
"Lah Cin, kapan lo datang?" tanya Dimas yang melihat Cindy menggandeng lengan Erza.
"Barusan" jawab Cindy singkat. sedangkan Erza berusaha melepaskan tangan Cindy dari lengannya.
-----
"Ayok Dim kita berangkat" ajak Erza setelah melepaskan gandengan cindy, Dimas pun bangkit dari sofa tempat duduk nya.
"Iih kok gwe dicuekin sih" gumam Cindy dalam hati yang melihat sikap Erza seolah olah menganggap dia tidak ada di sampingnya.
Cindy pun berlari mengejar Erza hingga ke mobil Dimas. Erza pun memasukkan barang barangnya dalam bagasi mobil Dimas.
"Dimas" panggil Cindy, Dimas yang di panggil pun menoleh ke arah Cindy.
"Lo sama Erza mau kemana?" tanya Cindy yang saat sudah di samping Dimas. sedangkan Erza sudah berada di dalam mobil Dimas.
"Puncak" jawab Dimas singkat, dan menutup bagasi mobil nya dan menyusul Erza yang sudah berada di dalam mobil.
"Waah puncak aku ikut dong" Cindy berlari ke arah samping Erza, namun Erza tetap bersikap seolah olah tidak ada siapa pun disana kecuali dia dan Dimas.
"Ih sayang kok aku di cuekin sii" Cindy memanyunkan bibir nya karna tak mendapatkan respon dari Erza.
"Zaa" panggil Cindy dengan suara yang sedikit keras membuat Erza menatapnya.
"Apa?" tanya Erza dan kembali menatap ke arah depan.
"Gwe ikut ke puncak" kata Cindy yang sudah tidak tahan karna Erza terus mengabaikannya.
"Gak usah" jawab Erza dingin.
"Gak, pokok gwe ikut" Cindy pun memaksa masuk ke dalam mobil Dimas dan duduk di kursi ke dua belakang Erza.
"Cin, kita itu mau ke puncak" kata Dimas yang sudah tidak nyaman dengan sikap Cindy.
"Iya gwe tau" ucap Cindy yang kekeh ingin ikut.
__ADS_1
"Cuekin aja Dim" ucap Erza pada Dimas.
"Tapi Za, nanti kalau dia di cariin nyokap bokap nya gimana? udah dia gak bawa pakaian ganti lagi" gerutu Dimas yang mulai malas merespon Cindy dengan sifat agresif yang dimiliki Cindy.
Sedangkan Cindy sedang asik memainkan handphone nya.
"Cin, nanti lo dicariin bokap nyokap lo, trus lo kepuncak gak bawa baju ganti, kita disana lumayan lama loh" ucap Dimas agar Cindy mengurungkan niatnya untuk ikut.
"Bokap nyokap gwe lagi ke kuar negri, ngurusin perusahaannya, kalau masalah baju ganti nanti lo mampir ke rumah gwe buat ambil baju gwe ya" pinta Cindy pada Dimas.
"Aduuh nyusahin aja" gerutu Dimas, namun ahirnya Dimas pun menyerah, karna Dimas memang mengetahui sikap Cindy yang memang apa yang dia inginkan harus di turuti. Jadi percuma saja jika Dimas berusaha untuk membuat seribu alasan.
Dimas pun melajukan mobilnya menuju puncak.
Sedangkan kini Delia dkk berada di tengah tengah kebun teh, karna masih pagi tepat nya jam 9:00 maka udara masih terasa dingin karna alam nya yang alami, mereka ikut memetik daun teh. Mereka pun ikut belajar bagaimana proses daun teh menjadi teh dalam kemasan, hingga mereka mengerti.
Setelah pukul tiga sore Delia dan kawan kawan nya pun kembali ke Villa karna mereka merasakan badan mereka yang gerah akibat panas nya matahari saat matahari mulai naik.
(1 jam kemudian)
....Tiiit...tiiittt...
