Cinta Istriku Bukan Untukku

Cinta Istriku Bukan Untukku
17. KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Hanya untuk memastikan, dan sekarang jangan banyak tanya cepat berdiri dan kita akan segera ke dokter Figo." Fahri pun langsung menyuruh Danu untuk segera berdiri dari tempat duduknya.


Dengan rasa dongkol, akhirnya Danuarta pun berdiri dan mengikuti langkah Fahri. Meski begitu ia tetap akan ikut ke mana Fahri membawanya.


Ia tahu betul dokter Figo itu siapa. Pasalnya dulu mereka adalah teman sekampus. Hanya saja mereka tidak terlalu akrab dan hanya sesekali saja bertegur sapa.


Akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil, dan sudah bersiap untuk ke rumah sakit dimana dokter Figo praktek.


Di dalam mobil, sesekali Danu menatap ke arah Fahri yang sedang menyetir. Berharap jika Fahri mengatakan sesuatu kepadanya.


Merasa dipandangi terus menerus. Fahri lantas menoleh ke arah Danu karena merasa risih.


"Apa kamu sedang menyukaiku, tapi maaf aku masih laki-laki tulen." Fahri melirik dan berkata pada Danu karena merasa tatapannya sungguh aneh.


"Apa menurutmu aku sudah tidak waras dan tidak laku, terus diam-diam suka sama kamu. Dasar otak brengsek!" umpat Danu.


"Lantas kenapa kamu menatapku seperti itu. Terlihat sangat menjijikkan," kata Fahri.


"Kamu belum mengatakan kenapa kamu ingin menemui dokter sialan itu?" tanya Danu. Fahri tahu jika antara Danu dan Figo sedang tidak akur.


"Apa itu panting untukmu?"


"Tidak juga."


"Maka dari itu diam lah anak tampan."


"Cih, menyebalkan."


Setelah cukup lama mereka berdua adu mulut di dalam mobil. Akhirnya sampai juga di rumah sakit, dimana Figo bekerja.


"Sus, saya ingin bertemu dengan dokter Figo." Fahri pun langsung mengenali sosok Fahri dan tersenyum ramah.


"Tunggu ya Pak, saya akan melihat dokter di dalam." Jawab suster tersebut, dan setelahnya. Wanita itu pergi dan menuju ke ruang dokter Figo berada.


Tok.


Tok.


"Permisi, Dokter. Ada pak Fahri di luar," panggil suster itu pada dokter Figo.


Ceklek.


"Suruh masuk saja, Sus." Dokter Figo langsung keluar dan menyuruh suster itu untuk memanggil Fahri.

__ADS_1


"Baik, Dok."


Setelah mendapat izin, Fahri dan Danu pun langsung berjalan masuk. Saat suster memintanya langsung menuju dimana dokter Figo berada.


Sesampainya di dalam.


"Fahri. Apa kabar kamu?" tanya dokter Figo dengan balutan seragam kebesarannya.


"Lumayan buruk." Jawab Fahri tanpa ekspresi.


"Ada masalah lagi? Apa yang sudah diperbuat oleh istrimu itu?"


"Jangan bahas dia, karena itu akan merusak momen kita." Fahri mendengus kesal karena baru saja datang, tapi sudah disuguhkan dengan nama yang tidak ingin ia dengar.


"Maaf, lalu siapa yang kau ajak itu. Sepertinya aku baru kali ini melihatnya?" Figo menatap Danu, tapi ia mengajak Fahri berbicara.


"Apa kau amesia sampai tidak mengenali," sungut Danu melirik sekilas dengan tatapan sinis pada Figo.


"Maaf aku sedikit melupakanmu, karena aku tidak terlalu ingat denganmu." Sepertinya akan ada perang dingin antara Figo dan Danu, dan itu membuat Fahri jengah pada kedua makhluk yang teramat menyebalkan.


Melihat perdebatan mereka mengharuskan Fahri sedikit memberi peringatan pada teman-temannya yang tidak pernah akur.


"Berhenti!" sentak Fahri yang mulai geram.


Sedetik kemudian.


"Cucunguk itu dulu yang membuatku kesal," kata Danu membela diri.


"Hye, siapa yang kau bilang cucunguk itu. Apa kau lupa siapa nama panggilanmu di SD, dulu." Figo pun tidak terima dan menyerang balik Danu.


