidak apa-apa." Jawab Yuni dengan perasaan lega, karena pada akhirnya ia bisa mengusir perempuan benalu itu.
"Aku salut denganmu, karena kamu sungguh berani untuk menghadapi perempuan itu. Setidaknya dia sudah merasakan malu saat akan ingin membuat kamu malu," ungkap Sintia yang tidak menyangka bahwa Yuni sangat berani.
"Iya kamu betul, itu namanya senjata makan tuan." Yuni menimpali lalu tertawa.
Sedangkan para pengunjung menatap penuh dengan kebanggaan, karena merasa Yuni telah melakukan hal yang tidak ada, unsur pelakor.
"Sebaiknya kita menemui pak Danu, dan kamu ikut aku ya. Sin," pinta Yuni pada Alea agar mau menemaninya, bertemu dengan Danu.
"Itukan urusan kamu sama pria itu, Yun. Mengapa juga harus aku juga yang kamu bawa," kata Sintia yang sejujurnya tidak mau menemaninya, dan menolak secara halus.
"Tolonglah, sekali ini saja. Mau ya, sebentar kok gak lama." Ucapan Yuni terdengar memelas, membuat Sintia menghela nafas. Rasa tak tega dan pada akhirnya luluh juga.
"Baiklah, untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya aku menemanimu." Dengan hati yang senang. Yuni bersorak gembira, lalu memeluk Sintia sebagai tanda terimakasih.
Keduanya sudah keluar dari kedai, dan sekarang mereka akan menemui Danu yang berada di restoran miliknya, yah daripada harus ke tempat lain. Danu ingin membicarakan sesuatu hal pada Yuni, di restoran dan itu juga akan lebih memudahkan mengobrol dengan sesuka hati.
__ADS_1
"Yun, ini kita ke sini dan bertemu dengan pria menyebalkan di sini juga?" Sintia yang tidak mengetahui jika tempat yang dipijaknya saat ini. Adalah milik Danu, yang diketahui oleh wanita itu hanyalah sebuah kafe, yang ia tahu dan untuk yang lain. Sintia sama sekali tidak tahu pekerjaan apa yang digeluti oleh pria menyebalkan itu.
"Iya, kita akan bertemu di sini, dan ingat! Jangan membuat keributan dengan pak Danu." Yuni terpaksa mengancam Sintia karena tanpa diduga mereka akan saling serang, dan ujung-ujungnya akan bertengkar.
"Iya bawel, aku tidak akan membuat onar. Kalau tidak khilaf," ujar Sintia pada Yuni dengan keadaan wajah di tekuk layaknya kardus.
"Cih, menyebalkan."
Jika keduanya sedang membicarakan soal rencana selanjutnya. Berbeda dengan keadaan Fahri saat ini.
Di kediaman yang lumayan megah. Fahri duduk seorang diri di kolam.
Namun, sebelum itu Fahri berencana untuk mengunjungi keluarga Ana di kampung, untuk memastikan jika semuanya akan baik-baik saja.
Dan kali ini dirinya tidak akan melibatkan Danu lagi, karena Fahri ingin menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa membawa orang lain.
Saat Fahri tengah menatap air yang terlihat masih jernih itu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang bergelayut manja, dan itu membuatnya sangat risih.
__ADS_1
"Mas, apa kamu tidak merindukanku." Yah, itu adalah suara Ana, Ana membisikkan akan-kata yang sangat menjijikan bagi Fahri, dan bisa-bisanya wanita itu menggodanya tanpa punya rasa malu.
"Lepaskan, dan menjauh dariku!" sentak Fahri pada Ana hingga membuat wanita itu langsung melepaskan tangannya.
"Kenapa kamu selalu dingin. Ingat, kita sebentar lagi akan punya anak…."
"Itu anak kamu bukan anakku, jadi tidak ada kaitannya denganku. Paham!"
"Tapi kamu papa nya, jangan bilang kalau kamu tidak mengakui anak yang ada di dalam rahimku. Kamu tega Mas, tega."
"Aku akan pergi keluar kota besok, jadi jangan coba-coba untuk mengganggu." Suara tegas milik Fahri, membuat Ana berangsur mundur. Itu karena ia tak ingin membuat Fahri semakin menjauhinya, karena, itu bisa merusak emosinya yang ia sudah tak bisa lagi untuk menahannya.
"Baik, kali ini aku mengalah. Namun,suatu hari kelak kamu akan mengemis cinta lagi padaku." Sembari berjalan menjauh. Ana tersenyum licik hanya untuk sebuah kekalahannya, karena meski Fahri mengusirnya sekalipun, Ana tidak akan tersingkirkan.
Melihat Ana yang sudah pergi Fahri juga ikut pergi, karena ia harus bersih-bersih untuk menjalankan sholat magrib.
Pukul tujuh malam. Fahri yang merasa lapar, memilih keluar dan akan mencari makanan yang di jajakan.
__ADS_1
"Mas Fari, Mas mau ke mana?" Ana yang melihat Fahri, buru-buru menghentikannya.