"Iya Den ada yang bisa akang bantu?" ucap kang Darmo saar melihat Dimas membuka kaca mobil nya.
"Pak bener gak ini Villa handoko pratmadja?" Ucap Dimas sopan pada kang Darmo
"Iya den bener, mohon maaf den, aden aden ini siapa ya?" tanya kang Darmo.
"Oh kami teman nya Rio pak, apa bener disini ada cowok yang bernama Rio pak?" tanya Dimas.
"Oh den Rio, iya ada disini den, dan panggil saja saya Kang Darmo den, karna saya biasa di panggil kang Darmo" Kang Darmo memperkenalkan dirinya.
"Oh iya pak, eh kang maksudnya" ucap Dimas.
Kang Darmo pun mempersilahkan mobil Dimas masuk karna sebelum nya Rio pun memberitahukan pada Kang Darmo bahwa ada teman nya akan ke Villa yang tentunya dengan ijin Mia juga.
__ADS_1
Kang Darmo mempersilahkan Dimas, Erza dan juga Cindy menunggu di ruang tamu dan memanggil istrinya Bi Sri untuk membuatkan mereka minum.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit Rio pun keluar dari kamarnya menemui ke tiga teman nya. Rio terkejut melihat Cindy yang duduk di samping Erza.
"Hay Dim, Za, Cin" sapa Rio pada mereka.
"Hay juga, lah temen temen lo mana?" tanya Dimas yang melihat Rio seorang diri.
"Oh paling mereka lagi istirahat, karna kita juga baru kembali setelah menjelajahi kebun teh hehe" Jelas Rio dan duduk di samping Dimas.
Rio tiba tiba bangkit dari duduknya dan menarik tangan Rio agar Rio mengikutinya
"Ikut gwe" Rio membawa Dimas jauh dari mereka.
"Kenapa sih Yo, lo main tarek tarek aja" protes Dimas.
"Kan gwe suruh lo ajak Erza sama Anggra, kenapa lo ajak Cindy, Anggra nya mana" tanya Rio mengintimidasi Dimas.
"Anggra gak bisa ikut, katanya ada acara keluarganya di luar kota" jelas Dimas
"Trus kalau Anggra kagak ikut bukan berarti lo ajak Cindy pe'a" ucap Rio kesal.
"Nah gwe mana tahu kalau Cindy bakalan ikut" jawab Dimas
"Kakau lo kagak tau Cindy ikut trus tadi Cindy kesini pake apa? sama siapa hah?" Rio makin kesal mendengar jawaban Dimas
"Ya sama gwe sih, tapi gini ya tadi kan pas gwe di runah Erza dan pas mau berangkat tiba tiba Cindy datang dan langsung mau ikut aja, padahal gwe udah minta dia buat kagak ikut tapi dia kekeh mau ikut juga, lo sendiri juga tau kan kalau Cindy itu kalau punya kemauan gak bisa di tolak" jelas dimas pada Rio agar Rio tidak menyalahkan Dimas sepenuhnya.
"Eh bentar bentar, tumben lo ngomong panjang lebar, biasanya juga cuman sepatah dua patah kata" goda Rio saat mendengar penjelasan dari Dimas.
"Au ah" ucap Dimas singkat dan kembali ke tempat Erza dan Cindy duduk.
Setelah tiga puluh menit Erza, Rio dan Dimas bercanda namun tidak dengan Cindy, Cindy terlihat cuek cuek saja saat melihat tiga orang pria di hadapan nya tertawa.
Kekey yang sengaja turun dari kamar untuk menuju dapur tak sengaja melihat Erza di ruang tamu sedang asik bercanda, sontak Key melihat Cindy menggenggam tangan Erza. Kekey pun kembali ke kamar dan mengurungkan niatnya untuk ke dapur.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆
Tinggal kan jejak kalian di komentar, like dan beri rate 5. Vote poin or koin seikhlasnya agar author semakin bersemangat untuk berkarya