"Astaghfirullah." Fahri terus mengelus dada karena melihat pertengkaran antara Figo dan Danu lagi.


"Jika kalian terus berantem. Kapan aku harus menyelesaikan masalahku sendiri. Kalau kalian terus bersikap kekanak-kanakan!" Fahri tidak tahu lagi caranya agar keduanya bisa akur. Ia pikir dengan mengajaknya ke rumah sakit akan ikut menemaninya konsultasi. Akan tetapi, justru malah membuat kepalanya makin berdenyut.


Untuk kedua kalinya. Fahri berucap dengan nada tinggi, karena ia benar-benar kesal pada para temannya itu.


"Bisa tidak kalian akur sehari saja, dan tidak membuatku semakin gila hanya karena tingkah kalian!" seru Fahri karena ia benar-benar muak melihatnya.


Danu dan Figo diam. Untuk saat ini keduanya tidak mau melanjutkan perdebatan lagi, karena mereka tahu kalau Fahri sedang mempunyai begitu banyak masalah.


"Apa yang membawamu ke sini?" sedetik kemudian. Figo menepuk pundak Fahri dan langsung bertanya kedatangannya untuk menemuinya.


"Ini soal kebiri kimia. Apa obat yang kamu berikan masih bisa membuat barangku bernyawa," kata Fahri dan saat ia bertanya tak ada rasa malu meski di sampingnya ada Danu.

__ADS_1


"Selama kamu rutin mengeceknya tidak akan ada masalah. Memangnya kau ingin tahap pemulihan? Makanya menemuiku di sini," kata dokter Figo pada Fahri


Sedangkan wajah kebingungan kian menghiasi tampang Danu. Yang tidak mengerti akan percakapan antara dokter dan pasiennya.


"Tidak, sampai aku menemukan seseorang yang tepat." Jawab Fahri datar.


"Lantas kenapa kau kemari?" tanya dokter Figo.


"Hanya memastikan," kata Fahri datar.


"Kalau obat itu sudah tidak diberikan dan dirimu mulai tahap pemulihan. Maka tidak membutuhkan waktu lama. Barangmu senjatamu akan terangsang jika bertemu wanita yang bohay," ujar Figo dengan seulas tawa yang menghiasi ruangan.


"Dasar otak mesum," gerutu Fahri.


"Sekarang giliran aku yang bertanya pada kalian, apa yang kalian sembunyikan dariku. Bisa jelaskan?" Danu menatap satu persatu wajah dokter Figo dan Fahri.


"Aku sengaja menyuruh teman Figo untuk memberikanku suntikan, yang membuat barangku bangun. Meski Ana sekalipun menggodaku," jelas Fahri.


Gluk.


Danu menelan ludah dengan kasar, ternyata Fahri sudah melindungi dirinya sendiri dari perempuan licik itu, dan itu bertanda bahwa Ana sekalipun menjebak Fahri tidak akan bisa.


"Ada apa dengan wajahmu itu? Seperti orang yang sedang menahan kentut saja," kata dokter Figo saat melihat wajah Danu sedikit kemerahan.


"Dokter sialan," umpat Danu.


"Ada lagi masalah, jika ada aku akan mempertemukan dirimu dengan dokter yang menanganimu?" kata dokter Figo yang berbicara pada Fahri.


"Tidak perlu, terimakasih. Maaf mengganggumu," ujar Fahri sedikit lega akan penjelasan dari teman lamanya itu.


"Its oke. Jika butuh apa-apa segera hubungi nomorku," ucap dokter Figo.


"Pasti. Kalau begitu aku dan Danu keluar dulu," pamit Fahri pada temannya.


Setelah berpamitan pada dokter Figo. Fahri dan Danu keluar dari parkiran, namun tanpa sadar pada Fahri ingin masuk ke dalam mobil. Ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenali, bahkan lebih dari itu.


Terlihat seseorang tengah seseorang tengah bergandengan tangan. Dengan amat mesranya seperti layaknya suami istri.


Terlihat Fahri ingin menemuinya namun tiba-tiba Danu mencengkram tangan Fahri dan menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa Fahri tidak boleh menemui wanita itu.


Brakh.


Untuk melampiaskan amarahnya. Fahri memukul mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2